Salah satu baliho seruan 'Ayo ke Masjid' milik Budi Kamrul Kasim yang terpasang di depan salah satu masjid di Kota Palopo.
Salah satu baliho seruan 'Ayo ke Masjid' milik Budi Kamrul Kasim yang terpasang di depan salah satu masjid di Kota Palopo.

Laporan : Muhammad Adnan, Palopo

BALIHO milik sejumlah bakal calon Wali Kota Palopo, sudah menghiasi daerah ini sejak beberapa bulan terakhir. Namun, ada satu yang cukup menggelitik. Baliho ini, milik Budi Kamrul Kasim, putra mantan Bupati Luwu, Kamrul Kasim.

Lelaki kelahiran Makassar 27 Juli 1986 ini, dikenal sebagai pengusaha sukses sekaligus pengacara di Makassar. Beberapa waktu lalu, Budi diberi penghargaan sebagai Pelopor Usaha Inovatif di Sulsel. Salah satu usahanya adalah layanan antar atau kurir di media sosial dengan nama @tanyabudi.

“Yang pertama order itu adalah teman yang minta dibelikan susu untuk anaknya. Satu kali pengantaran tarifnya Rp20 ribu,” kata Budi melalui sambungan telepon, Selasa (28/3/2017). Usahanya tersebut kini berkembang dan sudah merambah ke beberapa kota besar di seluruh Indonesia.

Kendati sudah sukses di Makassar, Wakil Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sulsel ini, tak lupa dengan kampung halamannya, Palopo. Sejak beberapa hari terakhir, balihonya berdiri tegak di berbagai titik strategis di kota Palopo. Termasuk di wilayah Luwu Raya lainnya.

Beda dengan baliho calon wali kota, Budi justru menyerukan kepada masyarakat untuk beramai-ramai ke masjid. Di baliho tersebut, tertulis ‘Ayo ke Masjid’.

Menurut Budi seruan tersebut diilhami oleh almarhum ayahnya, Kamrul Kasim, saat menjabat sebagai Bupati Luwu pada masanya. Ada tiga ajakan yang selalu disampaikan, yakni ramaikan masjid, ramaikan pasar dan ramaikan tempat olahraga.

“Salah satu ajakan itu yang ingin saya bumikan. Makanya, saya memasang baliho ‘Ayo ke Masjid’,” katanya.

Menurutnya, ceramah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengajak masyarakat memakmurkan masjid, butuh waktu dan tenaga ekstra. Makanya, dia menganggap lewat baliho, pesan yang ingin disampaikan bisa dengan mudah dipahami. Bersyukur kalau dilaksanakan. Seruan tersebut, bukan hanya kepada orang tua tetapi juga untuk remaja. “Biar kekinian, saya pasang baliho,” katanya.

Budi bercerita, sejak kecil dia kerap mengikuti ayahnya untuk melakukan kunjungan ke beberapa daerah. Saat itu, Luwu masih satu dengan ibukotanya, Palopo. Belum menjadi beberapa kabupaten seperti saat ini. Dia mengaku banyak belajar dan melihat bagaimana ayahnya berinteraksi dan mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Semuanya, masih terangkum jelas di memorinya hingga saat ini.

Selain di Palopo, Budi juga sudah memasang baliho yang sama di Luwu saat memasuki bulan puasa tahun 2016 silam. Saat ditanya apakah baliho tersebut ada hubungannya dengan momen pilkada saat ini? Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini mengaku untuk maju di pilkada Palopo, dirinya masih harus shalat istikharah guna menentukan sikap.

Namun, dia tak menampik sudah ada beberapa calon wali kota Palopo yang ingin mengajaknya untuk berpaket. ” Tetapi, ajakan tersebut belum saya iyakan,” katanya.

Tidak hanya itu, sejumlah perwakilan mahasiswa di Palopo juga sudah menemuinya. Intinya, mahasiswa tersebut mendorongnya untuk maju. Budi menyebut, restu dari keluarganya sudah dikantongi. “Istilahnya tinggal tekan tombol untuk menyatakan sikap maju atau tidak,” tandasnya. (*)