= 62 Varietas Durian Lokal Ikut Festival Durian Luwu Utara
SEBANYAK 62 varietas durian lokal bersaing dalam Festival Buah Durian 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Salah satu varietas durian dalam festival ini diklaim usai pohonnya lebih dari 100 tahun.
Festival Durian tersebut digelar di Jalan Andi Djemma, Kecamatan Masamba, Luwu Utara, Minggu (19/7/2026) pagi. Festival dibuka langsung oleh Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim sekitar pukul 10.00 Wita.
Mengusung slogan “Dari Kebun ke Pengunjung, Luwu Utara Unggul, Terkemuka, dan Akseleratif”, festival ini menjadi wadah promosi sekaligus upaya menggali potensi durian endemik sebagai komoditas unggulan daerah.
Nah, adapun juara festival durian Luwu Utara tahun 2026 ini, yakni juara 1 diraih Pollo Wani, juara 2 oleh Randa Tanah, dan juara 3 oleh Lunak Gariting.
Festival yang dipusatkan di kawasan Car Free Day (CFD) tersebut berlangsung meriah dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Kegiatan diawali dengan senam sehat bersama Bupati Luwu Utara, H. Andi Abdullah Rahim, S.T., Wakil Bupati H. Jumail Mappile, S.IP., M.Si., serta jajaran Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.
Festival Durian Lokal 2026 menghadirkan tiga agenda utama, yakni pameran dan penjualan durian segar yang mempertemukan petani dengan konsumen secara langsung, coaching clinic budidaya durian sebagai sarana edukasi bagi petani, serta kontes durian terbaik yang diikuti sekitar 62 varietas durian lokal dari berbagai wilayah di Luwu Utara.
Kontes tersebut menghadirkan tim Durian Traveler, yakni Nur Mualif, Indra Wijaya, dan Sigit Purwanto sebagai dewan juri. Mereka melakukan penilaian berdasarkan karakteristik fisik, cita rasa, aroma, tekstur, serta keaslian varietas durian yang diperlombakan.
“Sebanyak 62 jenis durian yang ikut berpartisipasi adalah asli Luwu Utara, tidak ada satupun hasil impor atau bagaimana,” kata Andi Rahim di lokasi festival.
Dia mengatakan durian lokal sudah dari dulu dikenal enak dan banyak jenisnya. Namun beberapa jenis durian kurang terekspos dan hanya dinikmati oleh masyarakat Luwu Raya. “Bahkan ada durian yang ikut lomba usia pohonnya lebih dari 100 tahun, itu menandakan sejak dulu durian kita telah dibudidaya,” bebernya.
Dia menuturkan durian musang king dulunya hanya dikenal di Malaysia. Namun karena dipromosikan akhirnya dikenal masyarakat luas hingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
“Kami harap durian lokal kita mampu selevel dengan musang king dan duri hitam, walaupun saat ini kita sudah punya unggulan yakni pollo suso dan setelah festival insyaallah ada varian baru,” katanya.
Andi Rahim berharap festival ini dapat memacu semangat para petani untuk terus membudidayakan durian. Dia menegaskan pemerintah daerah akan terus memberikan support terkait pertanian durian.
“Kami harap petani durian kita terus bersemangat, insyaallah pemerintah akan membuat perkebunan yang dimana semua jenis durian ada di sana, namanya Kebun Durian Nusantara,” pungkasnya.
Sementara itu, Tim Durian Traveler Nur Mualif mengatakan bahwa festival ini merupakan langkah strategis untuk menemukan sekaligus mengangkat potensi durian lokal Luwu Utara agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Ini adalah proses pencarian bakat untuk durian lokal di Luwu Utara. Durian akan memiliki nilai apabila kita peduli terhadap potensinya. Dulu Musang King hanya dikenal oleh kalangan tertentu, kini menjadi varietas yang mendunia dan memberikan nilai ekonomi tinggi bagi petani,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga keaslian varietas lokal dalam kontes tersebut. “Kalau saya menjadi juri, saya tidak melihat siapa pemiliknya. Jika durian itu merupakan keturunan varietas dari daerah lain, maka akan didiskualifikasi. Kita mencari varietas asli Luwu Utara yang memiliki karakter lokal, bukan hasil persilangan,” tegasnya. (***)

