Bersama Istri Mendaki Puncak Tertinggi Sulawesi: Tak Biasa Namun Luar Biasa (2)

418
Muh Nursaleh
ADVERTISEMENT

Kekhawatiranku tidak terbukti. Seolah tidak percaya, istriku dengan mudah dan tanpa kendala melewati lintasan jalur pos 2 menuju lokasi camp di hari kedua, pos 4. Padahal, inilah lintasan jalur paling menantang. Boleh dikata di sinilah para pendaki jalur timur sering ciut nyali berhadapan tanjakan panjang seharian.

******

ADVERTISEMENT

Pagi-pagi kami berkemas. Pakaian basah diremas-remas, lalu dipakai. Dinginnya serasa menembus tulang. Kulihat istriku meringis. Ia tidak terbiasa memakai pakaian basah. Kujelaskan, mendaki di musim hujan terkadang hal itu harus dilakukan. Itu untuk menghemat bawaan pakaian. Dan yang paling penting adalah beban tidak bertambah oleh kadar air di pakaian basah. Pula pakaian itu akan cepat kering oleh panas yang dihasilkan tubuh saat bergerak.

CATATAN: Muh Nursaleh*

ADVERTISEMENT

Istriku menerima sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia menahan dingin. Usai menyarap, kami berangkat. Merayap di tanjakan dengan kemiringan 45 derajat. Dari arah belakang, kulihat tangan istriku kokoh memegang akar kayu, kakinya memijak kuat di celah-celah tanah becek. Sesekali menoleh ke belakang untuk melihatku apakah telah berjalan atau belum. Beban beratku sungguh ia maklum.

Baru sejenak rehat dari tanjakan, tanjakan lain sudah menghadang. Bahkan lebih panjang. Ujung bukit yang didaki masih terus berganti. Belum menemukan bukit yang dituju. Bukit Katapu.
Bukit ini menjadi satu-satunya tempat indah melepas lelah. Hamparan jajaran pegunungan Latimojong sudah bisa terlihat dari sini jika cuaca sedang membaik. Nun jauh di bawah sana, beberapa perkampungan di wilayah Kabupaten Luwu terlihat jelas.

Sejak jalur timur dirintis 2019 lalu, Katapu oleh pendaki disebut jembatan langit. Melintas di atasnya dengan jurang dalam kiri-kanan seolah berjalan di titian. Pantaslah sebutan itu disematkan, ditambah ujung bukit yang dituju selalu ditutupi kabut tebal. Katapu menebar keindahan sekaligus menakutkan. Katapu berada di ketinggian 2130 meter dari permukaan laut (mdpl)

Semangat istriku belum berubah. Ia masih gagah berjalan di tanjakan. Satu dua kali menunduk bila pohon tumbang menghadang jalan. Lain waktu merayapi akar-akar pepohonan untuk naik ke lintasan bukit selanjutnya. Berkali-kali kusarankan untuk rehat sejenak, namun istriku berkali-kali pula menolak. Saya hanya khawatir, jangan-jangan di tengah jalan ia kehabisan tenaga karena kurangnya istirahat.

Apalagi pendakian ini pertama kali dalam hidupnya. Tak pernah sekali pun aku mengajaknya dalam kegiatan yang tergolong ekstrim seperti ini, mendaki gunung dengan begitu banyak resiko di dalamnya. Terutama penyakit ketinggian yang sering kali menyerang para pendaki.

Penyakit ketinggian adalah penyakit yang biasa menyerang pendaki gunung di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl. Hal itu dapat terjadi karena, ketika kita naik ke ketinggian tersebut, tubuh harus menyesuaikan diri dengan penurunan jumlah oksigen yang ada. Penyakit ini memiliki tiga bentuk, yaitu Acute Mountain Sickness (AMS) yang termasuk dalam kategori ringan, serta High Altitude Cerebral Edema (HACE) dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE) yang termasuk dalam kategori berat. Menurut altitude.org, setiap tahun ada pendaki yang meninggal akibat penyakit ketinggian.

Melewati pos 3 musibah terjadi. Engsel bahu kiriku terkilir saat hendak memindahkan tangan meraih akar kayu sebesar lengan orang dewasa. Nyaris saja carrier terlepas dari bahuku. Segera kukabarkan kondisi lenganku pada istriku. Ia menyarankan agar carrier dilepas, menyerahkan kepada rekan seperjalanan. Untunglah lenganku tidak parah. Aku tak lagi membawa beban. Ada rasa tidak enak ketika beban berpindah tangan.

Bukit yang sedari tadi ditunggu dan dituju akhirnya tercapai. Bukit Katapu. Keberuntungan memihak. Matahari bersinar cerah. Katapu menyuguhkan pemandangan indah. Di atas sana barisan pegunungan Latimojong kokoh membentang. Di bawah menghampar bukit-bukit hijau bertudung kabut tipis. Menari ditiup angin.

Sejenak kami melepaskan penat. Meneguk air. Menikmati cokelat kecil sambil berbincang ringan menatap ujung Katapu berselimut kabut tebal. Hanya sejenak kami di situ. Perjalanan pun kembali dilanjutkan.

Istriku masih tak kehilangan semangat melangkah. Terus berjalan. Atau lain waktu memanjat bila lintasan jalur mengharuskan itu dilakukan. Saya nyaris tak percaya istriku dengan mudah melakukan semuanya hingga kami tiba di camp hari kedua di pos 4 saat hujan seiring tirai malam pelan-pelan turun.

Di dalam tenda, aku masih membayangkan bagaimana istriku melalui lintasan jalur hari ini dengan mudah walaupun tingkat kesulitan susah diucap kata. Ia tak biasa, namun hari ini sungguh luar biasa. (***/Bersambung)

ADVERTISEMENT