LUTRA – Adalah hal lazim ketika setiap penyelenggaraan MTQ dilaksanakan pula pameran yang menawarkan aneka macam cinderamata, dan berbagai produk busana muslim/muslimah lainnya. Mungkin sebagai buah tangan para tamu dari daerah lain untuk dibawa pulang ke kampung masing-masing.

Namun ironisnya, perlombaan berbagai cabang lomba di MTQ kalah pamor dibanding pameran MTQ itu sendiri.

Hal ini yang kemudian mengundang keprihatinan Ketua Kontingen MTQ Luwu Utara, Jumail Mappile, yang juga Staf Ahli Bupati Luwu Utara Bidang Pembangunan, SDM dan Kemasyarakatan. Sejak dibuka Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada 1 April kemarin, keramaian malah nampak di pamerannya ketimbang lomba MTQ itu sendiri.

“MTQ itu festival pemuliaan kitab suci umat Islam. Artinya, MTQ adalah syiar Qur’an. Dengan syiar itu, peserta dituntut tidak hanya pintar membaca dan menulis, tapi jauh lebih penting adalah memahami isi Al Quran itu sendiri. Namun ironisnya, kehadiran masyarakat tidak lagi fokus mendengarkan musabaqah, tetapi lebih banyak berkunjung ke arena pameran. MTQ jadi sepi, pameran jadi ramai,” ujar Mappile prihatin.

Menurutnya, MTQ tidak hanya ditujukan kepada mereka yang menjadi peserta lomba, tetapi juga mereka yang bertindak sebagai penonton atau masyarakat.

“Olehnya itu, kehadiran masyarakat secara beramai-ramai dalam setiap lomba MTQ adalah sesuatu yang mutlak dan sangat kita harapkan bersama, karena bisa menjadi ladang pahala bagi masyarakat itu sendiri,” ucapnya.

Untuk itu, lanjut Jumail, semua ini harus menjadi perhatian dan catatan bagi setiap Pemerintah Daerah yang terpilih menjadi tuan rumah MTQ agar mempertimbangkan lagi untuk tidak mengadakan pameran karena kehadiran masyarakat di lokasi tidak terfokus pada kemeriahan dan keindahan ayat-aya suci Ilahi yang didendangkan para qori dan qoriah dari seluruh daerah yang berpartisipasi.

“Kita tentu tidak ingin arena musabaqah MTQ menjadi sepi gara-gara pameran,” pungkasnya (lh/liq)