BELOPA–Ratusan massa dari gabungan elemen mahasiswa, pemuda dan warga di Kabupaten Luwu memblokade pintu gerbang Kabupaten Luwu di Batulappa, Kecamatan Larompong Selatan, tepatnya perbatasan Kabupaten Luwu dengan Wajo. Aksi unjukrasa menyuarakan pembentukan Provinsi Luwu Raya ini mulai berlangsung pukul 15:00 Wita, Minggu sore, 8 Februari 2026.
Massa berdatangan dari berbagai arah di Luwu mengendarai sepeda motor dan kendaraan roda empat. Massa berkonvoi dari arah Kota Belopa, kemudian menyatu di perbatasan Luwu-Wajo. Sepanjang jalan berkonvoi, massa bergantian berorasi menyuarakan aspirasi masyarakat Luwu menuntut pemekaran daerahnya jadi provinsi. “Aksi ini tidak akan berhenti sampai Tanah Luwu mekar jadi provinsi,” ujar salah satu warga dalam orasinya.
Yang menarik dalam aksi unjukrasa akbar ini, massa membawa keranda mayat bertuliskan ‘Gubernur Sulsel’. Keranda mayat itu ditempatkan di ruas jalan persis didepan pintu gerbang Luwu-Wajo yang telah diblokade hingga kendaraan dari dua arah tidak bisa melintas.
“Kami mengecam Gubernur Sulsel yang telah mengkhianati aspirasi Wija To Luwu untuk memekarkan daerahnya jadi Provinsi Luwu Raya. Kami menyatakan demokrasi mati untuk Bapak Gubernur Sulsel,” kata salah satu pendemo dalam orasinya.
Aksi blokade jalan Trans Sulawesi poros Luwu-Wajo ini langsung memacetkan ratusan kendaraan, terutama truk dan kendaraan besar lainnya. Aksi ini dikabarkan akan berlangsung selama beberapa hari sampai aspirasi didengar Presiden RI, Prabowo Subianto.
Tak hanya di perbatasan Luwu-Wajo, aksi yang sama berlangsung di Desa Bakka, Kabupaten Luwu Utara, Minggu (8/2/2026). Aksi unjukrasa di Luwu Utara bahkan berlangsung di dua titik, yakni di jalan poros Desa Bakka dan di kawasan Monumen Masamba Affairs, kawasan Bandara Andi Djemma Masamba.
Dikabarkan, aksi menyuarakan pembentukan Provinsi Luwu Raya juga akan digelar di perbatasan Kota Palopo dengan Kabupaten Luwu, tepatnya di poros Sampoddo, Minggu sore, 8 Februari 2026. (***)

