MAKASSAR–Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI M Syafi’i, memastikan bahwa tidak ada korban selamat dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan.
Syafi’i mengungkapkan hal tersebut saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai ada atau tidaknya korban selamat dari kecelakaan pesawat di Sulawesi Selatan itu.
“Tidak ada. Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” ujar Syafi’i di Gedung DPR, Senayan, Jakarta,Rabu (21/1/2026).
Meski dia memastikan tidak ada korban selamat, namun demikian dia tetap berharap ada mukjizat. Syafi’i menceritakan, dulu, pernah ada pesawat yang juga mengalami kecelakaan seperti yang dialami ATR 42-500, tapi ternyata ada penumpang yang masih hidup.
Dia menyebut si penumpang itu selamat setelah sebelumnya tidak sadarkan diri atau sering disebut sebagai mati suri. “Karena pernah itu kejadian ada pesawat crash, kemudian kondisinya sama, terburai pesawatnya, tapi ternyata ada pen
Syafii menyampaikan, hingga hari keempat pencarian, Basarnas belum menemukan tanda-tanda adanya korban selamat. Namun demikian, ia menegaskan harapan tetap dijaga meski peluangnya sangat kecil. “Tidak ada (yang selamat). Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” ujar Syafii.
Sementara itu, Tim Disaster Victim Identification (DVI) berhasil mengidentifikasi salah seorang korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang merupakan pramugari atas nama Florencia Lolita, usai pemeriksaan post mortem dan ante mortem di Posko DVI, Biddokkes Polda Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Jenazah dengan nomor post mortem 62B.01 cocok dengan ante mortem nomor AM004, teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono, jenis kelamin perempuan, umur 33 tahun,” ujar Kepala Bidokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhamad Haris.
Hasil identifikasi tersebut terungkap setelah tim di Posko DVI menerima satu kantong jenazah pada Selasa (20/1) malam dan melakukan identifikasi secara cermat bersama tim DVI Pusdokes Polri, tim Iden Polda Sulsel, Tim Pusiden Polri, dan Departemen Forensik dan Medikologal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas).
“Alamat (korban) Apartemen Walk Tower A Unit 216 Bulo Gadung, Jakarta Timur. (Identifikasi) melalui sidik jari, data gigi, properti dan ciri medis,” ucapnya.
Kepala Pusident Bareskrim Polri Brigjen Mashudi menambahkan untuk Iden dilihat dari jenazah masih dalam keadaan bagus, sehingga untuk papiler yang ada yakni sidik jari masih bisa terbaca.
“Sehingga, kami sudah langsung mengambil sidik jarinya, kemudian dengan peralatan kami miliki bisa langsung membaca identitas yang bersangkutan,” tuturnya. (***)

