Kartini Alwi
Kartini Alwi

MENDENGAR nama Kartini yang terbesit ialah Pahlawan Nasional emansipasi wanita Indonesia. Namun Kartini yang satu ini merupakan Pahlawan pendidikan pembentuk karakter anak bangsa. Sepanjang karirnya memperjuangkan agar setiap pelajar khususnya di Kota Palopo mendapat porsi pengetahuan yang sama. Dialah Kartini Alwi.

Keikhlasan saat menekuni profesinya sebagai seorang guru mengantarnya pada kesuksesan. Wanita kelahiran Sidrap pada 11 Maret 1967 menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1979 di SDN Gunung sari, Ujung Pandang. Melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Makassar dan lulus pada tahun 1982. Setelah itu, Kartini Alwi tercatat sebagai alumni pada tahun 1985 di SMAN 8 Makassar.

Kemudian dengan kemauan yang tinggi, Kartini Alwi menempuh pendidikan keguruan Diploma II di IKIP Ujungpandang (Universitas Negeri Makasar) dengan mengambil konsentrasi seni tari. Sebagai mahasiswa jurusan kesenian, Kartini aktif mengikuti pentas tari. Pengalaman dalam pentas tari tersebut ikut mewarnai dunia kampusnya.

Tepat pada 1 Maret 1988, pertama kali Kartini Alwi mengabdikan diri sebagai pengajar di SMPN Sanggalangi, Toraja. Selama tiga tahun mengajar di SMPN Sanggalangi, 1 September 1991 dipindah tugaskan ke SMPN 2 Kota Palopo. Sembari mengajar, Kartini kuliah S1 jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di Universitas Negeri Cokroaminoto Palopo (UNCP) pada tahun 1994.

Rupanya Kartini yang satu ini juga memiliki dua gelar Sarjana Pendidikan. Selain sarjana PKN, tahun 2014 mengambil kembali S1-nya jurusan Sendratasik (Seni, drama, tari, musik) di UNM.

Semasa sekolah, Kartini aktif berorganisasi dan menggeluti ekskul pramuka, sehingga saat itu sempat mewakili SMPN 1 Makasar mengikuti Jambore Nasional.

“Saya jarang meraih prestasi, tapi menjadi murid yang biasa-biasa saja justeru mengajarkan bagaimana menghargai dan menikmati proses hingga meraih kesuksesan,” kata Kartini Alwi.

Sejak mengajar di SMPN 2 pada tahun 1991 sampai 2013, Kartini selalu bekerja dengan hati. Begitulah triknya untuk menjadi seorang guru yang mampu membawa pengaruh baik terhadap sekolah dan mutu pendidikan. Selang beberapa waktu dampak dari keikhlasannya bekerja, Kartini diangkat menjadi Wakil kepala sekolah dan lima tahun menjadi bendahara BOS di SMPN 2 Palopo sejak tahun 2005.

Karena beberapa prestasi, termasuk salah satunya meraih penghargaan sebagai guru terfavorit tingkat Kota Palopo, sehingga 1 juni 2013 berdasarkan SK Wali Kota, Kartini Alwi diangkat sebagai Kepala SMPN 6 Palopo. Sembilan bulan memimpin SMPN 6, Maret 2014 dikembalikan di SMPN 2 sebagai kepala sekolah. Barulah pada 1 Juli 2015 Kartini Alwi dipercaya menjabat Kepala SMPN 3 Kota Palopo hingga sekarang.

Telah banyak prestasi yang ditorehkan Kartini Alwi selama menjabat sebagai kepala sekolah di beberapa SMPN di Kota Palopo. Suka dukanya ketika pertama kali megajukan SK di SMPN Sanggalangi Toraja, Kartini sempat ditolak mengajar di sekolah tersebut karena disangka guru Agama Islam. “Tapi saya terus berjuang melewati berbagai rintangan hingga bisa diterima,” jelasnya.

Sebagai Kepala SMPN 3 Palopo, Kartini berpesan kepada seluruh generasi penerus bangsa agar menjadikan salat lima waktu sebagai kebutuhan yang mampu membentengi moral generasi saat ini. “Kalau salat adalah tiangnya agama, maka salat pulalah tiangnya negara,” pungkasnya. (ayuastariiksan/wandy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − sixteen =