Aziz Qahhar-Andi Mudzakkar

Catatan : Muhammad Adnan Husain
Kepala Redaksi Koran SeruYA

MENDIANG Qahhar Mudzakkar, tokoh kharismatik asal Luwu, mungkin tersenyum bangga di tempat peristirahatannya yang terakhir. Dua putranya kini menduduki jabatan yang strategis. Bukan saja di tingkat lokal tapi juga di level nasional. Keduanya adalah Aziz Qahhar Mudzakkar yang kini duduk sebagai anggota DPD RI dan Andi Mudzakkar, Bupati Luwu dua periode.

Jelang pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel 2018 mendatang nama keduanya mulai disebut-sebut. Bukan pada posisi 01 tetapi 02 atau wakil gubernur. Aziz Qahhar yang selama ini cenderung mengelak bicara soal pilgub, melalui loyalisnya, Irfan, menyatakan Aziz hampir pasti maju di pilgub Sulsel.

Adapun Andi Mudzakkar, yang akrab disapa Cakka sejak beberapa hari terakhir ini sudah mulai memanaskan mesin. Dia menyambangi sejumlah tokoh dan masyarakat di daerah Luwu Utara dan Luwu Timur. Bahkan, baliho miliknya sudah bertebaran di sejumlah ruas di daerah tersebut.
Yang menjadi pertanyaan apakah keduanya akan berhadap-hadapan di pilgub Sulsel ataukah satu diantaranya akan mengalah?

Aziz Qahhar sudah punya pengalaman tanding di pentas pilgub. Sudah dua kali, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah ini ikut bertarung. Pada 2008 dia bersama dengan Mubyl Hamdaling maju bersaing dengan paket lainnya yakni Amin Syam-Mansyur Ramli dan Syahrul Yasin Limpo (SYL)-Agus Arifin Nu’mang (Sayang). Hasilnya, paket Aziz-Mubyl berada di peringkat ke tiga.

Tahun 2013 Aziz kembali maju sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Wali Kota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin. Lagi-lagi, keduanya harus mengakui keunggulan paket Sayang II.
Ketokohan Aziz memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Pemilik 1 juta suara di DPD RI itu tentu banyak dilirik oleh calon gubernur. Apalagi, Aziz adalah salah satu representasi dari Luwu Raya yang memiliki sekitar 800 ribu jumlah pemilih.

Hanya saja, berkaca pada dua pilgub sebelumnya, Aziz resisten di kalangan non muslim. Ustad, dianggap mewakili Islam garis keras. Salah satu buktinya adalah di Kabupaten Toraja Utara yang mayoritas non muslim.
Pasangan Ilham-Aziz hanya meraih 2,58 persen. Sementara pasangan Sayang, 89,2 persen. Suara Ilham-Aziz di kabupaten ini kalah dibanding pasangan lainnya, Rudiyanto-Andi Nawir yang berhasil meraih 8,16 persen dari total 153.317 pemilih.

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Toraja. Pasangan Ilham-Aziz meraih 21,2 persen sedangkan Sayang II 73,4 persen dengan total 154.605 pemilih. Walaupun Aziz mengantongi 1 juta suara, namun di beberapa daerah kendati Ilham cukup dikenal suara pasangan ini jelas tergerus. Jika ada calon gubernur yang benar-benar menggandeng Aziz, maka yang harus menjadi PR berat adalah bagaimana meyakinkan pemilih non muslim untuk bisa menerima ustad. Tentu, ini bukan hal yang mudah. Apalagi, pada beberapa kali kesempatan khususnya saat demo aksi 212 di Jakarta beberapa waktu lalu, Aziz ikut ambil bagian di dalamnya. Jangan lupa, ada kebosanan para pemilih terhadap sosok Aziz yang sudah berulang kali maju dan kalah.

Yang menarik adalah sosok Andi Mudzakkar. Sebagai Bupati Luwu dua periode, namanya cenderung belum setenar saudaranya itu. Namun, sejak namanya disebut turut disurvei oleh bakal calon gubernur Sulsel, Ichsan Yasin Limpo (IYL) 2016 lalu, popularitas Cakka ikut terdongkrak. Tapi, Cakka tetap menunggu. Pasca even peringatan Hari Jadi Perlawanan Rakyat Luwu, dia mulai memanaskan mesinnya. Kemungkinan, Ketua Golkar Luwu itu punya feeling atau kode-kode keras, bahwa dirinya akan diajak oleh salah satu bakal calon untuk berpaket baru bergerak.

Dibanding Aziz, Cakka tentu punya jam terbang yang minim di pentas Sulsel. Hanya saja, dengan embel Mudzakkar dibelakang namanya, ini menjadi salah satu poin penting namanya bisa langsung dikenal. Cakka lebih bisa diterima semua kalangan. Non muslim wellcome. Dia juga dikenal akrab dengan semua orang dan gampang berbaur dengan masyarakat. Tak peduli dari kalangan mana berasal.

Adanya beberapa Wija To Luwu (WTL) yang disebut-sebut akan maju di pilgub Sulsel 2018 mendatang, memaksa Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau, mengeluarkan titah. Opu Datu berharap hanya satu WTL yang maju. ” Kalau hanya satu WTL yang maju, masyarakat harus mendukung figur tersebut,” kata Opu Datu.

Jauh hari sebelumnya terkait pilgub Sulsel, Cakka sudah menyatakan di dalam keluarganya tidak ada Kurawa. Diceritakan dalam kisah pewayangan Mahabarata, Kaum Kurawa adalah saudara tiri dari kaum Pandawa. Keduanya, terlibat perang Baratayuda untuk memperebutkan Kerajaan Hastinapura. Jadi, apakah setelah melihat peluang yang ada, antara Aziz dan Cakka, salah satunya akan legowo mundur?? Mari kita menyaksikan elit politik bermain di atas panggungnya. (*)