Merantau dari Pelosok NTT dan Tinggal di Panti Asuhan, Akhirnya Meraih Mimpi Jadi Sarjana di IAIN Palopo

1133
ADVERTISEMENT

INSTITUT Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo, mewisuda ratusan sarjana, hari ini. Salah seorang diantaranya bernama Ayub Sadega. Ayub tak henti-hentinya menebarkan senyum. Bahagia terpancar dari wajahnya yang sedikit dekil.

Walaupun acara sakral itu tak dihadiri oleh orang tua ataupun keluarga dekatnya.
Ayub berhasil meraih mimpinya menjadi sarjana. Hanya segelintir yang tahu, bagaimana kisah dan perjuangannya menyelesaikan pendidikanya. Di Palopo, Ayub adalah penghuni tetap di salah satu panti asuhan. Sejak merantau Ayub sama sekali tak pernah mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya.

ADVERTISEMENT

Nun jauh di Desa Matawae, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, orang tuanya ‘hanya’ mengirimkan lantunan doa -doa di setiap salatnya. Semoga sang anak menggapai impiannya. Lebih dari mereka yang hanya bertani. Ayub ditempa menjadi seorang pejuang hidup sejak usianya masih belasan tahun.

Selepas SD ia langsung dikirim ke pondok pesantren Darul Hikmah di Nusa Tenggara Barat. Dari kampungnya menggunakan kapal laut. Selepas dari pesantren, bukannya pulang kampung, Ayub memilih kabur. Ia diajak kerja ke Makassar. Ayub kecil menjadi buruh. Upahnya hanya cukup untuk bertahan hidup.

ADVERTISEMENT

Beberapa bulan di Makassar, ia berangkat ke Palopo tahun 2013 lalu. ” Ada teman dari kampung yang tinggal di Panti Asuhan. Dia mengajak saya ke Palopo,” katanya. Oleh pembinanya di Panti Asuhan, Ayub kemudian didaftarkan ke MAN Palopo. Selama bersekolah, Ayub dua kali pindah tempat. Awalnya di Panti Asuhan Muhaimin kemudian ke Panti Asuhan Nur Ilahi.

Tahun 2016, ia menamatkan sekolahnya. Tak ada pikirannya sama sekali untuk melanjutkan pendidikanya ke jenjang lebih tinggi. Ayub lebih memilih menjadi karyawan di salah satu toko bangunan di Kota Palopo. Banyak yang mendorongnya untuk kuliah. Tapi, ia sadar biaya kuliah mahal bagi dirinya.

ADVERTISEMENT

” Karena dorongan begitu kuat, saya pun akhirnya berani mendaftar kuliah di Kampus IAIN Palopo. Tak jauh dari panti asuhan tempat saya tinggal,” kata lelaki kelahiran 1 Juli 1998 ini.

Ayub pun diterima di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah jurusan Bimbingan Konseling Islam IAIN Palopo. Pekerjaan sebagai karyawan toko tak ditinggalkannya. Ia melakoni kuliah sambil kerja. Demi membayar uang kuliah dan kebutuhan lainnya.Tak jarang, Ayub ke kampus tanpa mandi demi mengejar jam kuliah. Debu semen dan karat besi kadang masih menempel di tangannya.

Selama menjadi mahasiswa ia tak minder. Sejumlah organisasi di kampus diikutinya. Ia terpilih menjadi Ketua PMII komisariat IAIN Palopo tahun 2019-2020.

Dengan pengalamannya sebagai aktivis di kampus, Ayub pun menjadi reporter magang di Koran SeruYA. Hingga menyelesaikan pendidikannya. Ia bahagia walaupun masa pendidikannya terbilang lama. Enam tahun empat bulan. IPK-nya cukup memuaskan, 3,23.

” Banyak orang baik di Kota Palopo. Tanpa bantuan mereka saya takkan sampai dititik ini. Terima kasih atas segalanya,” katanya. Ia berencana seminggu setelah wisuda, akan pulang ke kampungnya. Mempersembahkan, ijazah sarjana dan gelar S.sos bagi kedua orangtuanya. (*)

ADVERTISEMENT