Bupati dan Wakil Bupati Luwu Timur, HM Thoriq Husler dan Irwan Bachry Syam, Ketua DPRD Luwu Timur, Amran Syam, serta sejumlah pejabat terkait lainnya, saat melayat di rumah salah satu korban tewas disambar petir, di Desa Cendana Hitam, Kecamatan Tomuni Timur. (ft/ist)
Bupati dan Wakil Bupati Luwu Timur, HM Thoriq Husler dan Irwan Bachry Syam, Ketua DPRD Luwu Timur, Amran Syam, serta sejumlah pejabat terkait lainnya, saat melayat di rumah salah satu korban tewas disambar petir, di Desa Cendana Hitam, Kecamatan Tomuni Timur. (ft/ist)

LAPORAN: Jumadi, Luwu Timur

KORAN SeruYA–Bupati Luwu Timur, HM Thoriq Husler bersama wakilnya, Irwan Bachry Syam, berduka atas musibah yang dialami 11 warganya yang tersambar petir, apalagi 5 orang di antaranya tewas.

Usai menerima laporan dari stafnya soal tragedi tewasnya 5 warga disambar petir, Husler bersama Irwan, serta sejumlah pejabat terkait lainnya, dan Ketua DPRD Luwu Timur, Amran Syam, langsung meninjau lokasi dan menjenguk para korban yang dirawat di RS I Lagaligo Wotu. Tak hanya itu, Husler dan wakilnya melayat ke rumah para korban, meski sudah tengah malam, sekitar pukul 23:30 Wita, di Desa Cendana Hitam, Kecamatan Tomoni Timur, Senin (28/11/2016) malam lalu.

Rumah pertama yang didatangi, yakni Made Wibawa. Kepada keluarga korban, Thoriq Husler mengungkapkan bela sungkawa yang mendalam. Thoriq Husler berharap kejadian serupa tidak terulang lagi.

Kemudian, Thoriq Husler mendatangi kediaman Wayan Widyana yang letaknya tidak terlalu jauh dengan Made Wibawa. Pada tengah malam, Husler mendatangi semua keluarga yang menjadi korban petir.

Husler menyemangati seluruh keluarga korban, untuk tetap tabah dalam menghadapi cobaan ini. “Sabar ki. Ini semua cobaan. Ini faktor alam yang sulit untuk dihindari,” kata Bupati Lutim Thoriq Husler.

Tak hanya itu, Thoriq Husler juga mengingatkan agar warganya tidak memaksakan diri untuk bekerja hingga larut malam. “Ini kejadian yang sangat memilukan. Jangan memaksakan diri untuk panen jika hujan lebat,” kata Thorig Husler.

Thorig Husler menduga, hal ini juga dipicu oleh adanya kebiasaan warga Lutim melakukan penimbangan beras pada malam hari.

“Jika penimbangan dilakukan malam, maka petami akan mengumpulkan berasnya hingga malam hari. Ini harus dihentikan, kasihan rakyat kami,” kata Thorig Husler, dengan mata berkaca-kaca.

Diberitakan sebelumnya, 5 warga Desa Cendana Hitam, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, tewas setelah disambar petir, Senin (28/11/2016) sore, sekitar pukul 17.00 wita. Bukan hanya itu, 6 korban lainnya kritis dan dirawat secara intensif di RSUD I Lagaligo, Wotu. Aroma daging terbakar menyengat di sekitar rumah sakit milik Pemkab Lutim itu.

Mereka yang korban adalah I Wayan Sugi (35), I Wayan Suwat (25), I Putu Suanta (40), I Made Widawa (25) I Putu Wisna (37) semuanya warga Cendana Hitam.

Dari lima korban yang tewas itu, tiga diantaranya yakni meninggal di tempat. Adapun dua lainnya meninggal di rumah sakit. Korban yang selamat adalah Gede Suardika (30), Made Kiana (33), Ketut Windia (42), Nyoman Suastika (36), Made Letor (56) serta Putu Sudiarna (33). Seluruh korban adalah warga Bali, yang sudah lama menetap di Luwu Timur.

Kapolsek Mangkutana, AKP Muhammad Fadil, yang dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Dia menjelaskan, awalnya ke 11 warga tersebut sementara memanen padi di sawah miliknya. Setelah hujan deras turun mereka memilih untuk istirahat di salah satu gubuk di tengah sawah. Namun tiba-tiba petir menyambar gubuk tempatnya berlindung.

“Tiga korban tewas langsung di tempat. Dua lainnya di rumah sakit. Cuaca saat ini memang tidak bersahabat,” katanya saat dihubungi via ponselnya, tadi malam.

Fadil mengatakan, pihaknya tidak melakukan autopsi terhadap korban karena penyebabnya sudah diketahui. “Seluruh korban sudah diambil oleh keluarganya masing-masing,” katanya. Dia mengatakan, enam korban lainnya masih bisa diselamatkan karena warga cepat membawanya ke rumah sakit. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four + 10 =