pilgub sulsel 2018, nurdin halid, nurdin abdullah, nh-na
Baliho Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah mulai ramai terpasang di ruang publik.

KORANSERUYA.com–Konsultan Politik dari Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, komunikasi politik yang dibangun antara Nurdin Halid dan Nurdin Abdullah merupakan hal wajar jelang tahapan Pilgub Sulsel 2018.

Seperti diketahui, baru-baru ini Nurdin Halid (NH) dan Nurdin Abdullah (NA) bertemu di Jakarta. Pertemuan ini memunculkan spekulasi kalau dua figur ini bakal berpasangan di Pilgub 2018 mendatang.

BACA JUGA: JSI : Nurdin Abdullah Terancam tak Dapat Partai

Menurut Arif, tawaran NH ke NA untuk digaet sebagai pasangan di pilgub, merupakan langkah yang sangat realistis. Alasannya, kedua figur ini bisa saling melengkapi.

BACA JUGA: NA Diisukan Dampingi NH, Begini Sikap SejatiNA Luwu Raya

“Jika NH memang serius untuk maju bertarung di pilgub, maka ia harus mencari figur pendamping, seperti NA. Kalau dua figur ini maju berpasangan, tentu memiliki kekuatan yang mumpuni,” papar Arif kepada KORANSERUYA.com, Kamis (16/3) malam.

Hanya saja, untuk meyakinkan NA menjadi pendamping NH, bukan perkara mudah. Mengingat, dari potensi keterpilihan untuk posisi calon gubernur, NA masih di atas. Ditambah lagi, NA sepertinya sudah sreg maju berpasangan dengan Tanri Bali Lamo.

BACA JUGA: Jarwo Kwat: Palopo Itu Istrinya Bernama Bu’Lopo! Berikut Videonya

Kendati demikian, dinamika politik yang berkembang kedepannya, bisa saja ada situasi yang “memaksa” NA menerima tawaran NH. Atau, NH memberikan jalan ke NA untuk mengendarai Golkar.

“Dari segi syarat maju lewat usungan parpol, harus kita akui kalau NH lebih aman dibanding NA. Karena NH bisa direkomendasikan Golkar. Dalam posisi ini, bisa saja NA realistis maju di posisi 02, andai dukungan koalisi parpolnya tidak memungkinkan untuk maju di posisi 01,” terang Arif.

BACA JUGA: BREAKING NEWS : ABG Cantik asal Luwu Utara Ini, Tewas Minum Racun Rumput

Soal pertemuan sehari sebelumnya antara NH dan NA, Arif menilai masih sebatas penjajakan. Kendati demikian, komunikasi tersebut bisa menjadi jalan pembuka untuk mengerucutkan kesepakatan politiknya kedepan.

“Tidak menutup ruang juga, NH justru memberikan jalan ke NA mengendarai Golkar, atau NH memilih tidak maju. Jadi pertemuan kemarin itu, saya menilainya sebagai pembuka untuk sikap politik kedepannya,” pungkas eks jurnalis desk politik ini. (kin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − fifteen =