MAKASSAR — Seruan menolak pembohong dan tukang korupsi memimpin Sulsel makin menggeliat dari berbagai elemen masyarakat, terutama dari kalangan aktivis di Sulawesi Selatan.

Kandidat yang piawai berbohong maupun yang hobi korupsi, dinilai tidak pantas dijadikan pemimpin. Sebab jangan sampai, rakyat terus menjadi korban jika diberikan amanah.

“Kalau seringkali ketahuan bohongnya, maka itu tidak cocok jadi pemimpin. Sangat bahaya jika menggampangkan sesuatu, baru belakangan ketika tersudut berusaha lepas tangan. Ini bukan tipikal pemimpin,” tegas Janwar Karim, aktivis mahasiswa sekaligus pengurus Badko HMI Sulselbar, Sabtu (19/5/2018).

Menurut dia, jika ada kandidat yang selalu berbeda pernyataan dan perbuatannya, maka sangat tidak pantas dijadikan pemimpin. Alasannya, tipikal seperti itu sangat mudah goyah pendiriannya.

“Orang Sulsel itu harus punya pemimpin yang tidak suka plin-plan dalam bersikap. Artinya yang dibutuhkan pemimpin taro ada, taro gau. Bukan lain di mulut, lain di perbuatan,” tambahnya.

Selain “tukang bohong”, yang tidak layak diberikan kesempatan adalah mereka yang hobi korupsi. Pasalnya, jangan sampai diberi kesempatan lagi, penyakit lamanya kambuh, sehingga merugikan rakyat.

“Kalau punya pengalaman korupsi, kita khawatirkan jika diberi kesempatan, penyakit lamanya kambuh. Ini yang mesti dijadikan pertimbangan,” terangnya.

Ia menaruh harapan, mereka yang piawai membohongi rakyat maupun melakukan korupsi, sepantasnya diberikan efek jera dengan cara tidak memberikan ruang, seperti di momen Pilkada.

“Kita imbau masyarakat agar tidak salah menentukan pilihan di Pilkada serentak. Jangan terbuai dengan janji dan pencitraan. Kita harus mempelajari rekam jejaknya,” pungkas Janwar yang juga pengurus KNPI Kota Makassar. (adn)