MALILI–DPRD Kabupaten Luwu Timur (Lutim) dan eksekutif di daerah itu tengah membahas rencana alokasi anggaran proyek multiyears senilai Rp800 miliar. Pembahasan tersebut mulai menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan di daerah berjuluk ‘Bumi Batara Guru’. Tidak hanya gegara dibahas tertutup, sorotan juga mencuat karena proyek multiyears yang menelan anggaran jumbo itu dinilai belum mendesak di Lutim.
Aliansi Masyarakat Luwu Timur Anti Korupsi (ALIANSI MUAK) salah satu elemen masyarakat yang menyoroti rencana alokasi anggaran proyek multiyears senilai Rp800 miliar tersebut, yang akan diplot dalam APBD Perubahan 2026.
Ketua ALIANSI MUAK, Iskaruddin secara tegas meminta DPRD Lutim menolak proyek multiyears tersebut lantaran dinilai belum mendesak dan bukan skala prioritas untuk saat ini. Apalagi anggarannya mencapai angka Rp800 miliar.
“Mestinya Pemkab Lutim fokus menuntaskan 113 program pokok yang masuk dalam KP1 Pemkab Lutim, bukan malah merencanakan proyek multiyears senilai Rp800 miliar. Anggaran yang sangat jumbo ini katanya untuk membiayai lampu jalan dan infrastruktur jalan,” kata Iskaruddin.
Iskaruddin tak menampik jika penataan lampu jalan dan infrastruktur jalan bukanlah program yang jelek. Namun dia menyarankan Bupati Lutim, Irwan Bachry Syam lebih fokus pada penuntasan janji politiknya yang tertuang dalan 113 progran perioritas yang masuk dalam KP1. “Sebab, masih banyak program janji politik belum terialisasi,” katanya.
Di DPRD Lutim, anggaran proyek multiyears senilai Rp800 miliar dibahas tertutup, pembahasannya dimulai sejak hari Rabu–Kamis lalu, 22-23 Juli 2026. Untuk sementara belum ada hasil. Kabarnya, DPRD Lutim belum tuntas membahasnya lantaran ada anggota dewab setuju dan ada juga
menolak proyek multiyears tersebut. Fraksi-fraksi di Dewan Lutim terpecah menyikapi usulan anggaran jumbo proyek multiyears tersebut.
Menurut Iskaruddin, pihaknya menilai usulan priyek multiyears tidak penting untuk saat ini bagi masyarakat Lutim. Yang lebih penting itu Pupuk Gratis Plus, Pembangunan Pabrik dan komoditi unggulan (Beras dan Merica ), Pembangunan Puskesmas Plus untuk daerah jauh dan terpencil, Pembangunan Rumah Sakit Towuti, Peningkatan Kesejahteraan guru sekolah terpencil.
“Berbagai program yang saya urai tersebut, sebagian besar adalah janji bupati yang sampai saat ini belum terealisasi. Saran saya mending difokuskan pada penuntaskan janji – janji politiknya yang sudah dituangkan dalam 113 program prioritas,” ujar Iskaruddin.
Ia menilai program multiyears itu sudah tidak adil sejak dalam pikiran si perencananya. Sebab, Iskaruddin menyebut, sesuai informasi yang dia peroleh, sebesar Rop50 miliar dari Rp800 miliar akan digunakan untuk lampu jalan, selebihnya untuk pembangunan infrastruktur jalan.
Sementara di Lutim, lanjut dia, pendapatan daerah setelah tambang adalah sektor pertanian. “Ironisnya, sektor pertanian dianggarkan hahya sekitar Rp6 miliar saja. Mestinya pemerintah harus menggenjot sektor pertanian ini agar pertanian Luwu Timur maju dan petani sejahtera,” katanya.
“Dengan anggaran Rp800 miliar itu, mestinya dialokasikan untuk pupuk gratis plus sudah bisa diwujudkan, bantuan UMKM Rp50 juta per kelompok juga bisa direalisasikan. Rumah Sakit Towuti dilanjutkan pembangunannya. Terkesan sekarang ini lain dijanji lain pula yang dikerja, ada apa ini?,” kata Iskarudin.
Untuk itu, tegas dia, ALIANSI MUAK akan tetap mengawal pembahasan proyek multiyears tersebut dan meminta DPRD menolak program tersebut. “Anggota dewan harus berkaca dengan pengelolaan keuangan daerah 2025 yang banyak sekali temuannya, bahkan ada yang berujung ke proses hukum,” kata Iskaruddin, mengingatkan. (***)

