Rosna (kiri) ibu dari dua ABK asal Luwu yang dikabarkan hilang di Perairan Selat Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Topik Populer
#Gempa Palu

KORANSERUYA.COM — Sebanyak dua Anak Buah Kapal (ABK) asal Desa Tanarigella, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu dikabarkan hilang dalam pelayaran di Perairan Selat Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat sejak 14 Juli 2017 menuju pelabuhan tanjung priok, Jakarta.

Keduanya adalah saudara kandung, Anton Adnan dan Ciank Adnan. Keduanya bersama 6 kru lainnya menumpangi satu unit tugboat Mega Sukses VII, mereka masing-masing Damianus Tosuli, Efran Kuranden, Indra Gunawan, Mus Muliadi, Robyansyah dan Syamsu Marling. Syamsu dari kabar yang beredar juga berasal dari Kabupaten Luwu yang bertindak sebagai Kapten Kapal.

BACA JUGA :VIDEO : Simak 3 Makna Pin Kedatuan untuk IYL

” Anak saya bersaudara ini bernama Anton, adiknya bernama Ciank, keduanya satu kapal, yakni tagboat Mega Sukses VII asal Pontianak, Kalimantan Barat. Sejak tanggal 11 juli lalu hingga saat ini tidak ada kabarnya,” ujar, Rosna, orang tua kedua ABK tersebut saat ditemui awak media di kediamannya.

Rosna menceritakan, informasi hilangnya tagboat Mega Sukses VII setelah menerima kabar dari anak perempuannya yang tinggal di Pasang Kayu, Sulawesi Barat.

“Anak perempuan saya menelpon, katanya dia dihubungi via telpon oleh perusahaan tempat saudaranya bekerja, pihak perusahaan sampaikan jika kapal mereka dinyatakan hilang kontak,” cerita ibu lima anak ini.

“Terakhir saya bicara tanggal 11 juli, dia minta pamit untuk naik kapal, tapi itu katanya baru mau siap-siap, sejak itu tidak ada kontak, tidak seperti biasanya,” ujar Rosna.




Jika menghitung tanggal terakhit kedua anaknya memberi kabar pada 11 Juli, maka harusnya anak mereka sudah tiba di Jakarta 12 atau 13 juli. Namun sampai saat ini tidak ada kabar. Nomor kontak keduanya juga sudah tidak aktif.

Tidak terlalu banyak yang dicerita Rosna saat didatangi sejumlah awak media di salah satu rumah keluarganya di Kecamatan Bua. Karena sejak hilangnya anak mereka, pihak perusahaan baru memberikan kabar diatas, kabar terakhir mereka diminta bersiap-siap berangkat ke Pontianak untuk melihat atau mengikuti proses pencarian di perairan Pontianak hingga Jawa.

BACA JUGA :Sidak di RSUD Andi Djemma, Dewan Temukan Fasilitas tak Layak

“Baru-baru ini kami kembali ditelpon oleh pihak perusahaan, itu kali kedua, mereka minta kami siap-siap berangkat ke Pontianak, katanya ikut mencari dan memeriksa jika kemungkinan ada diantara ABK yang ditemukan,” ujarnya.

Rosna mengaku sempat mempertanyakan kabar terakhir anaknya, namun pihak perusahaan mengaku belum mendapat kabar keberadaan kapal mereka beserta para ABK nya. Ia berharap pemerintah ikut membantu pihak perusahaan melakukan pencarian para ABK yang hilang.

“Perasaan saya yakin jika anak saya masih hidup, saya berharap pemerintah ikut membantu pencarian yang dilakukan pihak perusahaan. Andaikan memang saya salah, saya ihklas dan berharap jenazah anak saya ditemukan dan dibawah pulang ke kampung kami,” ujarnya.

Bagaimana kondisi istri Anton Adnan ? Rosna menambahkan hingga saat ini istrinya masih syok berat dan masih menunggu kabar baik dari pihak perusahaan. Paling menyedihkan cerita Rosna, kedua anak Anton hampir setiap saat menelpon dirinya dan menanyakan kabar ayah mereka.

“Saya tidak tahan ketika kedua cucu saya bicara di HP dan tanyakan kapan dia bisa ketemu dan bicara sama ayah mereka, saya kadang langsung diam dan melepas HP saya karena tidak sanggup bicara,” ujarnya dengan nada sedih sambil menyeka air mata.

BACA JUGA :Pabrik Cipping Terbesar di Luwu Akhirnya Ditutup Permanen

Salah seorang teman kedua ABK tersebut, Imlihat Siodja bercerita, jika informasi yang diketahuinya, kapal tagboat Mega Sukses VII asal Pontianak berangkat tanpa membawa barang.

“Rencananya mereka menuju Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta untuk mengambil barang, informasi saya terima mereka berangkat 11 juli, namun sampai saat ini tidak ada kabar,” ujarnya.

Imlihat Siodja menyebutkan, temannya yakni Anton Adnan lahir pada tahun 1985. Dia memiliki seorang istri dan tinggal di Malangke, Kabupaten Luwu Utara dan memiliki dua orang anak masing-masing bernama Hasra duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) dan satunya lagi bernama IPA, duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD) di Malangke, Luwu Utara. Sementara Anton Ciank lahir pada tahun 1990 dan belum berkeluarga.

Camat Bua Tandi Radja, yang diminta tanggapannya sore tadi mengaku baru mengetahui ada warganya yang hilang, juga baru hendak mendatanginya malam ini dan segera melaporkannya ke Bupati.

“Nanti saya akan laporkan ke Bupati, saya baru rencana mau datangi,” ujarnya.

Terpisah, Humas Kantor SAR Pontianak, Untung Supriadi, menjelaskan, pihaknya baru mendapat laporan kehilangan tersebut pada Kamis 20 Juli 2017, pukul 17.30 WIB. Setelah menerima laporan, pihaknya memberangkatkan satu kapal tim penyelamat RB 214 guna mencari keberadaan tugboat tersebut.

BACA JUGA :Rabu, Tunjangan Sertifikasi Guru Palopo Cair

Tim menempuh perjalanan menuju lokasi terakhir hilangnya tugboat tersebut. Memakan waktu sekitar sebelas jam untuk mencapai lokasi,” kata Untung kepada awak media, Minggu (23/7) dinihari kemarin.

Lanjutnya, terakhir kali keberadaan tugboat itu termonitor pada koordinat 02 21. 44.S -10. 11 28.E. “Hari pertama, tim penyelamat RB 214 mulai menyisir pencarian hingga radius 10 nautical mil. Namun belum membuahkan hasil,” ujarnya.

Kemudian, pencarian diperluas menjadi empat titik dengan luas area pencarian mencapai 225 nautical mil. Namun, hingga petang pencarian hari kedua masih belum membuahkan hasil.

Melihat kondisi arus yang terus bergeser ke wilayah kerja Kantor SAR Pangkal Pinang, lanjut Untung, maka Kantor SAR Pangkal Pinang memberangkatkan satu kapal penyelamat RB 201 bergabung dengan RB 214 untuk melakukan pencarian bersama.

Saat pencarian hari ketiga, kata Untung, kondisi gelombang mencapai 1,5 – 2 meter. Hal tersebut membuat pencarian menjadi sedikit terhambat.

“Pencarian hari ketiga terpaksa dihentikan mengingat kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Pencarian akan dilanjutkan Minggu,” terangnya. (eca/asm)