Ketua STIEM Palopo, DR Salju Zainuddin, SE MM

JARUM jam menunjukkan pukul 10.13 Wita pagi. Sosok pria duduk di ruang kerjanya yang berukuran sekira 5X7 meter. Dengan serius pria berkacamata itu tampak sibuk dengan telepon pintarnya.

LAPORAN : Chalig Mughni

MENGENAKAN kemeja abu-abu dipadu dengan celana kain yang sewarna. Senyum mengembang menghiasi wajahnya kala wartawan koran ini menyambangi ruangannya di JL Jend. Sudirman km 3, Kel Binturu, Kec. Wara Selatan, Palopo, Senin (7/8) pagi.

Dia adalah Dr Salju Zainuddin, SE MM. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) Kota Palopo. Dua periode dia memimpin salah satu Sekolah Tinggi terkemuka di Luwu Raya itu. Namun, hanya sedikit orang yang tahu perjuangan hidupnya sehingga bisa menjadi sekarang ini.

Tidak ada anak yang ingin melihat kedua orang tuanya berpisah. Begitupun Salju Zainudin. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya saat dia masih berumur empat tahun. Di umur yang masih sangat belia, dia harus menelan kenyataan pahit dengan perceraian kedua orang tuanya.

BACA JUGA :Judas Serahkan KUA-PPAS

“Sejak umur empat tahun, orang tua saya bercerai. Mereka menikah lagi dengan pasangan masing-masing. Saya kemudian diasuh dan dibesarkan oleh nenek saya,” kata Salju Zainuiddin kepada koranseruya.com.

Atas saran dari keluarganya, Salju kecil akhirnya dirawat oleh neneknya. Kasih sayang sang nenek ternyata mampu mengganti peran kedua orang tuanya. Tapi, dia juga harus membantu si nenek untuk menopang kehidupan mereka. Sebelum ayam jantan berkokok, dia sudah harus bangun. Dengan mata yang menahan kantuk, Salju harus memberi makan kerbau peliharaannya.

“Setiap jam 03.00 subuh saya sudah bangun untuk memberi makan kerbau yang akan membajak sawah. Nenek saya memang seorang petani,” ungkapnya. Menamatkan pendidikannya hingga SMP di Walenrang, Salju kemudian melanjutkannya di SMA Muhammadiyah. Tak ingin memberatkan sepenuhnya biaya sekolahnya kepada sang nenek, dia mulai mencari pekerjaan.




Akhirnya diterimalah dia bekerja di SMA Muhammadiyah. Sekolah tersebut juga tempatnya menimba ilmu. Cleaning service adalah langkah awalnya memulai berkarir di Muhammadiyah. Membersihkan sekolah sampai melayani guru adalah rutinitas barunya. Upahnya saat itu Rp5.000 per bulan. Tak kenal lelah apalagi mengeluh, dia dengan ikhlas menjalani pekerjaan barunya tapi tidak melupakan sekolahnya.

Rupanya, menjadi cleaning service bukanlah pekerjaan satu-satunya kala itu. Saat malam tiba, dia beralih profesi sebagai pengayuh becak. Entah sudah berapa kilo kakinya mengayuh roda tiga tersebut. Malu sebagai pengayuh becak tidak ada dalam kamusnya. Dalam hati dia selalu berbisik “yang penting halal”, pekerjaan apapun akan dilakoninya.

BACA JUGA :Minta Nama Andi Djemma Jadi Nama Jalan di Makassar, Walikota Palopo Surati Danny Pomanto

“Pengalaman yang paling berkesan waktu saya harus mengantar bidan karena ada orang mau lahiran. Tidak kenal waktu, saya harus mengantar bidan sampai ke tempat pasien tepat waktu. Saya antar bidan itu dengan berjalan kaki, tapi semenjak saya tarik becak, saya antar dia dengan becak saya,” jelasnya.

Masa SMA adalah masa dimana tidak terlupakan olehnya. Saat itulah dia mulai belajar mendalami Islam. Organisasi tentang keislamanpun dia selami untuk lebih mengenal agamanya. Belajar dari tausiyah satu ke tausiyah yang lain menjadikan pemahaman tentang agama semakin kuat.

“Saya belajar agama otodidak. Dari tausiyah, dari buku, organisasi Muhammadiyah,” ungkapnya.
Di tahun 1994 Salju dipertemukan dengan Hamsira yang sekarang menjadi istrinya. Awalnya bapak tiga orang anak ini dipertemukan dengan permaisuri hatinya berkat perjodohan yang dilakukan neneknya. Tak kenal dengan yang namanya pacaran. Pertemuan pertamanya dengan Hamsira saat ada pertemuan keluarga. Dua minggu setelahnya pertemuan kedua pun terjadi di KUA.

“Alhamdulillah walaupun tanpa proses pacaran, saya dan istri saya tetap langgeng. Tidak seperti zaman sekarang,” ucapnya. Awal pernikahan pun dimulai dari nol. Empat kali pindah rumah kontrakan menjadi pemanis di awal pernikahan. Untungnya dengan bantuan keluarganya, akhirnya dia dapat menempati rumahnya secara permanen.

Akhirnya dengan ketekunan dan kerja kerasnya dia bisa menjadi Ketua STIEM Palopo saat ini. Pengalaman hidupnya dahulu dijadikan pelajaran berharga dan ditanamkan kepada tiga orang anaknya. Salju membuktikan bahwa keluarga yang berasal dari broken home bisa juga dapat merasakan kesuksesan.

Selain itu, membangun dari nol dalam berumah tangga lebih terasa nikmat dibandingkan dengan memiliki segalanya saat menikah. Sebab akar rumah tangga akan kokoh dengan semua kesulitan yang dirasakan. Dengan begitu sekeras apapun angin mendera, tidak akan menumbangkan pohon yang mempunyai akar yang kuat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 5 =