Kasus Keracunan Nasi Goreng TK Islam Asbary Bertambah Menjadi 20 Orang
PALOPO— Sebanyak 20 orang siswa dan guru TK Islam Asbary di Kelurahan Salekoe, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi hidangan nasi goreng, Jumat (25/9/2026). Hidangan berupa program pemenuhan gizi mandiri tersebut diketahui dimasak langsung oleh pihak yayasan sekolah di dapur internal mereka.
Hingga Sabtu (26/9/2026) malam, Dinas Kesehatan Kota Palopo mengonfirmasi 12 korban masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit, sementara 8 korban lainnya menjalani rawat jalan di rumah. Otoritas kesehatan memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian luar biasa (KLB) ini.
Peristiwa bermula saat pihak yayasan membagikan 107 kotak nasi goreng dengan lauk telur dadar dan ayam suwir dalam kegiatan rutin bulanan sekolah. Selang 1 hingga 4 jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, para siswa dan guru mulai mengeluhkan gejala serupa secara bersamaan.
Berdasarkan data medis Puskesmas Benteng, seluruh korban (20 orang) mengalami sakit kepala hebat. Gejala dominan lainnya adalah muntah-muntah, sakit perut melilit, dan diare yang masing-masing diderita oleh 18 orang. Selain itu, beberapa korban juga mengalami demam, mual, hingga sesak napas.
“Salah satu murid yang sempat dirawat di unit perawatan intensif kemarin, hari ini kondisinya sudah membaik dan telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Palopo, Irsan Anugrah, saat dikonfirmasi, Sabtu.
Para korban yang membutuhkan tindakan medis segera dievakuasi ke beberapa fasilitas kesehatan, meliputi RS Atmedika (4 orang), RS St. Madyang (3 orang), RS Mega Buana (2 orang), RS Bintang Laut (1 orang), Klinik Zam-Zam (1 orang), dan Puskesmas Benteng (1 orang).
Aparat Kepolisian Resor (Polres) Palopo kini tengah menindaklanjuti kasus dugaan keracunan massal ini. Kasat Reskrim Polres Palopo, Iptu Ridwan Parintak, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak cepat dan turun langsung ke lokasi untuk mengumpulkan keterangan.
“Kami telah turun untuk mengecek di lapangan terkait kejadian ini, perkembangan selanjutnya akan kami sampaikan lebih lanjut,” ujar Iptu Ridwan Parintak.
Polisi akan berkoordinasi dengan otoritas kesehatan untuk mendalami unsur kelalaian dalam pemrosesan makanan tersebut.
Sementara itu, hasil penyelidikan epidemiologi sementara oleh Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kota Palopo menunjukkan dugaan kuat adanya kontaminasi bakteri pada makanan. Faktor risiko utama mengarah pada proses pengolahan bahan makanan yang ditengarai sudah tidak dalam kondisi segar. Namun, tim investigasi dinas tidak dapat melakukan uji laboratorium lebih lanjut karena sampel makanan di lokasi kejadian sudah habis dan tidak tersisa saat pemeriksaan dilakukan.
Sebelumnya, Kepala Sekolah TK Islam Asbary Palopo, Irmawati, menegaskan bahwa penyediaan makanan ini murni merupakan program internal yayasan dan tidak memiliki kaitan dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihak yayasan menyatakan bertanggung jawab penuh atas insiden ini.
Atas kejadian ini, Dinas Kesehatan Kota Palopo mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan sementara aktivitas dapur yayasan serta melakukan evaluasi ketat terkait prosedur higiene sanitasi. Sementara itu,
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Palopo, Syamsu Alam, menyatakan telah menerima laporan resmi dan segera memanggil pihak sekolah untuk klarifikasi formal guna memastikan standar keselamatan pangan di lingkungan sekolah diperketat. (***)

