M.Basnur, S.Sos
M.Basnur, S.Sos

OLEH: M.Basnur, S.Sos
– Penyuluh Pratama/Seksi P2M BNN Kota Palopo

KENYATAAN menunjukkan bahwa sangat sulit menyembuhkan pecandu narkoba. Meskipun pecandu narkoba telah direhabilitasi, namun tidak ada jaminan mereka akan sembuh. Angka kekambuhan atau kembali memakai masih tinggi. Berbagai upaya telah dilakukan tetapi hasilnya belum memuaskan. Berikut ini analisis mengapa pecandu narkoba sulit disembuhkan.

Rasa kecanduan yang diciptakan oleh Narkotika dan Obat-obatan Berbahaya (Narkoba) ternyata disimpan baik oleh memori kita. Hal inilah yang membuat pecandu narkoba sulit lepas dari ketergantungan. Bagitu juga dengan mantan pecandu narkoba, ia dapat mencoba narkoba kembali bila depresi.

Sebuah penelitian yang menilai efek menonton film tentang pecandu narkoba pada 2 kelompok. Masing-masing kelompok merupakan mantan pecandu narkoba dan bukan kelompok pengguna narkoba. Hasilnya, peneliti menemukan kecendrungan mantan pengguna yang timbul kembali.”Memori itu seperti bangkit lagi. Mereka yang mantan pecandu narkoba seperti sakaw.

Sementara orang yang bukan kelompok pengguna narkoba biasa saja menonton film tersebut. Tak puas dengan hasil penelitian ini, para peneliti melanjutkan penelitian hingga 5 tahun dan hasilnya tetap sama.Melihat hal tersebut, jelas bahwa mantan pengguna narkoba pun akan sulit mengendalikan keinginannya mengonsumsi narkoba sampai kapanpun bila tidak didukung lingkungan yang baik. Untuk itu ini bukan masalah salah siapa melainkan mengapa seorang pecandu dapat kambuh.

(BACA JUGA): OPINI: Perang Melawan Narkotika Dengan Senjata Rehabilitasi, Apa Mungkin Menang?

“Pada otak, narkoba akan terekam sebagai hal yang menyenangkan. Untuk itu, hal menyenangkan lainnya seperti berhubungan intim pada pria atau berbelanja bagi wanita mungkin akan kalah menyenangkannya. Tapi sebaliknya, mereka yang kecanduan bilang, kalau tidak menggunakan narkoba kakinya seperti mau lepas dan sekujur tubuhnya sakit (Wakil Ketua Seksi Bipolar dan Gangguan Mood lainnya Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Dr. dr. Nurmiati Amir, SpKJ).

Ada beberapa hal yang membuat pecandu sulit sembuh dari kecanduannya :

1. Motivasi dari para pencandu rendah. Kesadaran dan motivasi yang kuat merupakan sarat mutlak untuk berhenti memakai narkoba. Pada umumnya mereka yang menjalani rehabilitasi karena terpaksa misalnya tertangkap dan harus menjalani rehabilitasi. Sebagian karena kemauan orang tua atau keluarga.

Pada umumnya mereka yang “dipaksa” akan menjalani rehabilitasi dengan perasaan yang berat, merasa tertekan atau “berpura-pura” ikut program rehabilitasi. Rutinitas program rehabilitasi akan mereka jalani demi mendapat surat keterangan telah menjalani rehabilitasi. Setelah keluar dari tempat rehabilitasi mereka akan memakai lagi bila ada kesempatan. Angka kekambuhan (relaps) pasca rehabilitasi masih tinggi bisa mencapai 80 %.

(BACA JUGA): OPINI: Bahaya Narkoba dan Cara Penanggulangannya

2. Adanya dorongan dari dalam diri para pecandu yang sangat kuat (craving, sugesti) sehingga pecandu sepertinya tidak kuasa menahan dorongan-dorongan tersebut. Sugesti sangat dipengaruhi kejadian masa lampau baik psikis maupun fisik. Kekuatan sugesti akan berlangsung lama tergantung lamanya pemakaian dan jenis obat yang dipakai.

