Ilustrasi tragedi Walmas berdarah
Ilustrasi tragedi Walmas berdarah

LAPORAN: Kinan SeruYA, Palopo

KORAN SeruYA–Seratusan pemuda dan mahasiswa dari Walenrang dan Lamasi (Walmas), Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, menggelar aksi unjukrasa memperingati 3 tahun tragedi berdarah perjuangan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah (Luteng). Aksi ini, berlangsung pukul 14:30 Wita, di jalan poros Batusitanduk, depan Lapangan Sepakbola Batusitanduk.

Aksi ini tidak mengganggu arus lalulintas, meski massa menutup setengah ruas jalan. Bahkan, aksi ini berlangsung tertib.

Tepat tanggal 12 November 2016, Sabtu hari ini, tragedi berdarah Luteng genap 3 tahun kejadiannya. Tragedi tanggal 12 November 2013 itu, dikenal dengan istilah tragedi Walmas berdarah.

Saat terjadi aksi unjukrasa besar-besaran yang dilakukan elemen masyarakat Walmas, menuntut pembentukan wilayahnya menjadi Kabupaten Luteng, tragedi itu terjadi. Ratusan warga Walmas kala itu, menutup Trans Sulawesi poros Batusitanduk, sehingga arus lalulintas macet total beberapa hari.

Tepat tanggal 12 November 2016, tim Brimob bersama aparat Kepolisian turun membubarkan paksa warga dan pendemo, agar membuka blokade jalan. Dalam aksi pembubaran itu, salah seorang warga setempat tewas. Sehingga, sampai hari ini, insiden demo menuntut perjuangan pembentukan Kabupaten Luteng itu, dikenal dengan tragedi Walmas berdarah.

Bayu Purnomo, salah seorang tokoh pemuda Walmas dan penggerak demo Walmas tiga tahun lalu itu, mengatakan, bahwa demo yang dilakukan pemuda dan mahasiswa Walmas itu, diadakan untuk mengenang terjadinya tragedi Walmas berdarah, karena tragedi itu seakan terlupakan saat ini, seiring kian meredupnya perjuangan pembentukan Luteng

“Perjuangan kami 3 tahun silam, hingga saat ini, belum berefek apapun pada proses perjuangan pembentukan Luwu tengah. Tapi itulah bentuk pelampiasan kami atas keresahan melihat masyarakat Walmas yang begitu menantikan kehadiran Luwu Tengah, karena rentan kendali ke ibukota kabupaten yang begitu jauh dan banyak alasan-alasan lainnya, sehingga masyarakat Walmas ingin memisahkan diri dari kabupaten induknya, Luwu,” kata Bayu.

Makanya, 3 tahun setelah tragedi berdarah Walmas, untuk mengenang insiden itu, pemuda dan mahasiswa asal Walmas mengadakan aksi damai untuk mengenang dan mengingatkan semua pihak, terutama pemerintah daerah, provinsi dan pusat, bahwa pernah terjadi tragedi berdarah di Walmas, dalam rangka memperjuangkan daerah Walmas jadi kabupaten Luteng. (cbd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × three =