Aizia Risty Rizal
Aizia Risty Rizal
Topik Populer
#Gempa Palu

KORANSERUYA.COM – Pasukan pengibar bendera (Paskibra), semua anak di Negeri ini pasti ingin masuk di dalamnya. Merupakan kebanggan saat bisa menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera itu. Namun, tidak semua berkesempatan masuk ke dalam Paskibraka. Ada seleksi ketat untuk dapat masuk ke dalamnya.

BACA JUGA : Mau Juara Sayembara Maskot Pilwalkot Palopo, Perhatikan 7 Poin ini…

Setelah masuk pun, kompetisi masih akan terus berlanjut antar anggota yang terpilih. Posisi-posisi penting akan menjadi rebutan. Salah satunya posisi pembawa baki. Posisi yang mengharuskan seseorang berhadapan dengan inspektur upacara untuk mengambil bendera yang akan dikibarkan.

Aizia Risty Rizal, seorang dara cantik yang membawa baki saat upacara Kemerdekaan di Lapangan Gaspa Palopo, Kamis, (17/8) pagi. Detak jantung Aizia tak menentu. Denyut nadinya seolah berlomba dengan waktu. Gugup menghinggapi dirinya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengusir rasa itu. Hasil latihanya selama 40 hari dilukisnya dalam ingatan. Dibedahnya satu per satu ilmu yang diperolehnya selama latihan. Cara itu dipakai untuk mengusir kegugupan yang dirasakannya.

BACA JUGA : Lahir Normal 17 Agustus, Ibu Bayi di Palopo Ini Bahagia

“Yang bikin deg-degan itu saat mengambil bendera dari Walikota,” ujarnya kepada Koranseruya.com. Usahanya pun berhasil. Kegugupan yang sempat melandanya, berangsur-angsur menghilang. Dengan yakin, dia pun melangkah mengikuti setiap aba-aba yang diberikan padanya. Tak lupa bibir yang beroleskan gincu merah mengumbar senyum pada semua pasang mata yang menyaksikannya hingga tibalah berhadapan dengan Walikota Palopo, HM Judas Amir.

Satu per satu anak tangga di naikinya. Sudah tak ada lagi keraguan yang muncul. Sangat berbeda saat beberapa waktu yang lalu. Setelah bendera telah di bakinya, dia pun bergabung kembali dengan pasukannya untuk mengibarkan sang merah putih.




Anak dari pasangan Rizal dan drg. Mertian Damsar itu akhirnya dapat bernafas dengan lega. Latihannya selama 40 hari ditambah dengan karantina di Hotel Kamanre tak sia-sia. Upacara kali itu berjalan mulus. Tak ada insiden fatal yang terjadi. Suatu saat nanti Aizia berniat ingin seperti sang bunda. Mengisi kemerdekaan dengan mengobati setiap orang yang membutuhkan. “Saya ingin jadi dokter seperti ibu,” pungkasnya. (liq)