“Kali Merah” dan KORAN SeruYA

0
655
Chaerul Baderu
Chaerul Baderu

CATATAN 2 TAHUN KORAN SERUYA
Oleh : Chaerul Baderu
CEO PT Wisnu Aditya Intermedia Palopo

TANGGAL 15 Juli merupakan hari ulang tahun Harian Seputar Luwu Raya atau lebih dikenal dengan nama KORAN SeruYA. Kini, 15 Juli 2017, KORAN SeruYA genap berusia 2 tahun. Ibarat bayi 2 tahun, media ini sangat belia dan masih harus terus belajar sampai bisa berjalan dengan baik dan sempurna.

Namun, dua tahun bukanlah waktu yang singkat dan gampang dilewati oleh sebuah media harian di tengah ketatnya persaingan media saat ini. Apalagi kian menjamurnya media online yang begitu mudah dan gampang diakses pembaca, media cetak harus bisa dan pandai-pandai menghadapi gempuran media online.

Dua tahun lalu, tepatnya 15 Juli 2015, saya bersama beberapa teman sepakat menerbitkan KORAN SeruYA. Boleh dibilang, keputusan saya menerbitkan KORAN SeruYA hanya bermodalkan keberanian. Bagaimana tidak bermodalkan keberanian, untuk menerbitkan media harian, modal usaha setidaknya mencapai angka miliar. Paling tidak, sedikitnya Rp1 atau Rp2 miliar. Namun, kami benar-benar hadir dan terbit tidak memiliki modal dengan angka miliar. Juga tidak dengan modal angka ratusan juta. Nilainya cuma dibawah angka Rp50 juta.

Keberanian lainnya, kami berani menerbitkan media harian tanpa dipayungi group media besar, seperti media cetak lainnya. KORAN SeruYA hanya dinaungi PT Wisnu Aditya Intermedia Palopo. Perusahaan ini, bukanlah perusahaan media besar. Perusahaan ini hanyalah perusahaan media lokal yang menggabungkan nama dua putera saya, Wisnu Ainun Prestiawan dan Muh Aditya Ainun.

Makanya, selaku owner sekaligus pendiri KORAN SeruYA, saya sendiri kadang tidak yakin dan percaya jika dengan modal seadanya bisa menerbitkan media ini. Tak salah jika saya selalu mengatakan, menerbitkan KORAN SeruYA hanya bermodalkan keberanian. Dan, modal keberanian itulah yang mengantarkan KORAN SeruYA memasuki usia 2 tahun.




Ya, modal keberanian itulah yang membuat hingga saat ini KORAN SeruYA bisa terbit dan bertahan. Saya percaya dan sangat yakin, keberanian adalah modal kuat untuk membuat perubahan. Keberanian merupakan kunci agar hidup semakin dinamis, berwarna dan berakhir manis. Lalu kenapa harus berani? Karena kita diciptakan untuk bisa berani, agar bisa bertindak demi menggapai impian dan cita-cita. Harapannya tentunya saja, berakhir manis.

Termasuk koran ini. Bisa melewati usia ke-2, bagi kami cukup melelahkan. Melewati 720 hari penuh tantangan luar biasa. Sangat keras. Baik dari eksternal maupun internal. Tapi karena itulah, kami hidup hingga saat ini. Karena kerasnya persaingan itu. Hadir di tengah-tengah pembaca. Menghidupkan karya jurnalistik yang lahir dari semangat anak-anak muda. Walau masih jauh dari kata sempurna, namun kami tetap berupaya memenuhi keinginan itu. Produk jurnalistik yang paripurna, sebagaimana koran-koran besar pada umumnya.




Di catatan HUT ke-2 KORAN SeruYA, saya ingin berkisah tentang KORAN SeruYA dan ‘Kali Merah’. Kali Merah, adalah judul lagu hits yang pertama kali dipopulerkan Doel Sumbang, kemudian dilantunkan lagi pedangdut cantik Cita Citata dalam versi dangdut.
Kenapa dalam catatan HUT ke-2 KORAN SeruYA saya ingin berkisah tentang KORAN SeruYA dan lagu dangdut Kali Merah, khan tidak ada kaitannya? Memang, tidak ada kaitannya sama sekali. Namun, boleh saya katakan, lagu Kali Merah ini, merupakan “The song of struggle” atau lagu perjuangan KORAN SeruYA. Kok bisa?

Kisahnya, awal-awal kami menerbitkan KORAN SeruYA, di bulan-bulan pertama, banyak kendala yang kami hadapi. Terkadang sampai larut malam, bahkan sampai dini hari, awak redaksi media ini bekerja merampungkan terbitan KORAN SeruYA. Berbagai kendala misalnya, berita kurang, jaringan internet lalod/bermasalah, komputer kurang, dan lain-lain.

Nah, saat awak redaksi bekerja sampai dini hari, Heriawan (Hery Gambo), layouter pertama KORAN SeruYA kala itu, senantiasa memutar lagu Kali Merah di komputernya. Lagu ini diputar berulangkali dan tanpa rasa bosan. Entah kenapa, teman-teman yang bekerja di redaksi bersemangat dan tidak kenal lelah– meski terkadang lapar menghampiri tengah malam– mendengar lagu Kali Merah ini. Malah, teman-teman wartawan yang bekerja sampai larut malam me-request lagu Kali Merah ini, ketika Hery Ghambo tidak memutarnya.




Hery Ghambo kemudian mencetuskan, lagu Kali Merah sebagai lagu “The song of struggle”. Sayang sekali, dalam usia 2 tahun KORAN SeruYA, Hery Gambho tak lagi bersama kami, karena memilih berkiprah sebagai ASN atau PNS. Dan, saat menulis catatan 2 Tahun KORAN SeruYA, saya juga mendengarkan lagu Kali Merah. Tulisan saya mengalir tanpa beban. Sama ‘mengalirnya’ beban saya, sebagai pimpinan media ini, setiap menghadapi masalah internal perusahaan, ketika mendengarkan lagu Kali Merah, seakan masalah internal bisa terselesaikan tanpa beban. Hahahaha.




Ya, dalam usia 2 tahun KORAN SeruYA, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh media, khususnya media cetak dan media online di Kota Palopo. Kita semua berkompetisi secara sehat. Dan kompetisi itulah yang menghasilkan karya-karya hebat.
Dan tak pernah bosan dalam setiap momentum ulang tahun, saya dan barisan all crew KORAN SeruYA senantiasa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pembaca, khususnya empat pemerintah daerah di Luwu Raya, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Tak lupa juga kepada teman-teman relasi bisnis, seluruh partai politik, ormas hingga agen dan pengecer koran ini. Koran ini sukses bisa melangkah ke usia 2 tahun karena dukungan Anda semua. Termasuk kepada seluruh all crew KORAN SeruYA mulai awak redaksi, pemasaran, iklan, keuangan– yang sekarang maupun yang dulu. Terima kasih juga yang tak terhingga kepada orang-orang yang menyayangi dan mencintai saya, istri dan anak-anak, dan Kali Merah! (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 7 =