– Hasrullah: Rapatkan Barisan Bersama Toraja Bentuk Provinsi Baru

PALOPO–Pengamat dan pakar politik Unhas, Dr Hasrullah MA, meminta Wija To Luwu yang saat ini tengah memperjuangkan pemekaran daerahnya menjadi Provinsi Luwu Raya agar merapatkan barisan. Termasuk adanya keinginan dua kabupaten di Toraja, yakni Tana Toraja dan Toraja Utara bergabung dalam bingkai provinsi baru di Sulawesi itu, yang tengah diperjuangkan di tengah moratorium pembentukan DOB masih berlaku, patut disambut positif.

“Perjuangan pembentukan DOB Luwu Raya, apalagi Toraja bergabung, harus terus diperjuangkan dan rapatkan barisan,” kata Hasrullah via telpon di Makassar kepada KORAN SERUYA, Selasa (24/2/2026).

Hasrullah mengakui, kian kuatnya keinginan Wija To Luwu memperjuangkan daerahnya pisah dari provinsi induk, Sulawesi Selatan, termasuk adanya niat dari Toraja dan Toraja Utara bergabung, disebabkan banyak faktor. Salah satunya, kebijakan pemerintah induk dalam membagi kue pembangunan tidak adil dan cenderung menyepelekan wilayah yang berada paling ujung di Sulsel itu.

“Saya melihat, akar masalahnya karena kue pembangunan yang tidak merata, terutama terkait pembangunan infrastruktur. Ada ketidakadilan dalam pembagian kue pembangunan ke Tanah Luwu dan Toraja, sehingga muncul keinginan untuk mekar dalam bingkai provinsi baru. Kondisi ini sudah berlangsung lama,” kata Hasrullah.

Tanah Luwu dan Toraja adalah daerah kaya potensi sumber daya alam di Sulsel. Bahkan, daerah tersebut jadi penyumbang PAD terbesar di Sulsel. “Kenyataannya, dalam pembagian kue pembangunan, justru daerah berkonstribusi besar cenderung disepelekan. Ini akar masalahnya,” katanya.

Akar masalah lainnya, sebut Hasrullah, keterwakilan SDM dari Tanah Luwu dan Toraja dalam struktur kekuasaan di Sulsel, terutama di pemerintahan, juga menimbulkan kekecewaan. Sebab, keterwakilan dua daerah itu di birokrasi Sulsel sangat minim. “Keterwakilan daerah harus terbagi merata. Bukan hanya dari daerah tertentu yang mendominasi di birokrasi Sulsel. Inilah yang memicu ketidakpuasaan, bahkan jadi konflik yang berkepanjangan akibat terjadi ketidakadilan,” kata Dosen Komunikasi Fisip Unhas ini.

Yang menarik, Hasrullah secara terang-terangan menyebut, Gubernur Sulsel, Andi Sudirman telah melukai hati masyarakat di Tanah Luwu, atau akrab disebut Wija To Luwu. “Pemimpin di Sulsel jangan asal bicara. Jangan melontarkan pernyataan yang bisa menyakiti rakyat,” katanya, mengingatkan.

Mestinya, saran Hasrullah, Gubernur Andi Sudirman lebih peka terhadap gejolak yang muncul di Tanah Luwu terkait keinginan memekarkan daerahnya jadi provinsi. “Bukan melontarkan kata-kata dengan diksi yang tidak beretika, tidak pantas dan tidak masuk akal. Mestinya ke Tanah Luwu duduk bersama dengan pemangku kepentingan, bersilaturahmi dan menyelami aspirasi Wija To Luwu. Bukan malah melontarkan pernyataan ada yang mau keluar dari Indonesia. Pernyataan ini sudah melukai orang Luwu dimana saja berada,” tandas Hasrullah.

Karena itu, ujar Hasrullah, keinginan masyarakat Tanah Luwu, termasuk Toraja yang berkeinginan bergabung dalam bingkai Provinsi Luwu Raya, bukanlah kesalahan Wija To Luwu. Melainkan, tandas Hasrullah, kesalahan pemimpin di Sulsel ini. “Sulsel butuh pemimpin yang bisa mengayomi, bukan pemimpin yang pas-passan. Berbagai kesalahan pemimpin di Sulsel ini terhadap masyarakat Tanah Luwu dan Toraja harus dipertanggungjawabkan,” tandas Hasrullah.

Kedepan, yang menarik, Hasrullah meminta siapapun yang berkeinginan menjadi pemimpin di Sulsel, atau pemimpin di Sulsel saat ini, wajib membaca buku mantan Gubernur Sulsel, Ahmad Amiruddin. “Judul bukunya, Nahkoda dari Timur. Kalau mau belajar jadi pemimpin di Sulsel, saya rekomendasikan baca buku ini supaya bisa jadi pemimpin mengayomi seluruh lapisan masyarakat. Pemimpin milik seluruh suku, etnis dan agama. Dan yang terpenting, tidak asal bicara dan jadi pemimpin pas-pasan,” katanya. (***)