OLEH : MUKHRAMAL AZIS
Jurnalis tinggal di Makassar

TIGA tahun lalu, saya mendapat kabar dari seorang sahabat di Kota Palopo. Namanya Chaerul Baderu. Dia adalah wartawan yang pernah bekerja di beberapa media harian di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pernah di Palopo Pos, dan Koran Sindo.

Awalnya, saya berpikir dia hanya ber-say hallo. Namun, ternyata tidak. Chaerul Baderu mengabarkan dirinya akan mendirikan sebuah koran harian. Saya tersentak. Kaget rada tidak percaya.

Masa sih seorang CBD, begitu Chaerul Baderu akrab disapa, bikin koran harian? Ah saya tidak percaya. Sebab yang ada dalam benak saya waktu itu, mendirikan koran harian harus padat modal. Nafas harus panjang. Karena koran akan terbit setiap hari untuk menermui pembacanya.

Di balik telepon, Chaerul Baderu berusaha meyakinkan saya. Saya akhirnya berdebat panjang sambil memaparkan bagaimana rumitnya membuat sebuah koran harian.

Saya mengatakan pada dia, tidak ada koran harian di Indonesia yang bisa bertahan lama jika tidak melakukan sinergitas dengan grup-grup besar. Bahkan yang nyata-nyata dari grup besar pun gulung tikar dan menyatakan diri resmi berhenti menemui pembacanya.

Ambil contoh, Koran TEMPO Makassar yang harus tutup lebih awal karena tidak mampu lagi membiayai cetaknya. Koran SINDO Makassar “terpaksa” harus difrenchisekan agar tetap bisa melanjutkan nafas.

Tapi, Chaerul Baderu tidak menyerah. Ia tetap yakin dengan ambisinya untuk memiliki koran harian. Lalu, saya sarankan untuk membuat media online saja. Ide saya itu dia tolak mentah-mentah. Ia beralasan, korannya yang waktu itu belum ada nama, tetap akan hidup di tangannya.

Pendek cerita, akhirnya saya mengalah. “Jikalau memang harapanmu sangat besar, yah bismillah saja,” kata saya waktu itu.

Selang beberapa hari, saya diundang ke Palopo. Ternyata sudah berkumpul 30 an orang anak muda. “Siapa semua itu?,” tanya saya.

“Itu semua calon wartawan Koran SeruYA?,” kata Chaerul Baderu, senyum-senyum.

Saya diminta memberikan briefing sejenak. Kira-kira hanya 15 menit. Lalu tanya jawab. Saya kaget karena semangatnya membuat koran baru lebih bergemuruh malah ketimbang Chaerul Baderu.

“Ini benar-benar gila,” ucap saya. Anak-anak muda itu menjadi simbol keberanian Wija To Luwu. Berani menantang badai. Berani membuat media dengan modal yang sangat pas-pasan.

Dalam benak saya, Chaerul Baderu telah memiliki modal kuat untuk sebuah perusahaan media cetak. Apa itu? Yakni soliditas dan semangat timnya yang tidak kendor sama sekali.

Dengan modal semangat dan soliditas tim inilah yang mungkin membuat Koran SeruYA bisa bertahan terbit hingga sekarang. Selama 3 tahun, koran SeruYA telah menghiasi Luwu Raya. Tanggal 15 Juli 2015 menjadi tonggak sejarah terbit perdana media ini.

Saya hanya bisa mengucapkan “Selamat ulang tahun ke 3 Koran SeruYA. Jadilah pembawa suara hati rakyat.” (*)