tradisi 'rabo-rabo' merayakan Natal di Jakarta. (ft/ist)
tradisi 'rabo-rabo' merayakan Natal di Jakarta. (ft/ist)
Topik Populer
#Gempa Palu

KORANSERUYA.COM–Setiap tanggal 25 Desember, Umat Nasrani di seluruh penjuru dunia merayakannya sebagai hari raya besar mereka, yakni Natal. Perayaan Natal di setiap daerah dan negara mempunyai cara tersendiri.

Perayaan Natal di Indonesia tentunya berbeda dengan perayaan Natal di wilayah Amerika dan Eropa yang notabenenya bersalju. Meski begitu, Nusantara yang kaya akan berbagai macam budaya dan ragam tradisi juga mempunyai keunikan yang anti mainstream dan tak kalah menarik.

Bukan sekedar pohon terang berhias saja, atau pohon Natal dari kain batik, beberapa daerah di Indonesia ini memiliki adat istiadatnya masing-masing yang identik dengan ciri khas atau keunikan daerah tempat mereka tinggal. Lain padang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.

Beragam perayaan Natal yang diadakan dengan unik di wilayah Nusantara bukan sekedar kegiatan berkeagamaan saja, melainkan sebuah proses akulturasi — di mana proses sosial timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu kemudian lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Dikutip KORAN SeruYA dari inovasee.com, berikut 7 perayaan Natal yang unik di Indonesia:

1. Wayang Kulit, Yogyakarta

Yogyakarta dikenal sebagai kota gudeg, kota pelajar, kota pariwisata, kota museum dan kota budaya. Tak heran jika perayaan Natal pun diwarnai dengan upacara adat yang sarat nilai budaya. Saat misa Natal, para pastor dan pendeta akan mengenakan pakaian adat khas Yogyakarta yang terdiri dari beskap dan blangkon. Khotbahnya pun diceramahkan dalam bahasa Jawa halus.

Selain keunikan dari segi pakaian dan bahasa, Natal di daerah Yogyakarta juga dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit bertajuk “Kelahiran Kristus”. Setelahnya, menyerupai nuansa Lebaran, tradisi mengunjungi sanak saudara dan kerabat juga menjadi kebiasaan umat Nasrani di Yogyakarta. Tak jarang, anak-anak pulang dibekali angpau.

2. Potong Kurban “Marbinda”

Masyarakat Batak di Sumatera Utara melakukan tradisi “potong kurban” yang dinamakan “Marbinda”. Warga menyembelih ternak mereka bersama-sama untuk merayakan Natal. Hewan didapatkan dri hasil menabung gotong-royong. Jika uang yang terkumpul cukup besar, sapi dan kerbau dapat dibeli. Jika tidak, mereka mencukupkan diri dengan memotong babi.

Masyarakat Batak di Sumatera Utara melakukan tradisi “potong kurban” yang dinamakan “Marbinda”.
Masyarakat Batak di Sumatera Utara melakukan tradisi “potong kurban” yang dinamakan “Marbinda”.

Setelah itu dilakukan “Marhobas”, yakni acara membagi-bagikan daging hewan yang sudah disembelih tersebut.

3. Pra-Natal dan “Kunci Taon”

Di Manado, perayaan pra-Natal sudah dimulai sejak awal Desember hingga hari H. Selama masa itu, para pejabat Pemda melakukan Safari Natal, mengikuti kegiatan ibadah di tempat-tempat keramat yang berbeda. Sedangkan warga lebih sering melakukan pawai keliling kota, selain mengunjungi makam keluarga, membersihkan dan menghiasinya dengan lampu-lampu.

Perayaan ditutup di minggu pertama Januari tahun baru. “Kunci Taon” dilakukan dengan mengarak-arak keliling kota mengenakan berbagai kostum lucu bersama-sama.

4. Toraja, “Lovely December” Dan “Lettoan”

Setiap Natal, Pemda Toraja mengadakan festival budaya dan pariwisata bernama “Lovely December”. Festival ini dibuka awal Desember dengan pemotongan kerbau belang, berakhir tanggal 26 Desember dengan arak-arakan yang disebut “Lettoan”.

