Abdul Kadir
Abdul Kadir

Koranseruya.com — Berkas pemberhentian secara tidak hormat Abdul Kadir Alias Daeng Nompo sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) saat ini sementara berproses, dalam waktu yang tidak lama lagi, Abdul Kadir tidak akan menyandang status sebagai abdi negara.

Abdul Kadir yang merupakan pejabat eselon IV pada Dinas Kebersihan, Pertamananan dan Pemakaman (Disberkam) Palopo itu terbukti di persidangan memperkosa stafnya yang juga ponakannya sendiri berinisial WA (19).

Ia divonis 15 tahun penjara oleh majelis hakim pengadilan Negeri Palopo pada Senin (20/2) lalu. Dengan vonis itu, menjadi dasar Pemkot Palopo untuk memberhentikan paksa Abdul Kadir.

Kepala Inspektorat Palopo, Samil Ilyas kepada Koranseruya.com siang ini membenarkan hal itu.

“Berkas pemberhentian secara tidak hormat sementara berproses, dalam waktu dekat ini akan selesai. Sesuai aturan, vonis diatas 2 tahun harus diberhentikan secara tidak hormat,” jelas mantan Kadishub Palopo itu.

Sekadar mengingatkan, kasus pemerkosaan ini terkuak September 2016 lalu. Abdul Kadir tega menggagahi WA (19) yang tidak lain kerabatnya sendiri.
Kelakuan bejat Abdul Kadir belum cukup sampai di situ, usai melampiaskan nafsu birahinya, WA yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri, dikubur di dalam rumah lalu dicor. Beruntung nyawa WA terselamatkan. Tujuh jam kemudian, tenaga honorer di Disberkam Palopo yang juga bawahan AK itu, sadarkan diri.

Dengan bantuan istri AK, DB (50), gadis 19 tahun ini pun dikeluarkan dari liang tersebut, hingga akhirnya melapor ke Polres Palopo.

Saat itu, WA berkunjung ke rumah Abdul Kadir karena dipanggil atasannya itu. Biasanya keduanya memang berangkat bersama ke kantor. Sebagai bawahan WA dan keluarga WA tak menaruh kecurigaan apapun dan dengan polosnya memenuhi panggilan AK, selain itu, AK sudah dianggapnya seperti orangtua sendiri, bahkan masih ada hubungan keluarga, sehingga WA kerap datang ke rumah Abdul Kadir.

WA menceritakan kronologis pemerkosaan yang dialaminya, bahwa dirinya sedang duduk di teras rumah Abdul Kadir, sekitar pukul 08:00 Wita, Selasa (20/9/2016) pagi. Saat itu, Ak tiba-tiba mendekatinya membawa selimut. Awalnya, WA mengira Abdul Kadir akan menjemur selimut tersebut. Namun ternyata, Abdul Kadir menutupi tubuh WA dan membopongnya masuk ke dalam rumah. WA kaget dan berusaha berontak, namun Abdul Kadir mengancam akan membunuhnya bila berteriak.

Sesampainya di dalam rumah, korban mengaku dibaringkan di atas tempat tidur. Dalam keadaan ketakutan, Abdul Kadir berusaha melucuti pakaian korban.

“Saya sempat menendang korban setelah pakaian saya dilucuti bagian bawah, termasuk pakaian dalam. Saat itu, Abdul Kadir marah setelah saya tendang karena badannya terlempar membentur tabung yang ada dalam kamar. Dia mengancam akan membunuh saya karena marah. Dia menodong pakai parang di leher saya. Setelah itu saya tidak tahu kejadian selanjutnya karena saya pingsan,” cerita WA terisak.

Setelah sadar, WA mengaku kaget karena dirinya sudah tidak berada di dalam kamar rumah Abdul Kadir. Melainkan di dalam sebuah ruang gelap.

“Saya berada dalam lubang di dalam rumah dan bagian atasnya sudah dicor. Dia (pelaku) mengecor lubang itu, dan mengubur saya dalam keadaan pingsan,” kata WA.

WA berusaha menyelamatkan diri dengan merusak cor yang menutupi lubang di mana dirinya dikubur hidup-hidup.

“Saya selamat karena semen cor masih basah dan kekuatan cor belum kuat, sehingga tangan saya bisa membongkar cor itu,” kisah WA, terisak.

Setelah cor terbongkar, WA mengeluarkan tangannya dan berusaha menyelamatkan diri. Nah, saat itulah, sekitar pukul 16:00 Wita, Selasa (20/9/2016) korban bisa diselamatkan istri Abdul Kadir yang sempat melihat tangan korban melambai.

“Awalnya dikira saya anaknya. Lalu saya teriak, tante tolong saya,” tutur WA.

Tak lama kemudian, istri Abdul Kadir, DB bersama keluarganya lainnya membongkar cor semen itu sehingga WA bisa keluar dengan selamat. Setelah itu, Abdul kadir tiba di rumah dan langsung menemui kembali WA. Ia kemudian mengancam korban agar tidak melaporkan ke polisi semua kejadian yang dialaminya. Selain mengancam akan membunuh WA, Abdul Kadir juga memberikan amplop berisi uang lalu mengantar WA pulang ke rumahnya di Jalan Cakalang, Kota Palopo.

“Tapi saya tidak ambil itu amplop, saya buang,” akunya.

Sesampainya di rumah, WA menceritakan kejadian yang dialami kepada keluarganya dan keesokan harinya mereka melapor ke Mapolres Palopo. Tak lama berselang, Tim Buru Sergap (Buser) Satreskrim Polres Palopo langsung mengamankan AK. (asm)

BACA JUGA :Takut Ditilang, Mahasiswi ini Menangis di Depan Petugas

Abdul Kadir saat memperagakan rekonstruksi ulang beberapa waktu lalu