PALOPO–Pertumbuhan ekonomi Kota Palopo, Sulawesi Selatan, menunjukkan tren positif pada triwulan I 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palopo yang dirilis pada awal Juni 2026, perekonomian daerah Palopo tumbuh 8,94 persen (year on year/YoY) atau mendekati 9 persen.
“Iya, sesuai data triwulan I tahun 2026, perekonomian daerah Palopo tumbuh 8,94 persen (year on year/YoY) atau mendekati 9 persen,” kata Kepala BPS Palopo, Kepala BPS Kota Palopo Ahmad Gunawan, S.ST., M.Si, Rabu (17/6/2026).
Merujuk rilis data BPS Kota Palopo, perekonomian Kota Palopo triwulan I tahun 2026 diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp2,99 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp1,73 triliun.
Ekonomi Kota Palopo Triwulan I-2026 terhadap triwulan I-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 8,94 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 39,74 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 48,38 persen.
Ekonomi Kota Palopo Triwulan I-2026 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 5,85 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada sektor konstruksi, yaitu sebesar 35,75 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi terdalam sebesar 48,16 persen.
Ekonomi Kota Palopo Triwulan I-2026 dibanding triwulan I-2024 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 8,94 persen. Tidak semua sektor lapangan usaha tumbuh positif. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 39,74 persen, diikuti oleh Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 18,99 persen, Konstruksi sebesar 15,06 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 7,97 persen. Pada triwulan ini, terdapat pemberian THR atau gaji ke-14 bagi ASN/TNI/Polri dan Pensiunan.
Adapun jumlah lapangan usaha yang mengalami kontraksi, yaitu sebanyak lima lapangan usaha. Lapangan usaha Jasa Perusahaan mengalami kontraksi sebesar 9,83 persen, pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 5,69 persen, Jasa Pendidikan sebesar 3,17 persen, Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 2,47 persen; serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 1,79 persen.
Selanjutnya, ekonomi Kota Palopo pada Triwulan I-2026 terhadap triwulan I-2025 (y-on-y) tumbuh sebesar 8,94 persen. Pertumbuhan terjadi pada semua komponen pengeluaran. Hal ini didorong oleh konsumsi masyarakat karena momentum Hari Besar Keagamaan serta berjalannya program prioritas pembangunan pemerintah. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 48,38 persen, diikuti oleh komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 9,04 persen, Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,22 persen; serta Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 0,29 persen.
Menelisik data BPS, dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kota Palopo menunjukkan perkembangan yang relatif terjaga. Tahun 2023, misalnya, ekonomi Palopo tumbuh sebesar 4,34 persen. Tahun 2024, ekonomi Palopo meningkat menjadi 4,40 persen dan bergerak lebih tinggi ke angka 4,59 persen pada tahun 2025. Dan memasuki triwulan I tahun 2026, ekonomi Palopo nyaris menyentuh 9 persen atau menyentuh 8,94 persen.
KERJASAMA SEMUA STAKEHOLDER
Walikota Palopo, Hj Naili Trisal menyambut baik capaian pertumbuhan ekonomi Palopo. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang mendekati 9 persen pada triwulan pertama 2026 merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen daerah.
“Alhamdulillah, data yang dirilis BPS menunjukkan bahwa arah kebijakan yang kami jalankan mulai memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi yang terus membaik ini bukan hasil kerja satu pihak saja, melainkan kerja keras seluruh elemen, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat Kota Palopo,” kata Walikota Naili.
PT Bosowa Berlian Motor Palopo Gelar Showroom Event New XForce HEV, Konsumen Bisa Test Drive
Walikota Naili menjelaskan, sejak awal masa kepemimpinannya, Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo berupaya mengelola belanja daerah secara lebih efektif dan tepat sasaran agar memberikan efek berganda atau multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat.
Menurut dia, setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah harus mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, mulai dari pelaksanaan pembangunan, pengadaan barang dan jasa, hingga program-program yang melibatkan pelaku usaha daerah.
“Kami berupaya memastikan setiap rupiah belanja pemerintah dapat berputar di tengah masyarakat. Program pembangunan, belanja barang dan jasa, serta berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha lokal terus kami dorong agar memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” kata walikota perempuan pertama di Sulawesi Selatan ini.
TETAP BINA UMKM
Guru besar Universitas Muhammadiyah Palopo (UMPalopo), Prof Yusuf Qamaruddin mengapresiasi trend pertumbuhan ekonomi Kota Palopo yang mengalami peningkatan positif setiap tahunnya, termasuk pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2026 yang hampir menyentuh 9 persen sesuai rilis terbaru BPS Kota Palopo.
“BPS merilis data pertumbuhan ekonomi satu daerah itu tentu telah melakukan berbagai survei lapangan dengan berbagai variabel secara menyeluruh. Tentunya data rilis BPS itu bukan persepsi-persepsi, tetapi data-data valid melalui survei. Dan jika pertumbuhan ekonomi Palopo terus meningkat, termasuk data BPS untuk triwulan I tahun 2026 yang mencatat 8,95 persen, ini tentu saja bagus dan menggembirakan bagi daerah ini,” kata Prof Yusuf kepada KORAN SERUYA, Rabu (17/6/2026).
Wakil Rektor IV UMPalopo ini berpendapat, banyak faktor penyebab pertumbuhan ekonomi daerah mengalami pertumbuhan, salah satunya geliat ekonomi membaik tingkat UMKM. “Khusus di Kota Palopo, saya melihat usaha UMKM sangat bertumbuh pesat. Pertumbuhan UMKM yang begitu pesat ini menjadi salah satu penyumbang ekonomi membaik karena menyentuh langsung masyarakat. Kalau UMKM berkembang, maka ekonomi juga akan menggeliat dan ikut bertumbuh,” kata Prof Yusuf.
Meski begitu, mantan Direktur Pascasarjana UMPalopo ini menitip pesan kepada Pemkot Palopo agar tetap melakukan pembinaan terhadap UMKM-UMKM yang bertumbuh tersebut, terutama membina UMKM-UMKM baru. “Jika ada permasalahan yang dihadapi UMKM, misalnya pemasaran, atau permodalan, Pemkot melalui instansi terkait bisa melakukan pembinaan dan pendampingan,” katanya.
Pakar Ekonomi UMPalopo ini menilai, jika menilik trend pertumbuhan ekonomi Palopo dari tahun kedepan yang memperlihatkan data bertumbuh positif, maka capaian tersebut sebagai sinyal positif atas arah transformasi ekonomi Palopo yang semakin matang dan terintegrasi.
“Data BPS yang baru dirilis menunjukkan perekonomian Palopo secara umum mengalami perbaikan yang cukup signifikan. Ini menjadi indikasi positif bahwa secara statistik, ekonomi Palopo mampu bertahan dan tumbuh di tengah membuncahnya ketidakpastian ekonomi global,” katanya.
Dia juga menyebutkan peran kebijakan prioritas dari Pemkot Palopo dibawah kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Palopo, Hj Naili Trisal dan Akhmad Syarifuddin Daud, mulai terlihat nyata seperti pembenahan infrastruktur konektivitas jalan lintas kelurahan, peningkatan layanan kesehatan, sektor pendidikan, dan lain-lain. Dampaknya cukup luas terhadap perbaikan indikator makro ekonomi Palopo,” katanya. (cbd)

