Yayasan Kawasan Tongkonan Lempe di Lolai. Kawasan ini dikelola Yayasan Tongkonan Lempe
Yayasan Kawasan Tongkonan Lempe di Lolai. Kawasan ini dikelola Yayasan Tongkonan Lempe

KORAN SeruYA–Pengamat pariwisata Toraja, John Tikara, mengaku prihatin atas kisruh yang terjadi antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toraja Utara, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Torut dengan Yayasan Tongkonan Lempe selaku pengelola kawasan Tongkonan Lempe di Lolai, obyek wisata alam ‘Negeri di Atas Awan’ di Torut.

“Kedua belah pihak perlu duduk satu meja membicarakan permasalahan ini, supaya tidak berlarut-larut. Sebab, kawasan Tongkonan Lempe di Lolai salah satu tempat ramai dikunjungi warga,” kata John Tikara kepada KORAN SeruYA, malam tadi.

John Tikara mengatakan, pemerintah memang berhak menerapkan Perda Nomor 2 Tahun Tahun 2011 tentang retribusi rekreasi dan olahraga, namun penerapan regulasi tersebut perlu dibarengi dengan pembenahan akses jalan menuju lokasi obyek wisata, termasuk penyediaan sarana prasarana pendukung.

“Tidak serta merta langsung menerapkan aturan untuk mendapatkan retribusi 40 persen dari pengelolaan Tongkonan Lempe di Lolai. Harus ada pembenahan akses jalan, supaya masyarakat nyaman berkunjung ke sana,” kata John Tikara.

Menurut dia, ada 3 lokasi obyek wisata di Lolai yang dikelola tiga pihak. Yakni, kawasan Tongkonan Lempe, To Tombi, dan Tiro Tiku. “Khusus kawasan Tongkonan Lempe memang ada miskomunikasi dengan pemerintah daerah. Perlu ada komunikasi yang baik, supaya kawasan Tongkonan Tempe ini bisa berjalan baik dan semakin ramai dikunjungi warga,” kata John Tikara.

Kawasan To Tombi di Lolai tetap dibuka untuk umum.
Kawasan To Tombi di Lolai tetap dibuka untuk umum.

Dikatakan John, dirinya sudah menelpon keluarganya di Tongkonan Lempe mempertanyakan soal penutupan Tongkonan Lempe. “Iya, penutupan ini bentuk protes mereka kepada pemerintah. Namun, kita harapkan bisa cepat selesai dan ada solusi,” katanya.

Sebelumnya diberitakan KORAN SeruYA, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara (Torut), Provinsi Sulawesi Selatan, Pariatno, mengatakan, pengelola salah satu kawasan di Lolai, Negeri di Atas Awan, yakni kawasan Tongkonan Lempe, dilakukan sendiri oleh pengelolanya, mulai Senin (13/3/2017).

“Bukan pemerintah daerah yang menutupnya, tapi pengelolanya sendiri,” kata Harly via ponselnya di Torut, malam ini.

Menurutnya, ada tiga lokasi obyek wisata alam di Lolai, yang dikelola tiga pihak berbeda. Dari 3 obyek tersebut, kawasan Tongkonan Lempe diberikan surat peringatan oleh pemerintah daerah sebanyak 2 kali, karena dinilai tidak mau bekerjasama dengan pemerintah.

Sedangkan, lanjut Harly, 2 pengelola kawasan lainnya di Lolai, yakni kawasan Tiro Tiku dan To Tombi, siap bekerjasama dengan Pemkab Torut, sehingga tidak diberikan peringatan keras.

“Khusus 2 kawasan tersebut tidak ada masalah, dibuka untuk umum. Malah, Pemkab akan menata dan mengelola 2 kawasan di Lolai itu, karena pengelolanya siap bekerjasama dengan Pemkab Torut,” katanya.

Pengelola obyek wisata di Torut, jelas dia, harus menaati Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2011 tentang retribusi rekreasi dan olahraga. “Nah, pengelola kawasan Tongkonan Tempe tidak taat dengan Perda ini, sehingga diberikan peringatan keras sebanyak 2 kali. Mungkin karena alasan diperingati keras, makanya menutup kawasan Tongkonan Tempe yang juga masuk dalam kawasan Lolai,” katanya.

Harly berharap, permasalahan yang disebabkan miskomunikasi antara pengelola Tongkonan Lempe terkait penerapan Perda Nomor 2 Tahun 2011, bisa segera terselesaikan, apalagi Lolai sudah dikenal secara luas, baik nasional dan internasional. “Ini aset daerah yang sudah menasional, bahkan mendunia,” katanya. (ayi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 10 =