Muhammad Romario Basirung saat menerima piala.
Muhammad Romario Basirung saat menerima piala.

Koranseruya.com. Satu lagi putra Luwu yang berhasil meraih penghargaan bergengsi. Dia adalah Muhammad Romario Basirung yang meraih Penghargaan The Best Innovation, dalam ajang Youth Economic Leadership Program (YELP). Kegiatan yang digelar oleh Bank Indonesia Institue (BINS) ini, berlangsung di Bogor pada 7 hingga 9 Maret kemarin.

Basirung adalah alumni SMA Unggulan Kamanre. Bayo, sapaan akrabnya, lahir pada 13 Mei 1994 di Desa Parekaju Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Bayo lahir dari pasangan Daeng Pala dan Naharia. Kedua orang tuanya adalah petani. Selain kuliah di Universitas Negeri Makassar Mario juga kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Mario menjelaskan, dari seluruh Indonesia ada 1.053 peserta yang memasukkan karyanya. Mario sendiri memasukkan karya berjudul “e-APBDes” dan berhasil lolos di tahap pertama. Kemudian kembali dilakukan proses seleksi hingga akhirnya terdapat 40 yang terpilih. Hingga akhirnya, inovasi yang dibuatnya menang. Namun sebelumnya, ia mengikuti pelatihan presentasi rencana implementasi project

Fungsi e-APBDes sendiri kata sulung dari empat bersaudara ini, yakni memberikan kemudahaan mengelola transparasi pengelolaan dana desa. Dengan melalui media Short Message Service (SMS), masyarakat pedesaan dapat mengetahui informasi yang ada tanpa harus terkoneksi dengan internet.

” Kalau e-APBDes ini dapat menyalurkan informasi melalui sms gateway dan pengumuman melalui media offline yang memadai di Desa,” katanya. Menurut mahasiswa angkatan 2012 ini, apabila pemerintah desa telah mengetahui tentang traparansi pengelolaan dana maka masyarakat akan antusias terlibat.
” Perangkat desa juga akan dengan terbuka pada masukan masyarakat mengenai prioritas penggunaan anggaran di desa tersebut,” katanya. Proyek ini nantinya akan dimulai pada bulan Juli tahun 2017 di Desa Parekaju, Kec. Ponrang, Kab. Luwu sebagai Pilot Project Nasional.

Beberapa lomba yang pernah diikutinya antara lain finalis lomba Cipta Karya Mahasiswa teknik Informatika di Universitas Sriwijaya Palembang, finalis kompetisi kincir Angin Indonesia (KKAI) yang digelar Dirjen Dikri di Bantul, Jogjakarta 2014, finalis kompetisi muatan Roket dan Roket Indonesia (Komurindo) Dirjen Dikti Yokyakarta 2014.

Pada tahun yang sama, Bayo juga menjadi finalis LKTI Nasional Pinisi Marifest di Universitas Diponegoro (Undip) dip Semarang, kemudian menjadi finalis Lomba Essai Nasional Fisip ideas Matters Universitas Airlangga Surabaya 2014, Finalis lomba penelitian Transportasi Badan Penelitian Pengembangan Perhubungan, Kompetisi Robot Pemadam Api Indonesia, Kompetisi Muatan balon Atmosfer, Kompetisi Mobil Listrik Indonesia(KMLI) dan masih banyak lagi prestasi lainnya.

” Saya bisa mengunjungi hampir seluruh Universitas di Indonesia dengan lomba yang saya ikuti,” katanya. Prestasi yang paling membanggakan Bayo adalah terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia untuk United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) lembaga PBB dibidang pendidikan, sains dan kebudayaan tahun 2016 di Pilipina. Dia juga terpilih sebagai delegasi Indonesia pada ASEAN Youth Leadership Program di Universitas Kebangsaan Malaysia 2016. ASEAN Youth ini adalah pemuda prestasi di negara-negara ASEAN.

” Masih banyak lagi prestasi saya. Dengan hadiah yang saya terima dari beberapa lomba yang saya ikuti, saya bisa membelikan keluarga motor,” katanya. Salah satu yang menjadi cita-citanya yang belum kesampaian hingga saat ini adalah merakit pesawat sendiri. Makanya, dia mengaku memperbanyak mengikuti lomba dalam bidang Aerodinamika atau pesawat terbang. ” Saya ingin seperti idola saya yakni Habibie,” katanya. (adn)