- Catatan Hari Pers Baso Akhmad
– Jurnalis senior/redaktur pamornews.com
PALOPO – Tanggal 9 Februari selalu menjadi momentum refleksi bagi insan pers. Di Tana Luwu, salah satu cerita yang paling layak disimak adalah perjalanan Chaerul Baderu, atau yang akrab disapa CBD.
Pria yang kini duduk sebagai CEO Koran Seruya ini adalah potret nyata bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup yang penuh adaptasi.
Menempa Mental di Tanah Karang
Jauh sebelum menguasai pasar media di Luwu Raya, CBD adalah petarung lapangan di Kupang, NTT. Dekat dengan garis perbatasan Timor Leste, ia terbiasa dengan isu-isu panas dan tokoh-tokoh besar seperti Xanana Gusmão. Pengalaman di “tanah keras” inilah yang membentuk insting tajamnya sebagai pemburu berita.
Namun, cinta pada tanah kelahiran membawanya pulang ke Palopo. Saat itu, ia melihat peluang di media lokal dan bergabung dengan Palopo Pos. Di sinilah debutnya mulai menggetarkan publik melalui tulisan-tulisan yang tak jarang memicu kontroversi.
Badai “Lakanude” dan Teguhnya Kode Etik
Siapa yang bisa lupa dengan rubrik “Indei Mi Te”? Melalui karakter anonim Lakanude, CBD memotret realita sosial dengan berani, bahkan vulgar. Puncaknya, sebuah pemberitaan tentang oknum perawat membuat kantornya dikepung demonstran.
Di tengah tekanan massa yang menuntut sumber berita diungkap, CBD dan jajaran redaksi memilih pasang badan. Mereka memegang teguh hak tolak demi melindungi narasumber, meski taruhannya adalah tekanan bertubi-tubi hingga berakhir di meja mediasi. Inilah fase yang disebutnya sebagai masa “pematangan”.
Melawan Arus, Menembus Digital
Setelah malang melintang di media nasional, CBD mengambil langkah berani: mendirikan Koran Seruya. Banyak yang meragukan langkah ini. Bagaimana mungkin koran baru bisa bertahan di tengah hegemoni media milik konglomerat besar?
Namun, CBD membuktikan bahwa ukuran bukanlah segalanya. Kuncinya adalah kelihaian beradaptasi.
Ketika gelombang media online menyapu media cetak, ia tidak tenggelam. Ia justru memodifikasi kapalnya. Seruya bertransformasi menjadi portal berita berbasis online dan merambah dunia audiovisual melalui Seruya TV.
Inspirasi di Hari Pers Nasional
Hari ini, Seruya eksis sebagai salah satu media paling berpengaruh di Luwu Raya. Bagi CBD, perjalanan ini bukan soal gaya-gayaan atau gagah-gagahan, melainkan tentang bagaimana seorang jurnalis harus tetap hidup di tengah perubahan zaman yang brutal.
Kisah dari Kupang hingga ke puncak manajemen Seruya ini menjadi pesan penting bagi generasi jurnalis muda: bahwa kejayaan media tidak hanya dibangun dengan tinta, tapi dengan resiliensi dan keberanian untuk terus berinovasi.
Selamat Hari Pers Nasional! (***)

