Ibu korban memperlihatkan foto anaknya yang terseret arus
Ibu korban memperlihatkan foto anaknya yang terseret arus

KORANSERUYA.Com. Rumah besar bercat kuning itu kini sudah dipasangai tenda. Sudah banyak keluarga kerabat dan handai taulan yang datang untuk memberi semangat kepada Indrawati (54) warga Dusun Wonosari, Desa Kamanre, Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan, Senin (20/3) siang tadi.

Indrawati adalah ibu dari Muhammad Fahril (8) bocah kelas II SD yang hanyut terbawa arus Sungai Paremang di Cilallang, Kamanre, sejak Sabtu (18/3) sore. Saat ditemui, Indrawati tidak dapat menyembunyikan raut sedih di wajahnya. Matanya sembab, pertanda air banyak mengeluarkan air mata. ” Saya hanya berharap, semoga jasad anak saya cepat ditemukan,” katanya dengan suara parau.

Ibu lima anak itu bercerita, sore itu dia tidak mendapat firasat apapun. Sekitar pukul 15.00 wita, dia masih sempat menyuruh Fahril untuk pergi mengaji bersama teman-temannya di kampung itu. Semuanya berjalan normal. Tiba-tiba datang beberapa orang bocah yang mengabarkan anak keempatnya itu terseret arus di Sungai.

Tanpa bertanya, dia lalu tergopoh-gopoh ke sungai untuk mencari anaknya. Namun, arus sungai deras dan keruh berwarna kecoklatan menghalanginya. Dia menjerit sejadi-jadinya. Indrawati meminta tolong kepada tetangganya untuk mencari anak kesayanganya itu. Tetapi hasilnya nihil. Sudah dua hari ini, Tim URC, BPBD Luwu dan Tim SAR Bone dibantu TNI, Polri dan warga setempat sudah bekerja keras mencari jejak Fahril.

Namun, belum membuahkan hasil. Indrawati bertambah sedih lantaran saat ditimpa musibah, suaminya tidak berada di sampingnya. ” Suaminya sementara berlayar. Saat ini dalam perjalanan pulang. Saya tak tahu apa yang akan saya sampaikan kepadanya saat tiba di rumah,” katanya lirih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Luwu, Muhammad Jihad mengatakan, kondisi sungai Paremang memang menyulitkan untuk melakukan pencarian. Selain arus yang deras, sungai tersebut berwarna kecoklatan. Di tengah sungai lanjut dia juga banyak kayu dan bambu.

” Untuk menggunakan perahu karet kami harus berhati-hati. Kayu dan bambu bisa membuat perahu karet rusak,” katanya. Dia mengatakan membagi tiga tim yang melakukan pencarian. Satu ke hulu, hilir dan menyusuri sepanjang sungai. ” Kami akan terus mencari korban. Kita harapkan doanya sehingga korban bisa cepat ditemukan,” katanya. (eca)

BACA JUGA :Banyak Korban Hanyut, Bupati Luwu Imbau Warga Hati-hati