Bupati Luwu, Andi Mudzakkar dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan merakyat.

Tak Suka Dikawal…

Bupati Luwu, Andi Mudzakkar alias Cakka memiliki banyak kebiasaan unik, yang tak lazim melekat pada diri seorang pejabat. Bukan dibuat-buat hanya sekadar berburu citra, tapi lahir dari pemaknaan hidup yang memandang manusia pada dasarnya sama. Cakka memandang jabatan hanya soal nasib, yang sewaktu-waktu akan hilang. Tapi tidak budi pekerti. Ia akan dikenang tak lekang oleh zaman.

Melalui tulisan ini, penulis akan berbagi tentang beberapa kebiasaan Cakka yang sungguh tak banyak orang mengetahuinya. Dimulai dari kebiasaan Cakka yang alergi dikawal, rumah jabatannya yang tak wajib lapor, hingga kehidupan anak-anaknya.

Catatan : Muhammad Nursaleh

“Suruh itu mobil pengawalan (voorrijder) matikan sirinenya. Atau suruh di belakang saja,” kata Cakka.

Itu perintah yang sering diterima ajudannya. Cakka risih jika dalam tugas negara mengharuskan ada pengawalan mobil. Sungguh ia tak bisa mengelak. Tapi Cakka seolah mensiasati pengawalan itu. Boleh di depan asal tak ada suara sirine atau klakson yang memekakan telinga.

BACA JUGA :Andi Cakka Beber Keputusan Keluarganya di Pilgub Sulsel

Maka tak heran bila dalam kunjungan ke wilayah kerjanya, mobil pengawal (satpol PP-perhubungan) bukan di depan, tapi jauh di belakang rombongan. Mobil Cakka-lah di depan. Melaju tanpa beban.
Kebiasaan Cakka ini pernah dikomentari Kepala Satpol PP Luwu, Andi Iskandar. Ia merasa serba salah, antara tugas dan kepatuhan menerima perintah atasannya.

“Kita serba salah juga. Disatu sisi kita mau kawal, tapi pak bupati tidak suka. Sisi lain, itu adalah tugas kami yang mesti kami jalankan. Kalau sudah seperti itu, ya apa boleh buat. Kami tidak mengawal, meskipun ada rasa tidak enak di hati,” kata Iskandar.




Di Luwu, suara sirine voorrijder baru terdengar jika ada tamu-tamu penting yang datang berkunjung ke Luwu. Itu pun hanya bagi mobil tamu, tidak bagi mobil dinas Cakka.

Alergi Cakka yang tak suka dikawal ini, juga berlaku pada pengamanan dirinya. Jika ada acara penting, hanya ajudan yang melekat pada dirinya. Kalaupun banyak orang ingin mendampinginya berjalan, ada-ada saja cara Cakka mengelak. Terkadang jalannya dipercepat, memilih jalan sendiri, atau biasa juga pergi diam-diam.
Ajudan Cakka pun bukan polisi. Hanya sekali memakai jasa ajudan berstatus alumni IPDN, selebihnya (maaf) hanya tamatan SMA dan pegawai golongan rendah.

Dan menariknya, Cakka terkadang tak bergantung pada ajudan resmi. Bahkan orang lain pun (masyarakat biasa) sering ia panggil menemaninya duduk di atas mobil dinasnya ketika kunjungan kerja. Ajudan ‘palsu’ ini bebas memilih posisi kursi . Di depan bak ajudan atau duduk berdampingan dengan Cakka. Malah sering terjadi, Cakka menyetir mobil sendiri.

BACA JUGA :Kerennya Desain IYL-Cakka… Ini Foto-fotonya

” Mobil dinas saya ini dibeli pakai uang rakyat. Masa saya mau larang masyarakat naik di atasnya. Kata kasarnya, saya ini hanya menumpang. Pemilik mobil ini sesungguhnya masyaraka,” kata Cakka seperti dituangkan dalam buku “meniti ombak pemerintahan berbuih cacian” yang ditulis alm. Asdar Muis RMS.
Bagi Cakka, jabatan tak boleh menghilangkan identitas seseorang. Tak boleh berubah hanya karena phobia yang sebenarnya datang dari diri sendiri. Pengawalan hanya akan menciptakan sekat antara dirinya dan masyarakatnya.

“Coba kalau orang sering dengar sirine, kan sudah lumrah masyarakat jadi takut. Saya tidak mau menciptakan sekat antara saya dan masyarakat. Kalau itu terjadi, maka sulit membangun komunikasi. Mereka akan segan dan tidak terbuka. Saya tidak mau terjadi begitu. Saya memakai jasa ajudan hanya sebatas membantu saya dalam urusan dinas. Selebihnya tidak. Ada istri dan anak-anak saya yang punya tugas mengurus saya secara pribadi,” tutur Cakka.

Tak suka dikawal. Itulah realitanya. Cakka jauh dari kehidupan yang terkesan dikekang. Ia bebas, sebebas dirinya mendekati kehidupan masyarakatnya tanpa ada sekat. Tanpa ada pengawalan melekat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × five =