MAKALE–Ratusan siswa dari beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dilarikan ke sejumlah rumah sakit diduga keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (3/9/2026).
Para siswa yang dilarikan ke rumah sakit sebagian besar mengalami sejumlah keluhan seperti mual, sakit perut, sakit kepala hingga muntah. Mereka kemudian dievakuasi dan mendapat perawatan di tiga rumah sakit di Makale.
Adapun pelajar yang diduga keracunan berasal dari beberapa sekolah, yakni siswa SMPN 1 Makale dan SMPN SMPN 2 Makale. Para siswa yang keracunan massal ini masih dirawat di rumah sakit, termasuk rawat jalan di rumah yang kondisinya tidak terlalu parah.
Jum, salah satu orang tua siswa yang keracunan, mengaku anaknya mengalami gejala mual, muntah, dan sakit kepala pada malam harinya, setelah Rabu siang menyantap menu MBG. “Mulai sakit tadi malam, ketika ke sekolah ternyata banyak siswa lain sakit,” kata Jum.
Kepala Dinas Kesehatan Tana Toraja, Yosefina menyebut, tidak kurang dari 136 siswa dirawat di RS, yakni RS Fatima, RS Sinar Kasih dan RSUD Lakipadada. “Data yang kami peroleh, sebanyak 25 orang dirawat di RS Fatima, 41 orang di RS Sinar Kasih, dan Lakipadada sebanyak 70 orang,” jelas Yosefina.
Dikatakan Yosefina, menu yang disantap para siswa yang mengalami keracunan massal itu, pada hari Rabu mereka menyantap menu MBG seperti ayam masak kuning, tempe goreng tepung, tumis sayur berisi labu siam, wortel dan jagung,, serta buah melon.
Selain itu Yosefina juga menjelaskan jika dapur SPPG yang tangani dari 2 sekolah tersebut adalah Dapur SPPG Batupapan 1. “Untuk penyebab/gejala keracunan pada kedua sekolah tersebut belum bisa dipastikan, sementara menunggu untuk pemeriksaan lanjut,” ungkapnya
Sementara itu, Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo membenarkan ada ratusan siswa dari dua SMP yang dirawat. Namun dia belum mau menyimpulkan penyebabnya, termasuk dugaan keracunan MBG. Dia menyatakan penyebab dugaan keracunan masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Rudy mengatakan pihaknya telah meminta petugas mengambil sisa makanan serta muntahan dari siswa untuk diperiksa dan diteliti lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa “Jadi artinya, kita belum mengatakan bahwa ini namanya keracunan itu yang bersifat segera. Artinya bisa saja dia makan makanan lain atau di rumah,” jelasnya.
Rudy menerangkan sejumlah kemungkinan masih didalami, termasuk faktor makanan lain yang dikonsumsi siswa sebelum berada di sekolah hingga air yang di minum. “Semua ini masih praduga. Makanya saya sudah perintahkan untuk mengambil sisa-sisa makanan dan muntah itu untuk kita pelajari selanjutnya,” katanya.
Rudy menjelaskan bahwa keracunan makanan tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan munculnya keluhan kesehatan. Jika diduga dipicu menu MBG sehari sebelumnya, Rudi menyebut ada jeda waktu lebih dari 12 jam sebelum siswa mengalami dampak kesehatan. “Jadi mau dibilang keracunan, sudah lebih dari 12 jam,” pungkasnya. (***)

