Lukman Hamarong, Kasubag Analisa Media Bagian Humas & Protokol Setdakab Lutra
Lukman Hamarong, Kasubag Analisa Media Bagian Humas & Protokol Setdakab Lutra

Pendidikan adalah hak dasar setiap manusia yang harus dipenuhi oleh negara atau pemerintah. Di belahan dunia manapun, pendidikan merupakan aspek paling urgen yang harus dipenuhi oleh sebuah negara guna menciptakan manusia yang berkualitas, berkarakter dan berdaya saing secara global.

Namun, ketika hak dasar manusia berupa pendidikan tidak terpenuhi disebabkan keterbatasan tenaga pendidik atau pengajar alias guru, maka pemerintah atau negara wajib bertanggung jawab mengembalikan marwah dari pendidikan itu sendiri, karena pendidikan adalah kunci sukses maju tidaknya sebuah bangsa. Negara akan maju ketika pendidikannya berjalan baik, terencana, sistematis dan terstruktur.

Betul bahwa pendidikan tidak melulu soal sekolah formal saja. Bukan pula soal siapa mengajar apa di ruang kelas belajar. Dan mungkin lewat homeschooling seseorang bisa berkembang menjadi pribadi yang cerdas. Tapi apa iya “lulusannya” dapat berkiprah di lingkungan formal tanpa mendapatkan legalitas formal dari pemerintah, sementara pemerintah hanya mengakui sekolah sebagai tempat resmi menuntut ilmu. Pepatah lawas mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik. Betul, tidak ada yang salah. Bahkan Mark Twain mempertegas hal tersebut dengan mengatakan, “saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.” Artinya, betapa pengalaman itu melegitimasi pepatah lawas tadi.

Nah, di Luwu Utara, usaha meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan terus digenjot melalui upaya-upaya inovatif. Apalagi Bupati Indah Putri Indriani sangat senang dengan hal-hal yang berbau inovasi. Untuk itu, Pemerintah senantiasa hadir memberi solusi terbaik. Keluhan ditampung, aspirasi diterima, dan segala laporan terkait pelayanan pendidikan diagenda secara sistematis guna membuat kebijakan yang mengakomodir segala keluhan itu. Dan salah satu program unggulan Pemerintah Daerah Luwu Utara adalah Program Sarjana Mengajar bagi Guru Non ASN, khusus di wilayah terisolir atau terpencil. Di Luwu Utara, ada empat wilayah yang masuk kategori terpencil, yaitu Kecamatan Rongkong, Seko, Rampi dan Malangke. Menariknya, program ini pertama di Sulsel, dan (mungkin) di Indonesia. Entah…..

Program ini setidaknya sedikit menjawab masalah kekurangan guru di wilayah terpencil. Program ini adalah jawaban atas segala keluhan, atas segala aspirasi dan atas segala laporan yang masuk demi perbaikan di segala lini pendidikan di Luwu Utara. Program Sarjana Mengajar kini tengah berjalan. 50 guru hasil seleksi melalui tes tertulis dan wawancara kini tengah berjuang dengan membawa tiga misi yang diamanahkan Bupati. Tiga misi itu adalah misi pendidikan, misi sosial dan misi menjaga nama baik pemerintah daerah. 50 guru non ASN ini lahir dari hasil seleksi yang begitu ketat. Dari 619 pendaftar, 595 lolos berkas, 150 lulus tes, dan 50 yang diterima. Dan 50 guru yang diterima ini telah dilepas secara resmi oleh Bupati Indah Putri Indriani.

Saat melepas 50 guru tersebut, Bupati Indah Putri berpesan, “Jadilah tukang gosok batu yang profesional. Dengan kompetensi yang kalian miliki, saya percaya kalian mampu melahirkan batu-batu yang bernilai, membentuk batu yang biasa menjadi batu yang bernilai tinggi. Siswa itu ibarat batu, untuk mendapatkan batu yang berkualitas, maka diperlukan tukang gosok batu yang profesional. Olehnya itu, jadilah guru yang profesional. Hanya guru yang profesional yang bisa melahirkan orang-oran hebat. Dan orang hebat bisa menghasilkan beberapa karya hebat, tapi guru hebat bisa menghasilkan ribuan orang hebat. Olehnya itu, jadilah guru yang hebat.”

Inovasi tidak berhenti sampai di situ. Program Sarjana Mengajar kini mendapat teman yang baik untuk menjawab tantangan dunia pendidikan di Luwu Utara. Dinas Pendidikan memberi respon positif atas desakan Bupati agar segera ciptakan inovasi-inovasi baru guna menjawab tantangan yang semakin terjal di depan. Travelling and Teaching. Sebuah program yang sebenarnya mirip-mirip dengan homeschooling, tapi pesertanya guru dan siswa itu sendiri, bukan dari umum. Kadis Pendidikan, Jasrum, mengatakan, travelling and teaching itu semacam kegiatan jalan-jalan sambil mengajar, berdarmawisata sambil belajar. Kegiatan ini pun rutin dilakukan sebulan sekali. Dan masih banyak inovasi lain yang belum sempat saya kupas secara sederhana. Mungkin kita masih bertemu lewat tulisan “Melihat Luwu Utara dari Perspektif Pendidikan” setelah sebelumnya saya meluncurkan tulisan “Melihat Luwu Utara dari Perspektif Religi”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − three =