KORAN SeruYA–Hingga saat ini, tim investigasi yang dibentuk oleh Komisi Disiplin Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo untuk melakukan investigasi mendalam terkait sanksi massal belum ada hasil. Tim yang dibentuk pada Jumat (12/8/2016) lalu itu beralasan tim masih dalam proses investigasi.

Ketua Tim Investigasi, Abdurrahman Nur Kepada KORAN SeruYA, Rabu (7/9/2016), mengatakan pihaknya sementara mendalami peristiwa itu.

“Kami masih dalam proses investigasi, dan dijamin tak ada diskriminasi dalam investigasi ini,” katanya singkat saat di temui wartawan SeruYA di Gedung Fakultas Hukum Unanda Palopo.

Sementara itu, ditempat terpisah, Wakil Rektor II Unanda Palopo, Zulkifli, juga membenarkan hingga saat ini belum ada hasil dari tim investigasi. “Kami juga masih menunggu hasil dari tim investigasi, jika sudah ada, hasilnya akan dibahas di rapat Senat,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Rektor Universitas Andi Djemma, Marsus Suti menegaskan perihal skorsing 43 mahasiswa di kampus tersebut akan dikaji mendalam. Pihaknya akan menurunkan tim dalam hal ini Komisi Bidang Disiplin untuk melakukan investigasi mendalam terkait sanksi massal itu.

Pernyataan Marsus itu disampaikan sebagai jawaban atas banyaknya protes terkait kebijakan Unanda menjatuhkan skorsing massal. Di hadapan mahasiwa yang berunjuk rasa pada Jumat (12/8/2016) lalu, Marsus menegaskan kalau masalah skorsing massal ini akan diinvestigasi.

“Saya tidak mau bergesekan dengan siapapun. Makanya selalu mendengar aspirasi dari mana pun. Tapi terkait protes skorsing massal ini, saya belum bisa mengambil keputusan sekarang. Sebab kami masih melakukan investigasi,” kata Marsus Suti, Jumat (12/8/2016) lalu.

Marsus mengaku terkait protes terhadap skorsing massal itu, Komisi Bidang Disiplin (Komdis) diturunkan untuk melakukan investigasi. Hasil investigasi Komdis itu nantinya akan dipersentasekan Marsus di hadapan para pengurus Yayasan To Ciung Luwu. “Setelah persentase itu nanti baru bisa saya mengambil keputusan,” jelasnya.

Sekadar mengingatkan skorsing massal terhadap puluhan mahasiswa Teknik Sipil yang dilakukan pihak rektorat Universtas Andi Djemma (Unanda) Palopo terus menuai protes. Setelah Solidaritas Teknik Sipil memprotes kebijakan tersebut, giliran sejumlah himpunan mahasiswa Unanda sendiri yang berunjuk rasa di Kampus I dan II Unanda pada Jumat (12/8/2016) lalu.

Sekitar 70-an mahasiswa dari Fakultas Ekonomi, Kehutanan, BEM Hukum, SEMA Fisip dan HMTI Unanda Palopo tergabung dalam Aliaansi Mahasiswa menuntut keadilan Universitas Andi Djemma Palopo (Amukan Unanda). Mereka memprotes kebijakan pihak kampus yang menjatuhkan DO, skorsing dan teguran keras kepada 43 mahasiswa Unanda beberapa waktu lalu.

Jenderal lapangan (jenlap) aksi Daud Rantel, mahasiswa Fakultas Hukum Unanda, dalam orasinya menuntut keadilan atas perlakukan pihak kampus terhadap ke-43 rekannya. “Pihak kampus sudah berlaku tidak adil terhadap puluhan rekan kami. Mereka menjatuhkan sanksi tanpa ada klarifikasi sebelumnya dari mahasiswa yang bersangkutan,” kata Daud dalam orasinya.

Sementara koordinator lapangan (korlap) aksi tersebut, Sultan menambahkan penyampaian aspirasi ini terkait kebijakan pihak rektorat Unanda Palopo, yang baru-baru ini memberikan sanksi massal kepada Mahasiswa Fakultas Teknik sipil.

Dimana sebanyak 24 mahasiswa diberikan peringatan keras, 18 mahasiswa diberikan sanksi skorsing satu tahun dan satu mahasiswa di-DO (Drop Out).

Kabarnya, skorsing terhadap 43 mahasiswa (termasuk satu DO) dikeluarkan pihak rektorat karena mereka dianggap melakukan unjuk rasa tidak etis saat memprotes SK Himpunan Mahasiswa Sipil beberapa waktu lalu. Di mana saat itu, para mahasiswa ini memboikot kampus, menghentikan proses perkuliahan hingga mengusir dosen dan mahasiswa yang tengah belajar.

Keluarnya pengumuman skorsing massal itu langsung disikapi sejumlah elemen yang menganggap pihak kampus terlalu otoriter. Apalagi informasi yang diperoleh KORAN SeruYA, para mahasiswa yang dianggap melakukan pelanggaran berat itu, tidak pernah dimintai klarifikasi lalu. Tiba-tiba saja mereka mendapat sanksi berat. (Bayu/asmar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 + sixteen =