Setiap Natal, Pemda Toraja mengadakan festival budaya dan pariwisata bernama “Lovely December”. Festival ini dibuka awal Desember dengan pemotongan kerbau belang, berakhir tanggal 26 Desember dengan arak-arakan yang disebut “Lettoan”.
Setiap Natal, Pemda Toraja mengadakan festival budaya dan pariwisata bernama “Lovely December”. Festival ini dibuka awal Desember dengan pemotongan kerbau belang, berakhir tanggal 26 Desember dengan arak-arakan yang disebut “Lettoan”.

Bukan hanya untuk penganut Kristen, “Lovely December” terbuka untuk umum. Oleh karena itu, momen ini kerap dimanfaatkan para perantau untuk membaur. Para pengunjung dapat menikmati karnaval, bazaar Natal, kontes kerbau, aneka acara adat, pentas seni, pameran kerajinan tangan, dan kuliner di festival ini. Masyarakat Toraja pun menghias rumah, kantor, dan gereja.

5. Sirine Malam Natal

Di Ambon, Natal identik dengan bunyi sirine kapal dan lonceng gereja yang dibunyikan serentak pada tengah malam 24 Desember. Momen ini juga identik dengan pertemuan keluarga besar dan pesta kembang api.

6. Barapen

Warga Papua mempunyai tradisi “Barapen” atau bakar batu, yakni suatu ritual kuliner lokal untuk mengolah babi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan kebahagiaan Natal. Selain itu, banyak tempat yang dihias dengan dekorasi bertemakan kelahiran Yesus. Di berbagai tempat, lagu-lagu Natal diputar selama 24 jam penuh.

Warga Papua mempunyai tradisi “Barapen” atau bakar batu, yakni suatu ritual kuliner lokal untuk mengolah babi
Warga Papua mempunyai tradisi “Barapen” atau bakar batu, yakni suatu ritual kuliner lokal untuk mengolah babi

7. “Rabo-rabo”

Salah satu kawasan ujung utara Jakarta mempunyai cara unik merayakan Natal. Kampung Tugu di Cilincing Jakarta Utara ini konon meneruskan tradisi yang dulunya dilakukan para pendahulunya, orang Portugis. Seusai ibadat di gereja dan berziarah ke makam orang-orang terkasih, beberapa orang akan mengunjungi rumah orang lainnya dengan diiringi musik tradisional.

tradisi 'rabo-rabo' merayakan Natal di Jakarta. (ft/ist)
tradisi ‘rabo-rabo’ merayakan Natal di Jakarta. (ft/ist)

Keluarga yang dikunjungi wajib ikut masuk ke rombongan untuk kemudian mengunjungi rumah-rumah berikutnya sampai rumah terakhir sebagai bentuk silaturahmi. Di penghujung acara setiap orang akan bermandikan bedak warna-warni sebagai simbol “Penebusan Dosa dan Saling Memaafkan” di penghujung tahun yang akan berlalu.

Tradisi yang sekilas mirip dengan suasana mohon-maaf-lahir-batin-nya Idul Fitri ini dinamakan “Rabo-rabo”, yang masih dilestarikan hingga kini.

8. “Ngejot” Dan “Penjor”

Pulau Dewata memang penuh daya tarik. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Hindu namun toleransi beragama di Bali sangat luar biasa.

Cara merayakan Natal di Bali terkenal dengan sebutan “Ngejot” yaitu memberikan bingkisan kepada para tetangga terutama yang bukan Kristiani. Bingkisan itu berupa makanan khas tradisional masyarakat Bali seperti lawar dan sate babi (tentunya untuk tetangga yang Muslim dipilihkan makanan yang halal). Tradisi “Ngejot” awalnya dilakukan oleh umat Hindu dalam Hari Raya Galungan.

“Penjor” yang merupakan hiasan janur kuning, yang biasa ada dalam perayaan agama Hindu, juga akan menghiasi gereja serta rumah-rumah di Bali. Dan saat merayakan Natal di gereja, para jemaat akan menggunakan pakaian adat Bali berwarna hitam putih. (*/cbd)