KORAN SeruYA–Kuasa hukum terpidana mati, Ikbal alias Balla yang lebih dikenal dengan sebutan Si Kolor Ijo akhirnya mengajukan banding atas vonis mati yang dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Malili, 24 Agustus lalu.

Pengacara Ikbal, Agus Melaz emngaku sudah memasukkan memo banding Ikbal ke PN Malili. “Atas vonis tersebut, kami menyatakan banding. Memonya sudah masuk ke pengadilan (PN Malili),” kata Agus, Kamis (1/9/2016).

Selanjutnya, memo banding itu akan diteruskan ke Pengadilan Tinggi (PT) Makassar untuk proses banding.
“Memo Banding kami diperkuat dengan rekomendasi penolakan hukuman mati dari Lembaga Bantuan Hukum se-Luwu Raya dan LSM yang anti hukuman mati,” ujarnya.

Menurutnya, putusan mati itu menyita perhatian praktisi hukum. Banyak yang menganggapnya sangat di luar perikemanusiaan. Salah satu pertimbangannya adalah kejujuran terdakwa selama proses persidangan.

“Sejatinya kejujuran terdakwa mengakui semua perbuatannya harus dijadikan pertimbangan hukum. Karena kasus ini tuntas di proses peradilan. Semuanya bersumber dari pengakuan terdakwa. Harusnya ini jadi pertimbangan hakim,” katanya.

Agus menceritakan, kliennya tidak kuat memikirkan eksekusi mati yang akan dijatuhkan kepadanya. Saat dirinya menemui Ikbal di tahanan, kliennya itu berharap agar dirinya tidak divonis mati. “Biar mi pak saya dihukum seumur hidup saja. Kalau hukuman mati, sepertinya saya sudah tahu hari dan jam saya akan mati. Saya tidak kuat memikirkannya,” tutur Agus menirukan Ikbal.

Seperti diketahui, Ikbal pelaku penusukan alat vital wanita, divonis mati. Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Malili, Luwu Timur, Rabu (24/8/2016) kemarin.

Ikbal diketahui telah menusuk alat vital wanita menggunakan pisau pada malam hari. Tercatat, sejak Juli 2014 silam, Iqbal telah melukai 23 alat kelamin wanita hingga akhirnya ditangkap pada 21 November 2015. Bahkan salah satu korban Iqbal, yaitu Ani warga Mangkutana, Luwu Timur, tewas mengenaskan akibat pendarahan serius di kemaluan dan anusnya.

Majelis hakim yang diketuai Khairul menilai Iqbal terbukti melakukan pembunuhan berencana dan penganiyaan berat pada puluhan wanita. Dalam amar putusan sidang ‘kolor ijo’ ini, majelis hakim menyatakan, terdakwa Iqbal terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan pembunuhan berencana, penganiyaan berat dengan cara menusuk alat kelamin puluhan wanita, serta penganiayaan anak di bawah umur. “Menjatuhkan vonis mati kepada terdakwa,” tutur Khairul sembari mengetuk palu sidang, kemarin.
Rentetan perbuatan dan kejahatan yang dilakukan sang ‘Kolor Ijo’ ini, telah meresahkan masyarakat. Sebab Iqbal beraksi di malam hari dan hampir setiap pekan ada saja terdengar korban baru. Akibat perbuatannya, terdakwa dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 338 dan Undang-undang Nomor 23 tentang perlindungan Anak.

Bahkan, dalam persidangan ini, majelis hakim menyebutkan, kejahatan yang dilakukan Iqbal terbilang luar biasa atau extraordinary crime.

Lantas, bagaimana reaksi Iqbal setelah divonis mati? Di depan majelis hakim, Iqbal yang memiliki seorang anak masih kecil ini, menyatakan banding. “Saya banding Yang Mulia,” jawab Iqbal saat ditanya soal tanggapannya atas vonis mati yang dijatuhkan kepadanya.

Vonis hakim ini sesuai dengan tuntutan jaksa pada sidang sehari sebelumnya. JPU dari Kejari Malili juga menuntut Iqbal divonis mati.

Awal kemunculan korban Kolor Ijo terjadi pada akhir Juli di Dusun Lengkong, Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu, Luwu Timur. Ketika itu, dalam sepekan (hingga awal Agustus ada tiga wanita yang menjadi korban kolor ijo masing-masing di ketahui berinisial MI (16), SU (29) dan TE (54). Salah satu korban, TE mengaku dirinya mendapat tusukan benda tajam di bagian alat vitalnya dan itu terjadi pada malam hari.

Sejak saat itu, warga di Wotu, Mangukatana, Burau dan sejumlah daerah di Luwu Timur merasakan keresahan luar biasa. Bahkan warga harus ronda tiap malam. Namun antisipasi yang dilakukan warga itu tak menghentikan aksi Iqbal. Korban tetap berjatuhan. Seperti pada Juni 2015, dalam sepekan, empat wanita di Tomoni dan Wotu menjadi korban.

Mereka adalah YU (33), MS (37), RM (33), dan AS (29). MS, salah seorang korban penikaman kolor ijo mengaku, pelaku menusuk bagian kelaminnya melalui celah papan rumahnya saat asyik cerita bersama keluarganya. Pelaku menikam dari bawah rumah korban mengingat rumah korban adalah rumah panggung.

Puncaknya pada 30 Oktober 2015, Ani warga Dusun Makkulande, Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, tewas mengenaskan. Ibu muda ini menjumpai ajalnya akibat sayatan senjata tajam di alat kelaminnya serta anusnya.

Padahal saat kejadian, Ani sedang terlelap bersama suaminya, Saharuddin. Suaminya juga mengalami luka tusuk di pahanya karena berusaha melawan Si Kolor Ijo. Ani sempat dirawat di RSUD I Lagaligo Wotu, tetapi keadaan korban gawat, sampai hembuskan nafas paling akhir.

Setelah kurang lebih dua tahun membuat resah warga, Iqbal akhirnya ditangkap pada 21 November 2015 di Masamba, Luwu Utara. Penangkapan Ikbal setelah polisi melacak nomor HP pada ponsel salah satu korbannya yang dibawa kabur Ikbal saat beraksi di Mangkutana, Lutim.

Iqbal menjalani sidang perdana di PN Malili pada 12 April 2016. JPU menjerat Ikbal pasal berlapis, seperti pembunuhan berencana, penganiayaan, pelindungan anak dan pasal pembunuhan.

Pada sidang 16 Agustus lalu, JPU dari Kejari Malili menuntut Iqbal ‘Si Kolor Ijo’ dihukum mati. Pertimbangannya, aksi Ikbal meresahkan warga setidaknya dalam dua tahun terakhir. Sebanyak 23 korbannya, satu di antaranya meninggal dunia.

Ikbal sempat mengajukan pembelaan (pledoii) meminta dihukum ringan, paling tidak bukan hukuman mati. Namun pada sidang kemarin, hakim kasus ini yang diketuai Khaerul memutuskan vonis hukuman mati terhadap bapak satu anak ini.(satriani/wandy)