Laporan: Muhammad Aliah Made Aliah
KEMENPORA RI mengadakan kegiatan Training of Trainers Penggerak Olahraga Disabilitas dengan tagline ‘BERDAYA’ yang dilaksanakan di Solo Jawa Tengah, sejak 10 -13 mei 2026. Peserta berasal dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia yang jumlahnya mencapai 200 orang penyandang disabilitas dan utusan beberapa masyarakat umum dan organisasi yang bergerak di bidang olahraga disabilitas
Hari pertama kegiatan dilaksanakan di Hotel Solia Zigna Solo dengan pemaparan berbagai materi untuk pengembangan dan kemajuan Olahraga disabilitas menuju prestasi tingkat dunia, diantaranya manajemen talenta olahraga disabilitas, pemahaman dasar olahraga inklusif, public speaking strategi komunikasi dan motivasi, prinsip aktivitas fisik adaptif, tata kelola pembiayaan olahraga berbasis komunitas dan beberapa materi penting lainnya.
Selanjutnya di hari kedua, masih berbagai kegiatan diadakan. Namun para peserta terpusat pada acara pembukaan dilaksanakan di Indonesia Paralympic Training Center Delingan, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.
Acdara pembukaan diawali sambutan pertama oleh ketua umum NPC Komite Paralimpiade Indonesia, Senny Marbun. Selanjutnya sambutan kedua oleh Prof. Dr. Reda Manthovani, S.H., LL.M, yakni tidak lain Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM Intel) Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang juga menjabat sebagai Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Paralimpiade. Menteri Pemuda dan Olahraga, Republik Indonesia Erick Tohir ikut menyampaikan sambutan. Erick juga membuka kegiatan secara resmi.
Program Training of Trainers Penggerak Olahraga Disabilitas dengan tagline ‘Berdaya’ ini, menjadi program unggulan yang digelar Kemenpora untuk manajemen talenta olahraga disabilitas yang lebih maju dan unggul Kegiatan ini merupakan kerja sama Kemenpora dengan NPC Komite Paralimpiade Indonesia.
Erick Thohir mengatakan, program ini menjadi unggulan Kemenpora. “Alhamdulillah hari ini salah satu program unggulan Kemenpora telah dimulai
pembinaan atlet disabilitas membutuhkan pelatih yang kompeten. Karena itu, program TOT dirancang untuk mencetak trainer bersertifikat. Tidak mungkin ada pembangunan atlet tanpa figur pelatih yang kompeten, dan hari ini kami mencoba mensertifikasi,” kata Erick dalam sambutannya.
Eick mengatakan, sebanyak 200 peserta masih belum cukup memenuhi kebutuhan nasional. Kemenpora berencana menambah 100 peserta pada program berikutnya. “Kami berharap program ini terus ada dan berkelanjutan,” jelas Erick.
Program ini juga didorong sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Kemenpora ingin menyiapkan lebih banyak pelatih tersertifikasi. Erick menyebut, sekitar 500 atlet akan memasuki masa pensiun. Mereka diharapkan bisa dipersiapkan menjadi pelatih olahraga disabilitas.
Sementara itu, Ketua Umum NPC Komite Paralimpiade Indonesia Senny Marbun, mengapresiasi program tersebut. “Ini salah satu karya Kemenpora yang luar biasa,” katanya.
Menurut Senny, program TOT sangat strategis bagi pembinaan disabilitas. “Pembinaan bukan hanya soal prestasi, tetapi juga akses dan kesempatan,” ujar Senny/
Sementara Prof. Reda Mantovani CDm selaku NPC Komite Paralimpiade Indonesia, mengatakan,”Kami telah meluncurkan program ‘jagain juara. com’. Dari website ini telah terdata atlet disabilitas dengan berbagai kategori prestasi di seluruh Indonesia. Program ‘jagain juara’ juga telah kami sampaikan kepada Kejaksaan di seluruh Indonesia agar bagaimana bisa melakukan pendampingan hukum dan pendanaan terhadap atlet disabilitas di daerah.”
Ketua NPC Komite Paralimpiade Indonesia Kota Palopo Muhammad Aliah Made Ali yang juga hadir bersama dua utusan dari provinsi Sulawesi Selatan mengatakan, program ini adalah sebuah langkah awal bagi kemajuan olahraga disabilitas di daerah.
“Kami siap kembali ke daerah dan menerapkan ilmu yang kami dapatkan hari ini. Kami optimis ini adalah sebuah tanda langkah maju bagi dukungan berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah untuk kemajuan olahraga disabilitas di kabupaten/kota seluruh Indonesia,” kata Aliah. (***)