Kekuatan sugesti juga dipengaruhi oleh jenis narkoba, lama pemakaian, frekwensi pemakaian dan tinggi dosis yang dipakai selama ini. Dorongan untuk memekai juga akan semakin kuat bila berada di lingkungan pemakai atau narkoba tersedia atau mudah diperoleh, mengalami stres, merasa direndahkan atau kurang kegiatan.

3. Terjadi perubahan di susunan saraf pusat. Pemakaian lama akan mengubah struktur dan fungsi susunan saraf pusat. Bila sudah terjadi kerusakan di otak akan sulit untuk memulihkannya. Para pecandu umumnya mengidap penyakit akibat perilaku tidak sehat selama memakai narkoba, misalnya jarang mandi, daya tahan tubuh menurun akibat suka begadang, tertular penyakit akibat pemakaian jarum suntik bergantian, tidak berolah raga.

Para pecandu kronis banyak yang mengidap penyakit menular seperti HIV dan hepatitis. Kombinasi perubahan saraf di otak dan penyakit ikutan akibat konsumsi narkoba akan sangat menyulitkan penyembuhan fisik dan psikis pecandu.

4. Putus obat akan menyebabkan pecandu tersiksa. Pecandu narkoba yang mengalami sakaw akan merasa sakit yang luar biasa bila tidak diberikan narkoba. Adiksi atau ketagihan biasanya timbul pada pecandu yang memakai putaw atau jenis opiat. Mereka yang tidak kuasa menahan sakit yang berkepanjangan akan memilih kembali memakai dengan segala konsekwensi yang mereka sadari atau tidak disadari. Lebih baik kembali memakai daripada terus menerus tersiksa.

(BACA JUGA): OPINI: STIGMA MANTAN PECANDU NARKOBA

5. Para pecandu akan selamanya menjadi target para pengedar atau teman-temannya sesama pemakai. Lebih mudah bagi pengedar memasarkan narkoba pada mantan pengguna dari pada orang yang belum pernah menggunakan. Sangat sulit untuk lepas dari cengkeraman para mafia narkoba. Sepertinya mereka punya daftar para pelanggan tetap, mereka tahu sama tahu siapa saja yang memakai, sedang direhabilitasi dan selesai rehabilitasi. Teman-temannya yang masih memakai akan menggunakan segala cara untuk mempengaruhi mantan pengguna untuk kembali memakai narkoba demi mendapatkan uang dan narkoba.

6. Sebagian pemakai narkoba tidak merasa mereka pecandu. Mereka menganggap narkoba sebagai suplemen untuk menambah gairah kerja, meningkatkan konsentrasi, menambah semangat, bagian dari gaya hidup dan lain-lain. Pengguna sabu-sabu atau ekstasi akan merasa loyo, kurang gairah, tidak bisa konsentrasi bila tidak memakai. Selama kebutuhan untuk tampil bersemangat, tampil bergairah, butuh konsentrasi masih ada, maka selama itu pula keinginan untuk memakai ekstasi tetap ada.

Celakanya penggunaan sabu-sabu atau ekstasi menyebabkan efek toleransi obat, artinya bila hari ini cukup memakai satu pil maka hari-hari berikut untuk menimbulkan efek yang sama harus meningkatkan dosis, sehingga kebutuhan akan selalu meningkat. Ekstasi menyebabkan destruksi di otak sehingga hampir mustahil untuk disembuhkan.

7. Tidak ada standar sarana-prasarana rehabilitasi, standar prosedur menyembuhkan pecandu narkoba, standar tenaga yang terlibat (konselor,dokter,dokter jiwa, psikolog, sosiolog, dll). Rumah sakit ketergantungan obat, panti rehabilitasi narkoba, pesantren dan lain-lain berusaha mengembangkan sendiri metode yang mereka anggap paling baik untuk pemulihan.

(BACA JUGA): OPINI: MENCEGAH LAHIRNYA KAMPUNG NARKOBA

Para pengelola rehabilitasi pemerintah atau swasta tidak saling berkomunikasi untuk berbagi informasi tentang metode yang mereka terapkan. Belum ada wadah atau perhimpunan seminat khusus narkoba yang secara berkesinambungan mendiskusikan dan mengembangkan capaian atau hambatan dalam merehabilitasi pecandu narkoba. Sulit kita temukan media sosial atau majalah khusus narkoba yang memungkinkan orang bisa mempublikasi capaian hasil terapi, kegagalan terapi dan pengembangan wacana tentang rehabilitasi.

