Rikardy Sakaruddin bersama istri tercinta

SIAPA yang tidak mengenal dengan Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna (LPTTG) Malindo milik H. Sakaruddin di Kabupaten Luwu Utara? Lembaga yang sudah banyak menelorkan tenaga kerja terampil di berbagai daerah di Indonesia ini, menjadi brand tersendiri bagi keluarga H. Sakaruddin. Bahkan, saat ini, putera H. Sakaruddin, Rikardi Zakaruddin SH telah mengikuti jejak sang ayah.

Malindo Area, begitu perusahaan yang dirintis Rikardi. Perusahaan Malindo Area ini juga memberdayakan masyarakat melalui berbagai produk unggulan lokal yang telah memiliki jaringan di berbagai daerah di Indonesia.

Malindo Area dipimpin oleh Rikardy Sakaruddin sebagai Direktur. Sejak tahun 2014, Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Luwu Utara ini aktif mengembangkan perusahaan Malindo Area dan mendistribusikan produk makanan ringan ke seluruh wilayah Indonesia.

Saat ini, ada dua produk yang dikelola, yakni Snack Kabilasa berbahan baku tepung dan Kerupuk Kapurung Om Chaco yang berbahan baku sagu. Modal awal yang digunakan Rp300 juta.

Rikardy bercerita awal mula merintis Malindo Area. Ia ingin fokus pemberdayaan masyarakat. Ada sekitar 30 warga Luwu Utara yang dipekerjakan. Ia membuat Snack Kabilasa dengan bahan baku tepung setengah jadi yang di drop dari Jawa Timur.

“Saya kerjasama dengan teman-teman di Jawa Timur. Setiap harinya, saya butuh 1 ton bahan baku tepung setengah jadi untuk dibuat Snack Kabilasa,” katanya.

“Awalnya, banyak kendala. Khususnya dalam hal pemasaran. Latar belakang saya bukan orang bisnis, saya orang hukum. Saya banyak belajar dari pengalaman saja. Pernah gagal soal strategi pemasaran, kemudian mencari akar permasalahannya. Kendalanya ada di persoalan teknis,” jelas Rikardy.

Rikardy selalu ingat pesan orangtua untuk tidak mudah patah semangat dan harus konsisten. Lambat laun, produk yang dibuat mulai dipasarkan ke wilayah Luwu Raya. Sedikit demi sedikit dengan koordinasi melalui para distributor, produk yang dibuat menyasar Soppeng, Sengkang hingga ke berbagai wilayah di Sulsel.

“Kini setiap malamnya, kami distribusi Snack Kalibasa sebanyak 2.500 bal ke luar daerah. Itu saja masih kurang dan hanya mencakup satu kabupaten saja. Satu bal seharga Rp20 ribu,” sebutnya, seraya menyebutkan, per harinya, dua snack produk unggulan Malindo Area yang disalurkan ke berbagai daerah di Tanah Air mencapai 20.000 bungkus.

  Dua snack produk unggulan dari Malindo Area, Snack Kabilasa dan Kerupuk Kapurung Om Chaco disalurkan ke berbagai daerah di Tanah Air mencapai 20.000 bungkus per hari.

Dua snack produk unggulan dari Malindo Area, Snack Kabilasa dan Kerupuk Kapurung Om Chaco disalurkan ke berbagai daerah di Tanah Air mencapai 20.000 bungkus per hari.
  Dua snack produk unggulan dari Malindo Area, Snack Kabilasa dan Kerupuk Kapurung Om Chaco disalurkan ke berbagai daerah di Tanah Air mencapai 20.000 bungkus per hari.

Dua snack produk unggulan dari Malindo Area, Snack Kabilasa dan Kerupuk Kapurung Om Chaco disalurkan ke berbagai daerah di Tanah Air mencapai 20.000 bungkus per hari.

Belum sampai di situ, melihat potensi sagu yang melimpah di Luwu Utara membuat Rikardy ingin memaksimalkannya. Apalagi dia melihat pemerintah daerah juga tengah berupaya mengembangkan sagu. Akhirnya pada tahun 2017 lalu, Rikardy merintis produk Keripik Kapurung Om Chaco. Rikardy berpikir bagaimana cara membuat keripik kapurung dengan cara makannya yang simpel dan tidak mengurangi rasa kapurung itu sendiri.

Mengembangkan produk Keripik Kapurung Om Chaco tidak semudah membalikkan telapak tangan. Strategi pemasaran lagi-lagi harus diakuasai Rikardy terlebih dahulu. Sementara basicnya adalah sarjana hukum dari Universitas Hasanuddin. Soal strategi pemasaran, Rikardy belajar secara otodidak.

“Saat ini, setiap bulannya distribusi Kapurung Om Chaco mencapai 800 ribu bungkus dengan harga Rp8 sampai 15 ribu per bungkusnya. Kerupuk ini juga sudah masuk ke ritel modern dan mampu bersaing dengan produk lainnya,” sebut Rikardy.

Bahkan, ke depan Rikardy akan membuat produk baru lagi. Rikardy ingin melihat apa yang ada ditengah masyarakat dan bisa diberdayakan selain sagu dan Patikala. (asm)