Masjid Agung Luwu Palopo
Masjid Agung Luwu Palopo

PALOPO, SeruYA–belum adanya tersangka ditetapkan penyidik Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), terkait kasus dugaan korupsi dana hibah Masjid Agung Luwu Palopo, menuai protes dari mahasiswa asal Kota Palopo yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Luwu Raya Antikorupsi.

Ratusan mahasiswa dari aliansi tersebut, Rabu (15/3/2017), siang tadi, menggelar aksi unjukrasa di Fly Over, dan Mapolda Sulsel. Dalam aksinya, mereka mendesak Kapolda Sulsel segera menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi pengelolaan dana hibah Masjid Agung Palopo, yang selama ini ditangani Yayasan Masjid Agung Palopo.

Koordinator aksi ini, Alamsyah, mengatakan, penyidik Polda Sulsel sangat lamban memproses kasus dugaan korupsi dana hibah Masjid Agung Luwu Palopo, padahal kasus tersebut telah lama bergulir dan sudah jadi konsumsi publik di Kota Palopo.

“Karena itu, kami mendesak pihak kepolisian egera menetapkan tersangka kasus pengelolahan bantuan dana hibah Masjid Agung Luwu Palopo,” kata Alamsyah, saat berorasi di Halaman Mapolda Sulsel.

Tak hanya itu, dalam orasinya, Alamsyah membeberkan nilai dana hibah bagi masjid raya yang ada di Kota Palopo tersebut sebesar Rp5 Miliar. Nilai ini, kata dia, sesuai temuan laporan hasil pemeriksaan BPKP, dimana ditemukan indikasi kerugian negara. “Para pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan dana hibah ini harus diproses sesuai aturan hukum berlaku dan ditangkap. Jangan tebang pilih,” tegas Alamsyah.

Untuk diketahui, dugaan kasus korupsi pengelolaan hibah Masjid Agung mulai mencuat setelah Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) 2016 lalu. Dalam LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan) BPKP menegaskan, bahwa pengelolaan hibah sebesar Rp5 miliar dari Pemkot Palopo kepada Yayasan Masjid Agung Palopo tidak bisa dipertanggungjawabkan sejak 2008 hingga 2015. Saat itu, kepemimpinan Palopo dijabat oleh Walikota Palopo Andi Tenriadjeng. (*/liq)