PALOPO – Bagi pengusaha ultra mikro, tantangan untuk memiliki usaha yang stabil atau bahkan berkembang naik kelas sering kali tidak berhenti pada akses permodalan. Di banyak daerah, keterbatasan edukasi, pelatihan, dan pendampingan usaha juga menjadi hambatan yang membuat potensi ekonomi masyarakat belum berkembang secara optimal.

Karena itu, kehadiran program pemberdayaan yang tidak hanya memberi bantuan, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan, menjadi penting agar usaha kecil dapat berjalan lebih berkelanjutan.

Mendukung maksud tersebut, PNM Peduli, melalui Cabang Palopo menyalurkan bantuan berupa 58 log atau gelodok sarang lebah Trigona serta 116 pohon tanaman penunjang jenis Xantostemon kepada kelompok nasabah di Desa Meipi, Luwu Utara, Kamis (7/5/2026).

Bantuan ini diberikan sebagai upaya mendorong pemberdayaan berbasis potensi lokal, sekaligus memperkenalkan kegiatan usaha yang ramah lingkungan melalui budidaya lebah Trigona atau lebah kelulut.

Desa Meipi dipilih karena memiliki kondisi alam yang masih asri dan vegetasi yang mendukung pengembangan budidaya lebah Trigona. Lebah tanpa sengat ini dikenal menghasilkan madu berkualitas dengan kandungan propolis, serta memiliki pola perawatan yang relatif mudah dipelajari oleh pemula. Dalam pelaksanaannya, bantuan sarana budidaya turut dilengkapi dengan pendampingan kepada nasabah, mulai dari edukasi perawatan lebah, teknik pemanenan madu agar kualitas tetap terjaga, hingga pengenalan strategi pemasaran hasil produksi.

Salah satu penerima manfaat menyampaikan bahwa bantuan dan pendampingan tersebut membuka wawasan baru bagi nasabah untuk mengembangkan sumber penghasilan dari lingkungan sekitar. “Kami senang sekali bisa belajar budidaya lebah Trigona. Awalnya kami belum tahu cara merawat dan memanen madunya, tapi setelah didampingi, kami jadi lebih paham. Semoga ke depan hasilnya bisa membantu menambah pendapatan keluarga,” ujarnya.

Pemimpin PNM Cabang Palopo, Eka Pradana, mengatakan bahwa budidaya lebah Trigona dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang baik, dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan sekitar rumah, dan sejalan dengan potensi lingkungan Desa Meipi. “Melalui program ini, kami ingin nasabah memiliki tambahan keterampilan dan peluang usaha baru. Pendampingan menjadi bagian penting, agar bantuan yang diberikan tidak berhenti sebagai sarana, tetapi benar-benar dapat dikelola dan memberi manfaat bagi keluarga nasabah,” ujar Eka.

Eka menambahkan, pengembangan budidaya lebah Trigona juga diharapkan dapat memperkuat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas di wilayah Luwu Raya. Selain membuka peluang peningkatan pendapatan melalui produksi madu, kegiatan ini turut mendorong kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, usaha kecil yang tumbuh dari halaman rumah diharapkan dapat menjadi langkah sederhana menuju kemandirian ekonomi keluarga. (illa)