Para penyuluh di BKP3 Sabbang, Luwu Utara, mengikuti evaluasi, Selasa (18/10). Evaluasi ini dipimpin langsung Kepala BKP3 Lutra, Armiady. (ft/ist)
Para penyuluh di BKP3 Sabbang, Luwu Utara, mengikuti evaluasi, Selasa (18/10). Evaluasi ini dipimpin langsung Kepala BKP3 Lutra, Armiady. (ft/ist)

MASAMBA, SeruYA–Cara terbaik mengukur capaian kinerja seorang aparatur sipil negara (ASN) adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap abdi bangsa dan Negara tersebut. Itu juga yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Luwu Utara (Lutra), terhadap laskar pertaniannya di lapangan, dalam hal ini Penyuluh Pertanian.

Kepala BKP3 Lutra, Armiady, Selasa (18/10), memimpin langsung evaluasi kinerja penyuluh di Lutra. Evaluasi ini dilaksanakan di BP3K Kecamatan Sabbang, sebagai awal dimulainya evaluasi kinerja di 12 BP3K se-Lutra.

Sebelum dilakukan evaluasi terhadap seluruh PPL di Sabbang, Armiady terlebih dahulu memberikan motivasi tambahan, serta semangat untuk para PPL agar tidak pernah takut terhadap profesi yang mereka lekatkan di tubuh mereka. Karena itulah,
kata Armiady, cara terbaik untuk menjiwai profresi mulia tersebut sebagai PPL.

“Saya hadir di sini hanya ingin memberikan motivasi dan spirit agar sorotan negatif yang terkadang dialamatkan ke penyuluh bisa berubah menjadi sorotan positif, sehingga kita mendapatkan energi tambahan untuk bisa bekerja lebih giat lagi membantu petani di lapangan,” ujar Armiady di hadapan puluhan PPL Sabbang.

Dalam pengarahannya, mantan Kadis Pertanian Lutra ini juga menghimbau kepada seluruh PPL untuk selalu responsif terhadap setiap masalah yang terjadi di lapangan. Menurut Armiady, setiap masalah yang ada tidak boleh didiamkan, tetapi harus cepat tanggap untuk mencari solusi terbaik dengan seluruh pihak terkait, sehingga masalah tersebut ada jalan keluarnya.

“Saya juga meminta kepada seluruh PPL untuk selalu responsif. Kalau ada masalah di lapangan, segera tindaklanjuti, jangan didiamkan saja. Tolong jangan pelihara masalah. Kita harus responsif terhadap masalah yang ada,” terang Armiady.

Dalam evaluasi kinerja penyuluh di Sabbang, seluruh tim evaluasi yang jumlahnya 7 orang diturunkan sekaligus. Seperti sistem kerja seorang mahasiswa dalam ujian yudisium, satu-satu PPL diperhadapkan pada satu tim penilai dengan ruangan berbeda. Beberapa indikator penilaian evaluasi kinerja penyuluh yang dijadikan rujukan berhasil tidaknya seorang PPL melaksanakan tugasnya adalah PPL harus mempunyai Rencana Kerja Tahunan yang di dalamnya inklud dengan kelengkapan peta wilayah kerja, sketsa potensi desa, dan sketsa hamparan kelompok tani.

Selain rencana kerja, PPL juga harus mempunyai dokumen Programa Desa yang di dalamnya terdapat penjabaran hasil identifikasi potensi wilayah (IPW), dan draft pelaksanaan kegiatan penyuluhan serta permasalahan dan solusi mengatasi masalah yang merupakan hasil elaborasi dari IPW yang dilakukan.

Di samping itu, PPL harus mempunyai Monografi Desa yang di dalamnya ada penjelasan detail dalam bentuk grafik dan tabel tentang gambaran umum wilayah kerja, sumber daya manusia, jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian, serta gambaran potensi agroekosistem di wilayah kerjanya. Sebagai informasi, evaluasi yang dilakukan BKP3 adalah evaluasi terakhir, karena PPL pada 2017 mendatang tidak lagi berada di “pangkauan” BKP3, melainkan di “pangkuan” Dinas Pertanian. (satriani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − two =