Abidin Arif
Abidin Arif

KORANSERUYA.COM–Undangan dengan agenda silaturahmi telah beredar baru – baru ini di masyarakat. Dalam undangan itu menyebutkan kalau H Baso sebagai Mokole Matano. Namun, jabatan Mokole Matano untuk H Baso dinilai menyinggung lembaga adat Matano. Soalnya, jabatan Mokole Matano hanya dijabat oleh H Umar Ranggo.

Hal itu disebutkan oleh Wija Pancai dari Pao – Pao, kecamatan Malangke Barat, Abidin Arif. Menurutnya, H Umar Ranggo yang sah berdasarkan asal usul sejarah keturunan.

Abidin menjelaskan, kedudukan H Umar Ranggo sebagai Mokole Matano mempunyai bukti sejarah cukup kuat serta sumber cerita yang dapat dipertanggung jawabkan.

“Kakeknya berasal dari seorang bangsawan dan pernah jadi Mokole Matano dimasa lampau. Bahkan silsila keturunan dimiliki saya pernah lihat secara tertulis,” ungkapnya.

Lembaga Adat Matano, kata Abidin, didirikan sejak dahulu hingga saat ini tentu bertujuan dalam membangun kebersamaan dan kesejahteraan masyarakat.

Sehingga komitmen saling menghargai selalu menjadi budaya Sipakatau, Sipakaraja, Sipakalebbi dalam semboyang yang ada di tanah Luwu ini.

“Contoh, saat H Baso munculkan dirinya sebagai Mokole Nuha. Lembaga Adat Matano tidak pernah ambil pusing sebab mereka sadar bahwa itu hak progratifnya,” ungkapnya.

Namun, kata Abidin, protes Lembaga Adat Matano yang muncul saat ini karena adanya H Baso yang telah membawa nama Matano. Padahal, dari awal H Baso memunculkan dirinya sebagai Mokole Nuha.

Pasca munculnya H Baso sebagai Mokole Matano, tambah Abidin, langsung mendapatkan teguran dari Lembaga Adat Matano. Ia meminta agar sebutan Matano tidak dibawa bawa oleh H Baso.

“Ini pelecehan dan Lembaga Adat tidak menerima itu setelah H Baso mengeluarkan undangan silaturahmi yang mengatasnamakan sebagai Mokole Matano,” ungkapnya.

Abidin mengatakan, pengurus dewan Adat juga tidak menginginkan H Baso membawa nama Matano. Apa lagi, mengaku sebagai Mokole Matano. “Info yang saya dapat seperti itu,” ungkapnya.

Dirinya berharap agar yang Mulia Datu Luwu tidak diam dalam hal seperti ini demi menjaga gesekan perasaan agar suasana tercipta kondusif.

“Jika hal ini dibiarkan maka marwah kedatuan dapat tercederai hanya karena ulah oknum yang ambisius. Infonya, masalah ini sudah masuk ke ranah hukum,” ungkap Abidin.

Secara pribadi, kata Abidin, tidak mempunyai kepentingan soal ini hanya saja terpanggil untuk berbicara demi menjaga marwah kedatuan. “Apa lagi H Baso dan H Umar Ranggo adalah orang yang saya tuakan,” tutupnya. (Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 3 =