PALOPO — Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo bertajuk Diversifikasi dan Hilirisasi Produk Ecocomposite Limbah Sagu untuk Penguatan Ekonomi Sirkular dan Keberlanjutan Usaha Masyarakat kembali dilaksanakan di Kelurahan Jaya, Kecamatan Telluwanua, Kota Palopo.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini diketuai Dr. Ir. Budiawan Sulaeman, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., yang juga merupakan Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Andi Djemma Palopo.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut program tahun sebelumnya yang menginisiasi pemanfaatan limbah empelur sagu (LES) menjadi panel ecocomposite. Pada 2026, program dikembangkan dengan memperluas fokus pada diversifikasi produk sekaligus hilirisasi usaha masyarakat.
Melalui program ini, masyarakat tidak hanya didorong untuk mampu mengolah limbah sagu menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga dibekali pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha secara profesional agar dapat berkembang dan berkelanjutan.
Perkuat Kelembagaan Kelompok Usaha
Pelatihan perdana yang digelar pada 24 Agustus 2026 difokuskan pada penguatan kapasitas kelembagaan Kelompok Usaha Bersama (KUB).
Materi yang diberikan meliputi pengembangan bisnis melalui analisis pasar, penetapan harga, serta strategi pemasaran yang disesuaikan dengan karakteristik produk. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai manajemen keuangan dan administrasi, mulai dari pembukuan sederhana, penyusunan laporan berkala hingga pengelolaan modal usaha.
Selain itu, masyarakat diperkenalkan dengan pemasaran digital melalui pemanfaatan media sosial dan e-commerce. Peserta juga dilatih membuat konten visual serta narasi produk yang menarik dan mampu memperkenalkan keunggulan produk kepada calon konsumen.
Rangkaian pelatihan tersebut diharapkan dapat memperkuat kelembagaan KUB sebagai fondasi pengembangan usaha berbasis ecocomposite secara berkelanjutan.
Praktik Pemasaran Digital
Pelatihan kembali digelar pada 27 Agustus 2026 dengan fokus pada praktik pemasaran digital.
Setelah memperoleh pemahaman teoritis pada pelatihan sebelumnya, peserta mulai mempraktikkan digitalisasi usaha, mulai dari pemanfaatan Facebook, Instagram, dan WhatsApp sebagai media promosi hingga pembuatan konten berupa foto, video, dan narasi produk.
Peserta juga mengikuti simulasi pemasaran melalui marketplace, seperti Tokopedia dan Shopee. Dalam praktik tersebut, mereka mempelajari teknik promosi daring melalui iklan berbayar, penggunaan hashtag, serta cara membangun interaksi dengan konsumen.
Selain pemasaran, peserta diperkenalkan dengan pencatatan transaksi secara digital menggunakan aplikasi sederhana. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha memantau transaksi sekaligus perkembangan usaha secara lebih teratur.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Jaya tersebut menghadirkan Dr. Nasruddin, SE., MM., selaku anggota tim PKM, serta Muhlis Muhalim, S.Kom., M.Cs.
Tim PKM juga memberikan pendampingan dalam penyusunan rencana bisnis, pencatatan keuangan digital, strategi pemasaran, analisis harga agar produk tetap kompetitif, hingga penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Lurah Jaya, Kecamatan Telluwanua, Attriana Rumae, SE., berharap masyarakat dapat mengelola usaha ecocompositeberbasis limbah sagu yang telah dirintis sejak 2025 secara lebih profesional.
Menurutnya, digitalisasi usaha dapat membantu memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam penerapan ekonomi sirkular dan green economy.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sumber daya secara berulang, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui diversifikasi produk dan hilirisasi usaha, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga mampu berkembang sebagai pelaku usaha yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua PKM, Dr. Budiawan Sulaeman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemanfaatan potensi lokal.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga menguasai manajemen usaha dan pemasaran digital. Dengan begitu, usaha berbasis ecocomposite dapat tumbuh berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan serta ekonomi lokal,” ujarnya. (*)

