PALOPO–Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Rakyat Miskin Demokratik (DPP SRMD), William Marthom menyayangkan adanya upaya provokasi dari oknum yang tidak bertanggungjawab agar Luwu Raya dan Toraja, tidak bersatu untuk mengusulkan pemekaran Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Provinsi Luwu Raya-Toraja.
Menurut William Marthom, dalam sepekan terakhir provokasi berseliweran di sejumlah platform media sosial (Medsos) yang mengatasnamakan Wija To Luwu dan Aliansi Masyarakat Toraja, dengan narasi menolak untuk bergabung dalam bingkai Provinsi Luwu Raya-Toraja adalah salah satu upaya menggagalkan pemekaran dari Provinsi Sulsel.
“Yang menyebar provokasi itu, kemungkinan besar adalah buzzer yang dibayar untuk menggagalkan perjuangan pemekaran Provinsi Luwu Raya-Toraja. Mereka ditugaskan untuk menyebarkan informasi, narasi atau opini dalam mempengaruhi persepsi publik, tentu dengan tujuan menggagalkan pemekaran,” ujar William, Kamis (12/2/2026).
Lebih lanjut aktivis SRMD ini menghimbau agar masyarakat Luwu Raya dan Toraja agar tidak terprovokasi dengan narasi yang dibangun oleh para buzzer.
“Wija To Luwu dan orang Toraja, sejak zaman dahulu hingga saat ini, selalu hidup berdampingan dengan penuh rasa kekerabatan, damai, tentram dan toleran. Apa lagi di Tana Luwu, banyak keluarga asal Toraja yang menetap dan hidup berdampingan dengan penduduk lokal, tanpa adanya gesekan karena perbedaan kultural, sosial, budaya, politik maupun soal keyakinan,” ujarnya.
Selain itu, William mengajak seluruh elemen masyarakat Tana Luwu dan Toraja untuk sama-sama bergandengan tangan mendukung dan terlibat secara aktif dalam percepatan pembentukan Provinsi Luwu Raya-Toraja agar menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) di Sulawesi.
“Karena tujuan utama pembentukan DOB adalah untuk mendekatkan pelayanan bagi masyarakat, mengakselerasi pemerataan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh komponen masyarakatnya,” sebut William.
Apa lagi, kata William, wilayah Luwu Raya dan Toraja memiliki karakteristik geografis, historis, sosial, dan kultural yang saling terkoneksi, serta memiliki potensi besar yang belum dikelolah secara optimal oleh Pemprov Sulsel selama ini.
“Tana Luwu kaya akan sumber daya alam, seperti nikel, biji besi, emas dan sejumlah mineral berharga yang belum dikelola secara optimal. Luwu Raya juga tanahnya subur sehingga dapat menjadi basis ketahanan pangan, apa lagi selama ini banyak hasil pertanian di Luwu Raya menjadi komoditas ekspor yakni, merica, cengkeh, kakao dan CPO minyak sawit. Sementara Toraja, sektor pariwisata dan adat budayanya yang sangat mempuni dan dikenal hingga kepelosok dunia. Kopi Toraja yang juga menjadi komoditas ekspor dari wilayah pegunungan tersebut, sudah mendunia,” jelasnya.
Sehingga, dengan potensi yang ada DOB Provinsi Luwu Raya-Toraja, tidak hanya menghadirkan fungsi negara terhadap rakyatnya menjadi lebih dekat, tetapi juga solusi untuk mengelolah potensi wilayah secara mandiri dan berkeadilan.
“Jadi dengan segala potensi alam dan budaya yang ada, dan dukungan sumber daya manusia secara memadai, serta modal sosial, maka Provinsi Luwu Raya – Toraja ketika menjadi DOB, akan menjadi pilot projeck andalan bagi kawasan Indonesia Timur. Dan tidak akan menjadi provinsi yang membebani negara secara ekonomi dan fiscal,” ujar William.
Jadi untuk segenap Wija To Luwu dan Toraja, mari fokus, bergandengan tangan dan satu barisan dalam perjuangan pemekaran DOB Provinsi Luwu Raya – Toraja.
“Jangan terprovokasi dengan buzzer, karena pada prinsifnya ada segelintir elit dan kelompok tertentu yang meresa diamputasi kekuasaan dan proses penjarahannya terhadap kekayaan alam di Tana Luwu dan Toraja, jika mekar dari Sulsel,” imbuhnya. (***)

