PALOPO–Memasuki bulan April 2026, perhatian masyarakat terhadap kondisi cuaca di Indonesia kembali meningkat. Pergeseran iklim di Samudera Pasifik mulai berdampak pada Nusantara, terutama berkurangnya curah hujan dan potensi musim kemarau yang lebih panjang.
Istilah “El Nino Godzilla” pun kembali ramai dibicarakan. Meski bukan istilah resmi dari BMKG, sebutan ini digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kondisi ini dapat menyebabkan kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering. Secara sederhana, El Nino adalah pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik yang mempengaruhi pola cuaca global. Dampaknya, pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari Indonesia sehingga curah hujan menurun, terutama di wilayah selatan seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera selatan, dan Kalimantan selatan.
Dampak terbesar dirasakan sektor pertanian dan daerah yang bergantung pada hujan. Wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur berisiko mengalami kekeringan, terganggunya musim tanam, penurunan hasil pertanian, hingga krisis air bersih. Selain itu, kondisi tanah yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palopo, Irsan Anugrah mengatakan terhitung sejak April hingga Agustus mendatang Indonesia akan mengalami musim kemarau panjang.
Namun ia menyebut suatu kesyukuran bagi warga Kota Palopo yang berada pada titik center poin of celebes, berada di pusat Pulau Sulawesi yang kiranya dari berbagai kajian termasuk yang dilakukan oleh BMKG, Kota Palopo tidak berdampak.
Meski demikian, Irsan tetap mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, tinggi serat, tinggi oksidan. Kemudian yang paling penting tetap menjaga aktivitas fisik, berolahraga yang baik benar terukur dan teratur dan menggunakan masker.
Berikut sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai karena El Nino ‘Godzilla’.
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Kemenkes menyoroti bahwa minimnya hujan akan mengurangi proses “pencucian” polutan di udara. Akibatnya, partikel berbahaya dapat bertahan lebih lama di atmosfer.
Kondisi ini diperparah oleh potensi kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan kabut asap, sehingga meningkatkan risiko ISPA. Gejalanya meliputi batuk, pilek, tenggorokan kering, hingga sesak napas.
2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Mengutip dari Insideclimate News, 60 persen kasus demam berdarah selama hampir tiga bulan terjadi di wilayah yang paling terdampak dengan hujan deras tanpa henti yang dibawa oleh Siklon Yaku dan El Nino.
Perubahan pola cuaca selama kemarau tetap memungkinkan berkembangnya nyamuk pembawa virus dengue, terutama di genangan air terbatas yang tidak terkelola.
Kemenkes mengingatkan bahwa penyakit tular vektor seperti DBD tetap berisiko meningkat. Gejala umum meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot, dan ruam kulit.
3. Malaria
Selain DBD, malaria juga termasuk penyakit yang diantisipasi meningkat selama kemarau panjang. Perubahan suhu dan lingkungan dapat memengaruhi siklus hidup nyamuk Anopheles, sehingga meningkatkan potensi penularan.
Melansir dari CDC, gejala malaria dapat meliputi demam, panas dingin, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga muntah.
4. Diare
Kemenkes menegaskan bahwa kekeringan dapat menurunkan kualitas air bersih dan sanitasi. Kondisi ini membuka risiko penyebaran penyakit berbasis air, salah satunya diare.
Diare umumnya ditandai dengan buang air besar cair berulang, yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan dehidrasi serius.
5. Tifoid
Menukil dari Mayo Clinic, penurunan kualitas air juga meningkatkan risiko infeksi bakteri Salmonella typhi penyebab demam tifoid atau umum dikenal sebagai tipes.
Penyakit ini menyebar melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, dengan gejala seperti demam berkepanjangan, lemas, dan gangguan pencernaan.
6. Kolera
Seperti dilansir dari Cleveland Clinic, kolera menjadi salah satu penyakit yang diwaspadai akibat sanitasi buruk. Penyakit ini disebabkan karena bakteri vibrio cholerae (V.cholerae) yang hidup di air hangat yang agak asin atau air payau.
Infeksi ini dapat menyebabkan diare berat dalam waktu singkat dan berisiko tinggi menyebabkan dehidrasi akut jika tidak segera ditangani. Gejala lain pada penyakit ini dapat meliputi muntah, kelelahan, kram, pusing, buang air kecil sedikit, hingga detak jantung cepat.
7. Leptospirosis
Kemenkes juga memasukkan leptospirosis sebagai penyakit yang perlu diantisipasi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang dapat menyebar melalui lingkungan dengan sanitasi buruk. Mengutip dari WebMD, gejalanya dapat meliputi demam, nyeri otot, penyakit kuning, muntah, diare, hingga ruam kulit. (nada)

