Kode Etik Wartawan Koran Seruya

WARTAWAN (jurnalis) yang bekerja di Harian KORAN SeruYA senantiasa tunduk dan patuh terhadap kode etik jurnalistik sebagai sebagai petunjuk mengenai etika yang harus dimiliki setiap wartawan KORAN SERUYA dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Kode etik jurnalistik ini berlaku bagi seluruh wartawan KORAN SERUYA yang bernaung dibawah PT Wisnu Aditya Intermedia Palopo.

Adapun kode etik jurnalistik yang telah disusun dan disepakati bersama, bertujuan agar wartawan selalu dituntut untuk bertanggung-jawab dalam bekerja, terutama saat menulis berita. Dalam hal ini, berita yang dibuat wartawan merupakan berita yang memenuhi kebutuhan pembaca dan dapat mengedukasi, bukan berita yang sengaja dibuat untuk kepentingan kelompok tertentu. Maka dari itulah, untuk memastikan bahwa tugas dilakukan dengan benar, seorang wartawan dibatasi oleh Undang-undang Pers No 40 tahun 1999.

Kode etik wartawan KORAN SERUYA ini menyadur kode etik jurnalistik yang ditetapkan Dewan Pers sesuai Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008./Tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers.

BERIKUT 10 KODE ETIK WARTAWAN KORAN SERUYA

1. BERSIKAP INDEPENDEN
Wartawan KORAN SERUYA dalam bekerja dituntut independen, yang artinya merdeka dalam bekerja, bebas dari pengaruh atau paksaan dari orang lain. Dalam dunia jurnalistik, wartawan KORAN SERUYA dituntut untuk selalu bersikap independen dalam mencari maupun mengolah berita, membuat berita apa adanya dan sesuai fakta, serta tidak akan membiarkan kehormatannya sebagai wartawan jatuh dengan menulis berita karangan oleh karena pesanan atau suap.

2. PROFESIONAL
Wartawan KORAN SERUYA senantiasa perlu memperhatikan kaidah atau aturan penulisan. Misalkan perihal sumber berita, narasumber, dan sejenisnya. Apabila dia mengutip atau mengambil berita dari situs lain, maka wartawan wajib mencantumkan sumber atau tautan sumber asli dalam berita yang ditulisnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kredibilitas berita. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara menulis berita yang baik, Anda dapat membaca artikel teknik penulisan berita dan unsur-unsur berita.

3. MENGUJI BERITA
WARTAWAN KORAN SERUYA seharusnya selalu melatih diri untuk bersikap skeptis dalam setiap informasi yang diterima. Artinya, dia tidak akan menerima informasi mentah-mentah tanpa adanya bukti yang akurat. Sehingga perlu adanya insting untuk meragukan setiap informasi apabila sumber tidak jelas. Dengan seperti ini, wartawan akan selalu haus akan kebenaran, dan sebelum membuat berita ia akan menguji informasi sampai benar-benar terbukti kebenarannya. Apabila kode etik wartawan ini dilakukan oleh setiap pembuat berita, maka tidak akan ada berita fitnah yang merugikan pihak lain.

4. JUJUR
Tugas wartawan adalah untuk menyajikan informasi yang dapat memenuhi kebutuhan pembaca. Dan setiap pembaca pasti menginginkan berita faktual yang dapat menjawab keingintahuannya. Maka dari itu, prinsip kejujuran perlu dijunjung tinggi oleh setiap wartawan KORAN SERUYA. Apabila wartawan sengaja berbohong untuk alasan apapun, maka sesungguhnya ia telah merendahkan martabatnya sebagai seorang wartawan.

5. BIJAKSANA
Wartawan KORAN SeruYA tidak hanya menyajikan/menyampaikan berita faktual, tetapi juga harus bersikap bijaksana dalam mengolah maupun mempublikasikan berita yang dibuat. Artinya, apabila berita tersebut menyangkut pihak-pihak tertentu, ia perlu memikirkan apakah berita tersebut akan merugikan pihak tersebut atau tidak apabila disampaikan kepada khalayak. Apakah berita tersebut akan mengganggu kehidupan maupun masa depan pihak tersebut.

6. TIDAK MEMANFAATKAN PROFESI UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI
Saat menjalankan tugas, wartawan KORAN SERUYA harus fokus kepada tugas dan tujuannya. Sehingga, setiap wartawan perlu diberi pembekalan akan makna profesinya agar mereka tidak akan menyalahgunakan profesi untuk kepentingan pribadi. Contoh penyalahgunaan yang kerap dilakukan wartawan akhir-akhir ini adalah suap untuk membuat macam-macam berita pesanan, melanggar lalu lintas dengan alasan sedang melakukan tugas, memotong antrean, dan lain sebagainya.

7. MELINDUNGI NARASUMBER
Salah satu fungsi kode etik jurnalistik adalah untuk melindungi narasumber. Apabila seorang wartawan mendapat berita dari narasumber, namun narasumber tersebut tidak ingin identitasnya diketahui publik, maka wartawan wajib mengikuti kesepakatan dan merahasiakan identitas narasumber tersebut. Hal ini juga merupakan salah satu hak wartawan untuk tidak mencantumkan identitas narasumber, yaitu hak tolak. Contoh lain dalam penggunaan hak tolak misalnya penentuan jangka waktu penayangan sesuai yang disepakati dengan narasumber, menjaga keterangan narasumber, dan lain sebagainya.

8. MENGHARGAI PERBEDAAN DAN KEBERAGAMAN
Kode etik satu ini sepertinya dilupakan oleh banyak wartawan akhir-akhir ini. Melihat fakta bahwa sekat semakin jelas pada kelompok yang berbeda. Dan jika diperhatikan hal ini tidak lepas dari pemberitaan media yang terkesan membesar-besarkan sesuatu yang akhirnya memancing emosi publik. Dan seakan tujuan dari pemberitaan media hanya untuk mendapat respon sebanyak-banyaknya dengan memberikan berita yang sensitif. Inilah pola pikir yang perlu dibenahi, jangan hanya demi mendapatkan perhatian audien, wartawan mengorbankan persatuan.

9. BERPEGANG PADA KEPENTINGAN PUBLIK
Berita untuk mendidik dan bermanfaat kepada masyarakat banyak. Sehingga wartawan perlu mencari topik menarik yang perlu diketahui sekaligus berguna untuk masyarakat. Misalnya, berita tentang penyakit menular yang sedang aktual, korupsi oleh pejabat publik, dan lain sebagainya.

10. BERANI MENGAKUI KESALAHAN
Mungkin dalam beberapa kesempatan wartawan bersikap teledor dan tanpa sengaja melakukan kesalahan akan berita yang dibuat. Hal ini sebetulnya wajar, namun sebagai gantinya ia juga harus bersedia mengakui kesalahan dan mau mengoreksi di hadapan publik. Sehingga, berita dapat diluruskan dan nama baik pihak yang dirugikan dapat dipulihkan.

Ditetapkan di Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan
Tanggal 17 JULI 2015