= Kiprah Kepala SMPN 6 Palopo, Sahabuddin

Sejak menjabat pada tahun 2021, Sahabuddin, Kepala SMP Negeri 6 Palopo, menghadapi beragam tantangan dalam membangun kembali citra sekolah yang sempat dikenal sebagai tempat “anak-anak nakal”. Melalui kedisiplinan, pendekatan humanis, dan dukungan luar biasa dari para guru, kini sekolah yang berlokasi di Kecamatan Mungkajang itu bertransformasi menjadi sekolah yang berprestasi dan lebih tertib.

Sahabuddin mengenang saat pertama kali memimpin, ia mendapati kondisi sekolah yang cukup memprihatinkan. Banyak siswa yang kerap bolos, melompat pagar, dan merokok di sekitar lingkungan sekolah. Ia menyebut, situasi itu menjadi tantangan besar yang harus segera dibenahi. Dalam waktu sekitar enam bulan, berkat kerja sama semua guru dan pendekatan yang konsisten, kebiasaan negatif siswa mulai berkurang drastis.

Untuk menekan angka pelanggaran, pihak sekolah membangun komunikasi aktif dengan masyarakat sekitar. Sahabuddin menjelaskan bahwa nomor telepon guru dan pihak sekolah dibagikan kepada warga agar bisa segera melapor jika ada siswa terlihat bolos di lingkungan mereka. Ia bahkan kerap turun langsung ke lapangan, berkeliling ke lorong-lorong untuk menertibkan siswa yang tidak masuk sekolah.

Perubahan itu berdampak positif terhadap kedisiplinan dan citra sekolah. Warga sekitar kini mulai melihat SMP Negeri 6 Palopo sebagai sekolah yang tertib dan aman. Ia menegaskan, dukungan seluruh guru menjadi faktor utama keberhasilan tersebut. Menurutnya, ketika semua guru ikut bertanggung jawab, tidak ada pekerjaan yang terasa berat.

Dalam hal prestasi, sekolah juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sejumlah siswa berhasil meraih juara dalam berbagai lomba seperti OSN, O2SN, dan FLS2N, baik di tingkat lokal maupun provinsi. Tim olahraga futsal SMP Negeri 6 Palopo bahkan menjadi salah satu yang paling diperhitungkan di Kota Palopo.

Meski begitu, Sahabuddin tidak menampik bahwa perjalanan membawa perubahan di sekolah itu penuh suka duka. Mantan tenaga pendidik di SMP Negeri 3 Palopo tersebut mengakui sempat menghadapi perlawanan dari siswa ketika mulai menerapkan aturan ketat, bahkan tak jarang menerima cibiran. Namun, ia menilai semua itu adalah bagian dari risiko sebagai seorang pemimpin.

Kini, setelah 4 tahun memimpin, perubahan besar terlihat. Jumlah pendaftar siswa baru terus meningkat setiap tahun. Terbukti dari lima rombongan belajar menjadi delapan untuk kelas VII. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah juga meningkat, sehingga para guru kini dapat memenuhi jam mengajar tanpa harus mencari tambahan di luar.

Kini, setelah empat tahun memimpin, perubahan besar terlihat. “Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah semakin meningkat cukup signifikan. Terbukti dari sebelumnya hanya 5 rombongan belajar untuk kelas 7, kini bertambah menjadi 8 rombel, sehingga para guru kini dapat memenuhi jam mengajar tanpa harus mencari tambahan di luar,” kata Sahabuddin.

Sahabuddin yang telah mengabdi di dunia pendidikan sejak tahun 1989 itu mengaku bersyukur melihat perkembangan sekolah yang kini semakin maju. Ia berharap masyarakat tak lagi memandang SMP Negeri 6 Palopo sebagai sekolah yang bermasalah, tetapi sebagai tempat yang melahirkan siswa-siswa berkarakter dan berprestasi.

“Kalau dulu sekolah ini dikenal sebagai tempat anak-anak nakal, sekarang kami buktikan bahwa SMP Negeri 6 Palopo adalah sekolah anak-anak berprestasi,” tuturnya menegaskan semangat perubahan. (zul)