Antisipasi Banjir, PUPR Palopo Fokus Normalisasi Empat Sungai

123
ADVERTISEMENT

PALOPO — Pemerintah Kota Palopo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) masih fokus melakukan normalisasi sejumlah alur sungai. Normalisasi dilakukan dengan mengeruk sedimen seperti lumpur dan pasir menggunakan alat berat.

Kepala Dinas PUPR Kota Palopo, Hasrianto, menyebut, anggaran normalisasi sejumlah alur sungai di Kota Palopo sebagian besar bersumber dari APBD Pokok 2022 dan APBD Perubahan 2022. Termasuk normalisasi sejumlah alur sungai tetap dianggarkan melalui APBD Pokok 2023.

ADVERTISEMENT

Beberapa alur sungai yang telah dikeruk menggunakan anggaran APBD Pokok 2023, seperti alur Sungai Boting di Kelurahan Boting, Kecamatan Wara sepanjang 702 meter, alur sungai Amasangan sepanjang 428 meter, Sungai Pentojangan sepanjang 350 meter, termasuk Sungai Andoli sepanjang 470 meter.

Untuk tahun 2023, Hasrianto menyebut, Dinas PUPR bekerjasama pihak Balai tetap akan fokus menormalisasi alur sungai di Kota Palopo, terutama sungai Salubattang di Kecamatan Telluwanua dan beberapa alur sungai lainnya di kota bermotto “KEBERSAMAAN” ini.

ADVERTISEMENT

” Sebagian besar sungai di Palopo memang sudah sangat layak dinormalisasi mengingat alurnya telah mengalami penyempitan akibat tertutupi sedimen. Termasuk beberapa alur sungai yang telah selesai dikeruk sebagian alurnya, tertimbun sedimen.,” katanya.

Normalisasi sejumlah alur sungai di Kota Palopo sebagai upaya Pemerintah Kota Palopo menanggulangi ancaman banjir. Alur sungai dikeruk karena mengalami pendangkalan, sehingga jika terjadi hujan lebat, sungai gampang meluap.

ADVERTISEMENT

Yenni, salah satu warga Jalan Belimbing, Kelurahan Dangerakko yang tinggal di sekitar bantaran sungai Dangerakko, mengaku senang karena alur sungai sudah dinormalisasi. Dia mengaku mulai tidak khawatir terjadi banjir karena alur sungai sudah normal.

” Kami berharap agar tanggul sungai ditinggikan demi lebih menjaga tidak terjadi banjir akibat sungai meluap,” katanya. Warga Amasangan, yang juga tinggal di bantaran sungai Amasangan, Sahbuddin Suardi, mengakui jika setelah alur sungai Amasangan dinormalisasi, wilayah sekitar Amasangan mulai aman dari banjir.

Beberapa waktu terakhir, setelah alur sungai dinormalisasi, air sungai tidak meluap. Sahbuddin Suardi menyarankan kepada pihak terkait, agar memperhatikan tanggul sungai Amasangan karena alasan sebagian besar keropos. Jangan sampai tanggul tidak diperbaiki malah ambruk.
(and/roy)

ADVERTISEMENT