BELOPA–Gelaran kompetisi pelajar bergengsi “Student Competition: Science, Social, Sport and Art 2026” (SCIECORT 2026) yang dipusatkan di MTs Negeri 1 Luwu, Sulawesi Selatan, justru diwarnai protes keras.
Event yang berlangsung secara tatap muka (offline) sejak 4 April hingga 7 April 2026 ini memicu kekecewaan dari salah satu pihak sponsor dan peserta terkait transparansi penilaian serta profesionalitas panitia.
Sebagai informasi, SCIECORT 2026 merupakan ajang unjuk bakat bagi siswa tingkat SD/MI sederajat se-Kabupaten Luwu. Kompetisi ini memperlombakan berbagai cabang disiplin ilmu dan seni, mulai dari Olimpiade Matematika, IPA, IPS, hingga cabang seni dan olahraga seperti Vocal Group, Seni Tari, Dance Semaphore, Voli Campuran, serta cabang religi Tahfidz Al-Qur’an Juz 30.
Namun, di balik kemeriahan kompetisi tersebut, keluhan datang dari Ketua Yayasan Latansa Sinar Putri, Epi Aresih Tansal. Pihaknya mengaku sangat menyayangkan sistem penjurian, khususnya pada cabang lomba Tahfidz Al-Qur’an, yang dinilai tidak transparan.
“Penjuriannya itu tidak ada transparansi. Ketika pengumuman lomba, yang dipublikasikan hanya nama dan skor akhir saja. Tidak ada rincian aspek-aspek penilaian yang dibuka ke publik,” ujar Epi Aresih, Senin (6/4/2026).
Epi menekankan transparansi nilai sangat krusial bagi pihak sekolah dan yayasan untuk melakukan evaluasi terhadap kemampuan siswa maupun metode pengajaran guru.
“Yang kami maksud di sini adalah rincian nilainya, seperti kelancaran lafaznya, hukum tajwidnya, hingga iramanya. Hal-hal yang bersangkutan dengan lomba tahfidz itu tidak ada, langsung ‘bulat-bulat’ skor total yang dipublikasikan di grup WhatsApp. Kami tidak bisa mengevaluasi anak-anak kami kalau data pembandingnya tidak menyeluruh,” tegasnya.
Selain persoalan transparansi nilai, kekecewaan mendalam juga diutarakan Epi terkait komitmen panitia terhadap kesepakatan sponsor.
Diketahui, panitia SCIECORT 2026 menawarkan beberapa kategori kemitraan, salah satunya adalah Paket Platinum dengan kompensasi sebagai berikut:
– Pencantuman nama/logo brand di banner kegiatan dan unggahan Instagram OSIM.
– Penyebutan nama brand oleh MC secara berkala.
– Undangan khusus sebagai tamu kehormatan pada pembukaan acara.
– Pencantuman logo brand di sertifikat resmi peserta.
Yayasan Latansa Sinar Putri tercatat mengambil porsi Paket Platinum tersebut. Namun pada realisasinya, pihak yayasan merasa dirugikan karena salah satu poin krusial, yaitu pencantuman logo pada sertifikat, dibatalkan secara sepihak oleh panitia melalui pesan singkat.
“Panitia tiba-tiba mengirim pesan WhatsApp yang isinya, ‘Mohon maaf Ibu, kami tidak memuat logo Ibu dikarenakan banyaknya sponsor di dalam kegiatan.’ Kami tentu merasa keberatan. Kami diminta mengerti dan memaklumi, padahal ini adalah kesepakatan di awal (akad),” beber Epi.
Ia menegaskan protes ini dilayangkan bukan tanpa dasar, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban lembaga. “Kami ini yayasan berbadan hukum dan berhak untuk bersuara ketika ada hak-hak komersial yang tidak dipenuhi sebagaimana mestinya,” tutup Epi penuh harap agar ada itikad baik dan evaluasi menyeluruh dari pihak panitia penyelenggara.
PT Bosowa Berlian Motor Palopo Gelar Showroom Event New XForce HEV, Konsumen Bisa Test Drive
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia SCIECORT 2026 maupun pihak sekolah MTs Negeri 1 Luwu belum memberikan rilis resmi terkait klarifikasi atas keluhan dan protes yang dilayangkan oleh pihak Yayasan Latansa Sinar Putri. (Wahdi)

