Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau menyematkan pin Kedatuan Luwu sebagai penghargaan kepada Pjs Bupati Bone, Andi Bakti Haruni, disela-sela kegiatan prosesi adat 'Pra Mattompang Arajang', Senin (2/4/2018)
Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau menyematkan pin Kedatuan Luwu sebagai penghargaan kepada Pjs Bupati Bone, Andi Bakti Haruni, disela-sela kegiatan prosesi adat 'Pra Mattompang Arajang', Senin (2/4/2018)

BONE–Puluhan raja-raja dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk perwakilan adat negara-negara sahabat, berkumpul di Kabupaten Bone, kemarin. Para raja-raja Nusantara itu, termasuk Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau juga hadir di Bone, dalam rangka menghadiri rangkaian peringatan Hari Jadi Bone (HJB) ke 688.

Kehadiran raja-raja Nusantara dan perwakilan adat negara-negara sahabat di Bone di HJB ke 688 tersebut, mencerminkan jalinan silaturahmi yang erat masih terjalin baik dengan Kerajaan Bone.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, Andi Promal Pawi, mengatakan, kehadiran sejumlah raja dari berbagai daerah di Nusantara itu, merupakan bentuk penghargaan terhadap masyarakat Bone, termasuk Kerajaan Bone, yang tengah memperingati HJB ke-688. Ini juga tidak lepas dari
Kerajaan Bone di masa lampau merupakan kerajaan besar dimasa kejayaannya.

“Peringatan HJB ke-688 tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, peringatan HJB tahun ini banyak dihadiri raja-raja dari berbagai daerah di Indonesia (Nusantara), termasuk dari negara sahabat di Semenanjung Melayu. Bahkan ada juga dari Inggris. Mereka mengikuti rangkaian peringatan HJB, terutama menghadiri acara ritual Mattompang Arajang,” kata Promal Pawi saat ditemui di Museum Arajangge disela-sela prosesi Mattompang Arajang, Senin (2/4/2018).

Pjs Bupati Bone, Andi Bakti Haruni,  berfoto bersama sejumlah raja dan sultan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk raja dari berbagai negara sahabat, disela-sela kegiatan prosesi adat 'Pra Mattompang Arajang', Senin (2/4/2018)
Pjs Bupati Bone, Andi Bakti Haruni, berfoto bersama sejumlah raja dan sultan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk raja dari berbagai negara sahabat, disela-sela kegiatan prosesi adat ‘Pra Mattompang Arajang’, Senin (2/4/2018)

Promal mengatakan, pelaksanaan Mattompang Arajang yang secara harfiah berarti menyucikan pusaka kerajaan. Berbagai pusaka kerajaan tersebut, di antaranya Keris La Makkawa, Kalewang La Tea Riduni, Tombak La Salaga, Senjata Adat 7 (Allameng Tata Rappeng), Sembangengpulaweng (selempang emas), dan Teddung Pulaweng (payung emas).

“Berbagai pusaka ini, pada masa lampau adalah perlengkapan wajib yang digunakan saat pelantikan raja-raja Bone,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam ritual Mattompang Arajang, ada dua kegiatan penting. Yakni, ritual Pra Mattompang Arajang yang dilaksanakan pada Senin (2/4/2018), kemarin. Ritual ini adalah penyucian pusaka kerajaan Bone hingga benar-benar bersih dan tuntas oleh pelaksana adat di dalam Arajangge.

Selanjutnya, ritual puncak Mattompang Arajang yang merupakan penyucian benda pusaka yang disaksikan langsung oleh khalayak ramai yang akan dilaksanakan pada Selasa (3/4/2018), hari ini.

Dalam ritual ini, berbagai benda pusaka dikeluarkan dari Arajangge menuju lokasi Mattompang di Halaman Rujab Bupati Bone. Prosesi Mattompang Arajang sendiri dipandu oleh para bissu, atau penjaga adat Kerajaan Bone.

Datu Luwu, Andi Maradang Makkulau Opu To Bau, yang turut hadir pada pencucian benda pusaka Kerajaan Bone, sangat mengapresiasi Pemkab Bone yang sangat menjaga dan melestarikan budaya Bugis Bone.

Selain itu, Datu Luwu juga sangat mengapresiasi Pemkab Bone, karena dinilai sangat luar biasa bisa menghadirkan sejumlah raja dan kesultanan dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan menghadirkan beberapa raja dari luar negeri.

“Kehadiran raja raja dan sultan pada moment ini sangat istimewa. Ini suatu penghormatan. Pesan kami, untuk rakyat, pemimpin, dan para pemanku adat Bone harus bersatu dengan pemerintahnya. Hormati pemeritah, maka pemerintah juga akan menghormati masyarakatnya. Bone itu dikenal dengan Kota yang beradat,” ujdar Datu Luwu.

Sementara itu, Pjs Bupati Bone, Andi Bakti Haruni, mengatakan, pemerintah daerah setempat mendukung terlaksananya ritual adat tersebut. Dikatakan, Pemkab Bone bekerjasama dengan lembaga adat mengembangkan nilai budaya di daerah itu.

“Moment ini merupakan evaluasi bagi kita, bahwa sejauhmana kita dijalan yang benar. Selain itu, hari jadi momoentum menyatukan semangat bahwa Bone bisa lebih giat, harusnya bisa dimaknai sebagai bentuk aktualisasi budaya sehingga bisa memperlihatkan jati diri kepada masarakat umum dan undangan yang datang di Bone,” kata Haruni. (abd)