PALOPO–Sebanyak 14 siswa SD Negeri 1 Lalebbata, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Seleksi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten.
Dari lima cabang lomba yang diikuti, perwakilan sekolah ini berhasil meraih kemenangan di empat kategori, membuktikan kualitas bakat dan bimbingan yang diberikan institusi pendidikan tersebut.
Cabang lomba yang diikuti para siswa meliputi gambar bercerita, seni tari, nyanyi solo, penulisan cerita, dan kriya. Adapun Juara satu untuk kategori gambar bercerita dan penulisan cerita pendek, serta juara dua dan juara tiga dari cabang nyanyi solo.
“Alhamdulillah, dari lima lomba yang diikuti, empat di antaranya berhasil membawa pulang penghargaan. Ada juara satu gambar bercerita, juara satu menulis cerita pendek, lalu juara dua dan juara tiga dari lomba nyanyi solo,” ungkap Guru SD Negeri 1 Lalebbata, Etty Ristiana Anggraeni.
Pencapaian ini memiliki makna khusus bagi sekolah, mengingat ajang ini merupakan babak penyisihan menuju kompetisi tingkat nasional.
Menurut Etty, keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri karena anak-anak didikannya mampu bersaing dan unggul di tahap awal meskipun persaingan cukup ketat.
“Kali ini menjadi kebanggaan besar bagi sekolah kami. Putra-putri kami mampu menjuarai ajang yang menjadi jalan menuju tingkat nasional, meskipun saat ini baru berada di tahap penyisihan tingkat kabupaten,” lanjutnya.
Diketahui, para siswa yang meraih juara satu berhak mewakili daerah untuk berlaga di ajang FLS3N tingkat provinsi. Pihak sekolah pun berkomitmen untuk memaksimalkan persiapan dan memohon dukungan doa dari seluruh warga sekolah maupun masyarakat luas.
“Ke depannya, kami harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Juara satu tingkat kabupaten akan maju mewakili ke tingkat provinsi. Mohon doa restu dari semua pihak, semoga anak-anak kami bisa memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama sekolah serta daerah,” harap Etty.
Keberhasilan ini, menurut Etty, tidak diraih secara kebetulan semata. Sekolah menerapkan sistem pembinaan yang terstruktur, baik melalui pembelajaran langsung di kelas maupun penugasan mandiri yang tetap diawasi ketat oleh tenaga pendidik.
Selain peran guru, dukungan orang tua menjadi kunci utama yang membuat program pembinaan ini berjalan efektif dan membuahkan hasil.
“Kami tidak mengandalkan bakat saja, melainkan melaksanakan pembinaan berkelanjutan, baik secara langsung maupun melalui penugasan yang tetap kami pantau. Yang paling krusial adalah kerja sama dengan orang tua. Pembinaan di sekolah tidak akan maksimal dan cukup jika tidak didukung penuh oleh perhatian serta dukungan dari keluarga di rumah,” tegas Etty. (Wahdi)