Tidak ada disiplin ilmu khusus terapi pecandu atau program studi khusus narkoba, sehingga menyulitkan pengembangan ilmu menyembuhkan pecandu narkoba secara ilmiah. Sulit menyatukan ilmu terkait narkoba seperti ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu psikologi, ilmu sosiologi dan sebagainya menjadi satu program studi atau satu disiplin ilmu baru. Kecanduan seperti penyakit tanpa bisa disembuhkan.

8. Kecanduan narkoba masih dianggap sebagai aib. Pada umumnya orang malu jika ada keluarganya yang terlibat narkoba. Pecandu narkoba juga dianggap pembuat masalah dalam keluarga dan masyarakat. Tidak sedikit pecandu yang dikucilkan bahkan dihukum oleh keluarga atau masyarakat. Orang yang sedang menjalani program rehabilitasi tidak dipedulikan oleh keluarganya, sepenuhnya diserahkan kepada lembaga rehabilitasi, bahkan setelah kembali ke rumah setelah rehabilitasi tidak diberikan kegiatan, kurang diperhatikan.

Masyarakat juga umumnya menghindari para mantan pecandu, takut tertular atau anaknya terpengaruh. Stigma buruk para mantan pecandu masih melekat kuat bahkan bisa melebihi mantan narapidana.

9. Kurang dana juga merupakan faktor yang bisa mempengaruhi proses rehabilitasi, karena memerlukan waktu yang lama dan dana yang tidak sedikit. Biasanya keluarga pengguna sudah kehabisan uang akibat terus dikuras untuk konsumsi narkoba. Tidak jarang pecandu keluar masuk panti rehabilitasi dari panti satu ke panti lainnya tanpa ada tanda-tanda kesembuhan. Bagi keluarga yang tidak tahan akan menyerah dan membiarkan anaknya. Mereka putus asa karena uang sudah habis, anak tidak sembuh, tidak bisa bekerja, penyakitan dan sebagainya.

10. Tempat rehabilitasi sangat kurang. Peningkatan jumlah tempat rehabilitasi tidak seimbang dengan laju pemakai baru narkoba. Jika pemakai lama masih banyak, relaps selalu bertambah dan pemakai baru semakin bermunculan maka semakin banyak pecandu yang berkeliaran tanpa bisa direhabilitasi. Tidak banyak orang yang mau investasi untuk membuka panti rehabilitasi. Investasi besar, resiko tinggi, angka keberhasilan rendah membuat orang berpikir seribu kali menekuni bidang rehabilitasi narkoba.

(BACA JUGA): OPINI: Peran Lingkungan Sekolah dalam Bidang P4GN

11. Kurang pengawasan dan pembinaan terhadap panti penyelenggara rehabilitasi, terutama swasta perorangan. Belum maksimalnya program visitasi atau akreditasi terhadap lembaga penyelenggara rehabilitasi, sehingga kontrol terhadap kualitas layanan tidak bisa dilakukan. Tempat rehabilitasi sejatinya adalah kombinasi antara lembaga pendidikan (sekolah, madrasah, kampus, ) dan lembaga kesehatan (rumah sakit, balai kesehatan) sehingga mutlak diperlukan lembaga pengawas terhadap penyelenggaraan rehabilitasi.

Jika lembaga pendidikan dan rumah sakit harus diakreditasi maka tentunya lembaga rehabilitasi juga perlu diakreditasi. Komponen yang harus diakreditasi pada lembaga rehabilitasi yaitu : Visi-misi,kepemimpinan, program atau kurikulum rehabilitasi, tenaga atau sumber daya manusia yang terlibat dalam program, sistem evaluasi capaian rehabilitasi, sarana dan prasarana, sistem kendali dan penjaminan mutu layanan, siastem keamanan-kenyamanan residen, layanan pasca rehabilitasi, transparansi-akuntabilitas sistem layanan rehabilitasi. (*)