Muhaddar bersama rekannya berfoto di Masjid Terapung kota Palu, beberapa saat sebelum gempa dan tsunami.
Muhaddar bersama rekannya berfoto di Masjid Terapung kota Palu, beberapa saat sebelum gempa dan tsunami.

MUHADDAR, warga Belopa, Kabupaten Luwu, tak henti- hentinya bersyukur. Pada saat gempa dan tsunami menerjang Palu, Jumat (28/09/2018) sekitar pukul 18.08, ia berada daerah berjuluk Bumi Tadulako itu. Malah, sekitar beberapa menit sebelum gempa dia sempat berfoto- foto di sekitar Masjid Terapung kota Palu, salah kawasan yang cukup parah dihantam tsunami.

Muhaddar yang akrab disapa Daeng Dhar itu mengungkapkan dia ke Palu untuk mengikuti salah satu acara. Dalam perjalanan, saat berada di Kabupaten Donggala sekitar pukul 14.00 wita, sempat terjadi gempa walau skalanya kecil. ” Saat itu kami sedang makan dan terjadi gempa. Saya kontak teman, beliau mengatakan Palu aman,” katanya.

Diapun melanjutkan perjalanan ke Palu. Dengan temannya di Palu yang dipanggil Koko, mereka janjian untuk bertemu di Masjid Terapung yang menjadi ikon kota Palu. Daeng Dhar tiba di Masjid Apung sekitar pukul 16.20 wita. Usai bercerita dan foto-foto sejenak, oleh temannya ia diajak makan. ” Tapi saya menolak karena sudah makan di Donggala. Rencananya, mau langsung ke penginapan tapi diajak oleh teman ke rumahnya,” ungkap caleg PKS Luwu ini.

(BACA JUGA): VIDEO: Subhanallah… Lima Ekor Kucing Kembar Siam Dempet Lahir di Palopo, Begini Kondisinya

Rumah temannya itu berada di Jl Dayo Dara Kota Palu. Seusai mandi, ia merasakan panas di dalam kamar. Padahal, ada penyejuk ruangan. Dia lalu ke mobil dan menghidupkan AC. Tak berapa di mobil sekitar pukul 18.08 wita, tiba- tiba terjadi gempa disertai tsunami. Kamar yang ditempatinya roboh. ” Tuhan masih menolong saya. Rumah teman saya miring, tapi kamar yang saya gunakan roboh. Di dalam rumah semua selamat. Hanya ada yang luka-luka,” katanya.

Karena berada di ketinggian, di sekitar rumah temannya menjadi tempat bagi warga untuk mengungsi dan menyelamatkan diri dari tsunami. Sebab, warga masih khawatir akan ada gempa susulan disertai tsunami. Sekitar pukul 01.00 dinihari, ia sempat berjalan kaki ke pantai Talise karena penasaran dengan kondisi pasca gempa. ” Saya melihat sudah banyak mayat. Sudah ada relawan dari FPI termasuk polisi. Saya juga sempat mengangkat dua jenazah korban,” ungkapnya.

(BACA JUGA): Suami-Istri Warga Palopo Meninggal di Palu, 3 Anaknya yang Masih Bocah Juga Belum Ditemukan

Paginya sekitar pukul 08.00 wita, iapun pulang ke Luwu. Sekitar pukul 20.00 wita, sampai di Kebun Kopi. Karena ada longsoran kemacetan luar biasa terjadi. Terjadi ketegangan antara masyarakat yang ingin keluar mengungsi dengan warga yang mau mencari keluarganya. Dari peristiwa tersebut, Daeng Har mengaku masih diingatkan Allah SWT. ” Mungkin Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk berbuat baik dan membersihkan dosa- dosa. Alhamdulillah saya selamat dari musibah,” katanya. (adn)